Kesamaan Pentasybihan Allah yang Dilakukan Oleh Wahabi dengan Yahudi

Kesamaan Pentasybihan Allah yang Dilakukan Oleh Wahabi dengan Yahudi

PeciHitam.org Kesamaan keyakinan Aqidah salafi wahabi dengan pemahaman Yahudi yang sudah diselewengkan banyak terjadi dalam beberapa Isu. Pada bagian pertama, penulis memaparkan bahwa salafi wahabi melakukan Tajsim (beranggapan Allah SWT memiliki bentuk fisik) berupa jumlah jari tangan sebagaimana makhluk.

Pastinya hal demikian bertolak belakang dengan Sunni yang beranggapan bahwa sifat Allah SWT memerlukan takwil ketika bersinggungan dengan bentuk kata laiknya makhluk. Penerimaan salafi wahabi terhadap teks secara mentah dan penolakan takwil mununjukan kesesatan mereka dalam berakidah.

Lebih lanjut, kesalahan salafi wahabi adalah perbuatan Tasybih menyerupakan Allah SWT dengan MakhlukNya. Bahaya dari keyakinan ini adalah bisa jadi menjadikan pengikut salafi wahabi menyembah ‘Bayangan Tuhan/ Allah SWT’ laiknya penyembangan terhadap berhala sebagai simbol Kekuasaan. Berikut Ulasannya!

Tasybih terhadap Allah SWT dalam Yahudi

Agama Yahudi adalah agama yang dinisbatkan kepada Yehuda bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim AS, walaupun kebanyakan orang Yahudi langsung menisbatkan kepada Nabi Ibrahim AS. Yahudi masuk dalam kategori Agama Samawi yang berasal dari Firman Allah SWT. Pun kitab Taurat menjadi salah satu prasyarat Keimanan dalam Islam.

Baca Juga:  Peranan Mr. Hempher Terhadap Gerakan Muhammad bin Abdul Wahab (Bag 11)

Akan tetapi perjalanan Yahudi seperti Agama Nasrani yang mengalami perubahan isi ajarannya dan kitab sucinya. Hakikat ajaran Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW dalam kaidah Aqidahnya sebenarnya sama, yaitu Pengesaan kepada Allah SWT. Termasuk dalam ajaran Yahudi, secara dasar teologinya sama dengan Islam dan Nasrani meskipun diselewengkan dibelakang hari.

Penyelewengan agama Yahudi terhadap ajaran Tauhid yakni menyamakan/ tasyabbuh terhadap dzat Allah SWT dengan MakhlukNya. Dalam kitab Safarut Takwin dijelaskan bahwa;

ﻭ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻧﻌﻤﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﺭﺗﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺷﺒﻬﻨﺎ ﻓﺨﻠﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﺭﺗﻪ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻠﻘﻪ ﺫﻛﺮﺍ ﻭ ﺃﻧﺜﻰ ﺧﻠﻘﻬﻢ

Artinya; “Allah berkata ; “Kami buat manusia dengan bentuk dan serupa denganku, lalu Allah menciptakan manusia dengan bentuknya, dengan bentuk Allah, dia menciptakan laki-lakidan wanita”

Penyerupaan Allah SWT dengan makhlukNya menunjukan penyelewengan Aqidah yang berat dalam keyakinan dalam Islam. Bagaimana mungkin Allah SWT yang menciptakan makhluk diserupakan dengannya, kecuali untuk merendahkanNya.

Baca Juga:  Membela Amaliah Khas Nusantara dari Tuduhan Bid’ah Salafi Wahabi

Tasybih terhadap Allah SWT dalam Salafi Wahabi

Keyakinan tasybih (penyerupaan dengan Makhluk) menjadi Aqidah bagi kalangan agama Yahudi dan ternyata memiliki kesamaan konsep dengan paham salafi wahabi. Persamaan tersebut berasal dari komparasi dengan kitab Aqidatu Ahli Iman fi Khalqi Adam ‘Ala Shuratil Rahman yang menuliskan;

ﻭ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺇﻥ ﻣﻮﺳﻰ ﻟﻤﺎ ﺿﺮﺏ ﺍﻟﺤﺠﺮ ﻟﺒﻨﻲ ﺇﺳﺮﺍﺋﻴﻞ ﻓﺘﻔﺠﺮ ﻭ ﻗﺎﻝ ﺍﺷﺮﺑﻮﺍ ﻳﺎ ﺣﻤﻴﺮ ﻓﺄﻭﺣﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻪ ﻋﻤﺪﺕ ﺇﻟﻰ ﺧﻠﻖ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻲ ﺧﻠﻘﺘﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﺭﺗﻲ ﻓﺘﺸﺒﻬﻬﻢ ﺑﺎﻟﺤﻤﻴﺮ، ﻓﻤﺎ ﺑﺮﺡ ﺣﺘﻰ ﻋﻮﺗﺐ

Artinya; “Di dalam hadits Ibnu Abbas; ‘Sesungguhnya Musa ketika memukul batu untuk Bani Israil lalu keluar air’ dan berkata; Minumlah wahai keledai, maka Allah mewahyukan pada Musa, Engkau telah mencela satu makhluk dari makhlukkuyang Aku telah ciptakan mereka dengan rupaku, lalu engkau samakanmereka dengan keledai. Musa terus ditegur oleh Allah SWT.

Kitab Aqidatu Ahli Iman fi Khalqi adalah karangan Hamud bin Abdullah At-Tuajari dari kota Majma’ah (wafat 1413 H). Murid-murid beliau banyak menjadi Ulama bagi golongan salafi wahabi yang salah satu muridnya menjadi menteri Urusan Islam, Dakwah dan Penyuluhan Islam Arab Saudi, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh.

Baca Juga:  Mau Ikut Kelompok "Salafi?" Hati-Hati Jangan Sampai Salah Pilih

Rangkaian sanad Ilmu yang didapatkan Ustadz atau penceramah tentunya sangat dipengaruhi oleh pola pemikiran gurunya. Sebagaimana tradisi transmisi Ilmu pengetahuan harus terjaga dengan baik berdasarkan pertemuan langsung dengan gurunya.

Dalam Sunni sendiri, tradisi menjaga Sanad keilmuan menjadi keniscayaan dalam belajar agama. Dengan catatan utama harus berasal dari guru yang Mu’tabar keilmuannya kepada Nabi SAW bukan kepada pemikiran Yahudi seperti salafi wahabi.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG