Nusaibah binti Kaab, Prajurit Perempuan Perisai Rasulullah Saw

perisai rasulullah

Pecihitam.org – Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah, seorang perempuan yang gagah berani, banyak jasa yang telah dia ukir dalam berjuang dan perjuangkan dakwah Islam. Dia biasa dipangil Ummu Umarah, sebagai salah satu contoh keberanian yang abadi bahkan dijuluki perisai Rasulullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nusaibah binti Ka’ab merupakan sosok pahlawan yang tidak pernah absen melaksanakan kewajiban apabila ada panggilan untuknya, semua perjuangannya ditujukan untuk kemuliaan dunia dan akhirat.

Ummu Umarah adalah seorang sahabat perempuan yang agung dimana ia termasuk satu dari dua wanita yang bergabung bersama 70 pasukan laki-laki dari kaum Anshar yang hendak berbaiat kepada Nabi Muhammad SAW dalam baiat aqobah kedua. Ketika itu Ummu Umarah berbaiat bersama suaminya yang bernama Zaid bin Ashim dan dua orang putranya.

Kisah Nusaibah binti Ka’ab yang paling dikenang sepanjang sejarah ialah ketika Perang uhud, dimana dia dengan segenap keberanian jiwa dan raga membela dan menjadi perisai untuk melindungi Rasulullah. Pada perang tersebut Nusaibah berada pada bagian yang mengatur logistik serta medis. Bersama wanita lainnya dia mengemban tugas, memasok air kepada para prajurit Muslim juga turun untuk mengobati pasukan yang terluka.

Namun ketika itu kaum Muslimin juga dilanda kekacauan dimana para pemanah di atas bukit melanggar perintah Rasulullah SAW. Nyawa Rasulullah dalam keadaan bahaya dan terancam, Nusaibah melihat Rasullah menangkis serangan musuh sendirian. Nusaibah dengan cekatan dia ambil senjata dan bergabung dengan pasukan perang yang turun kemedan perang dan melindungi rasulullah.

Baca Juga:  Muhaddits Wahabi, Syekh Al-Albani Sederajat dengan Imam Bukhari?

Ketika itu Nusaibah berperang dengan penuh keberanian dan tidak menghiraukan diri sendiri ketika membela Rasulullah, padahal ketika itu Nusaibah dalam keadaan luka yang tidak sedikit di sekujur tubuhnya, kira-kira ada sekitar 12 goresan pedang yang mengenai tubuhnya. Dengan luka yang parah dileher naun Nusaibah tidak mengeluh, mengadu ataupun bersedih.

Ketika Rasulullah melihat luka Nusaibah beliau bersabda: “wahai Abdullah (putra Nusaibah) balutlah luka ibumu! Ya Allah jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga.” mendengar do’a Rasulullah Nusaibah tidak lagi menghiraukan luka di tubuhnya dan terus berperang membela Rasulullah dan Agama Allah, dan dia berujar “aku telah meninggalkan urusan duniawi.”

Begitupun ketika anaknya Abdullah mendapatkan luka dan darahnya mengalir deras, Rasulullah bersabda: “balutlah lukamu!” Ummu Umarah mendengar ucapan Rasulullah kemudian dia mengambil perban yang digantungkan di perutnya, kemudian ia balut luka anaknya setelah itu ia berkata kepdapa Abdullah anaknya itu:

“Bangkitlah, gempur musuh-musuh itu!.” apa yang dilakukan Ummu Umarah memanglah suatu bentuk kegigihan seornag perempuan yang tidak semua perempuan dapat melakukannya.

Hingga Rasulullah bersabda kepadanya “siapa yang dapat melakukan apa yang telah engkau lakukan Ummu Umarah?.” dan tidak lama setelah itu Rasulullah melihat orang yang telah melukai abdullah anak Ummu Umarah, kemudian nabi menuding orang tersebut bahwa dialah yang sudah melukai anak Nusaibah.

Baca Juga:  Nusaibah binti Ka’ab, Wanita Prajurit Perang Kaum Muslimin

Setelah itu Nusaibah mendekati orang tersebut dan dia memukul betisnya, musuh pun jatuh tersungkur, dan kemudian Nusaibah menuntaskannya dengan membunuh musuh itu. Hingga pada suatu ketika perang sedang berlangsung para prajurit merasa takut dan meninggalkan Rasulullah di tengah medan pertempuran, dan hanya tinggal sekitar 10 orang yang bertahan termasuk Nusaibah, suaminya beserta anak-anaknya.

Kemudian mereka melindungi Rasulullah dengan berdiri didepan beliau sebagai beteng agar beliau tetap aman, namun Rasulullah melihat Nusaibah tidak membawa perisai, dan beliau memerintahkan prajurit yang lain untuk melemparkan perisainya dan nusaibah pergunakan untuk melindungi Rasulullah.

Menurut riwayat bahwa Nusaibah adalah orang yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingannya sendiri, dia juga dikenal sebagai wanita yang memiliki kesabaran luar biasa. Ketika salah seorang putranya Syahid di medan perang, Nusaibah menerimanya dengan penuh keyakinan, bahwa putranya mendapatkan kemuliaan di sisi ALlah SWT. Dia menerima berita gugur anaknya dengan perasaan bangga tidak ada rasa sedih karena anaknya meninggal untuk membela agama Allah.

Pertempuran paling dahsyat ialah pertempuran Yamamah dimana anaknya menjadi tawanan Musailamah dan disiksa, juga Nusaibah kehilangan satu tangannya, padahal ia mengatakan bahwa ia ingin membunuh musailamah. Namun ternyata satu anaknya dan suaminyalah yang sudah membunuhnya.

Baca Juga:  Mengenal KH. Makshum Ali, Ulama Islam Nusantara yang Mendunia

Nusaibah beserta suami dan anak-anaknya tidak hanya mengikuti perang uhud, mereka juga ikut dalam peristiwa Hudaibiyah, perang Khaibar, perang Hunain dan perang Yamamah. Di dalam keterlibatannya pada pereng tersebut Nusaibah tidak hanya andil dalam bagian logistik dan medis saja, dia juga ikut turun ke medan perang dengan memanggul senjata menyambut serangan musuh.

Nusaibah adalah panutan juga bukti bahwa tidak hanya laki-laki yang berani dengan gigih bertempur demi Agama Allah. Meski sekarang tidak ada perang berdarah-darah seperti dahulu kala, namun perang yang kita hadapai di zaman sekarang merupakan perang yang lebih berat, karena tidak hanya melawan musuh tapi melawan diri sendiri, tidak seperti dahulu yang melawan kaum kafir bahkan sekarang melawan saudara sendiri. (IS)

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik