Durasi Puasa di Daerah Kutub, Benarkah Harus 24 Jam?

puasa di daerah kutub

Pecihitam.org – Pada dasarnya kita semua pasti sudah tahu bahwa dalam fiqih, puasa itu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbitnya fajar hingga tibanya waktu Maghrib atau terbenam matahari. Namun pernahkan terbayangkan jika kita puasa di daerah kutub yang kadang jarak antara terbit subuh dan terbenam matahari hampir 24 jam?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Aturan yang tertera dalam kitab Fiqih tentang puasa tersebut sebenarnya diambil dari pembacaan para ulama terhadap Al-Quran dan Hadits. Contohnya dalam konteks ketentuan puasa, para ulama merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 187sebagaimana beriku.

وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر

“Makanlah dan minumlah hingga jelas bagimu mana benang putih dan mana benang hitam karena fajar.”

Secara mudahnya, tentu saja ayat ini menyasar pada umat yang mendiami daerah yang mirip dengan letak geografis Arab dari segi durasi siang dan durasi malam dalam sehari. Ini artinya, ayat ini tidak menyasar pada letak geografis yang bersifat kasus langka seperti puasa di daerah kutub.

Di daerah kutub, matahari akan terlihat bersinar rendah di kaki langit. Malam hanya terasa sekejap saja menyapa. Jika orang muslim diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, maka bagaimana dengan penduduk belahan bumi yang mana pembagian siang dan malam cenderung ekstrem?

Baca Juga:  Hukum Jabat Tangan dengan Lawan Jenis yang Bukan Mahram

Adakalanya di wilayah-wilayah kutub siang terlalu lama atau malam terlalu lama. Misalkan seperti negara-negara di Skandinavia yang berpuasa kurang lebih 21 jam. Sedangkan di Rusia orang berpuasa 19 jam, di Amerika 16 jam atau di Inggris 17 jam 45 menit. Dengan demikian umat Islam disana berpuasa lebih dari 15 jam.

Begitu pula yang dirasakan orang-orang Eskimo, mereka tidak bisa menikmati teriknya siang dan gelapnya malam layaknya kita yang tinggal di daerah tropis atau katulistiwa. Di daerah yang jauh dari katulistiwa, hari akan selalu siang ketika musim panas dan selalu malam saat musim dingin.

Puasa Ikut Waktu Mekkah

Dikutip dari The Atlantic, komunitas Muslim di Norwegia yang terletak di kawasan Kutub Utara tersebut mengikuti aturan waktu Mekah ketika menjalankan ibadah puasa.

Ini berarti jika di Mekkah mulai berpuasa jam 5 pagi waktu Mekkah, maka orang di Kutub Utara akan berpuasa juga jam 5 pagi tapi waktu Kutub Utara. Begitu pula dengan waktu buka puasanya.

Baca Juga:  Menolak Ijma' Karena Hendak "Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah"??

Puasa Ikut Waktu Negara Terdekat

Ada pula beberapa kemungkinan puasa umat Islam di daerah kutub mengikuti waktu dari wilayah atau negara terdekat yang siang atau malamnya tidak 24 jam.

Mengenai permasalan ini, ilhaq sebagai suatu mekanisme pengambilan keputusan hukum di dalam bahtsul masail Nahdhatul Ulama menemukan kontekstualisasinya. Ilhaqul masa’il bi nazha’iriha ialah upaya mengidentifikasi suatu kasus baru yang sudah dimaklum kepada furu’ yang sudah ditetapkan para ulama.

Dengan metode ilhaq, bisa dikatakan bahwa penduduk belahan dunia tertentu yang siang atau malamnya terlalu lama, tidak menggunakan peredaran terbit atau terbenamnya matahari sebagai penanda waktu puasa maupun waktu shalat.

Mereka bisa mengambil perhitungan waktu imsak dan berbuka puasa dari jadwal negara terdekat yang memiliki durasi siang dan malamnya kurang lebih berimbang. Dengan kata lain, umat Islam di daerah kutub tetap bisa berpuasa dan berbuka meskipun matahari masih memancar atau belum tenggelam.

Baca Juga:  Hukum Makan Buah yang di Dalam Terdapat Ulat atau Belatungnya, Halalkah?

Dengan pilihan seperti ini, mereka tetap bisa beribadah dan beraktivitas tanpa terganggu dengan peredaran matahari. Pilihan ini bisa menjadi alternatif di tengah perintah Al-Quran untuk ibadah puasa dan shalat tanpa menimbulkan kemudharatan terhadap mereka yang mengamalkannya.

Bukankah Allah Swt sendiri tidak menghendaki kesulitan bagi umat-Nya sebagaimana firman-Nya.

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

Allah menghendaki kemudahan untukmu. Allah tidak menghendaki kesulitan bagimu.

Dari sini kita menjadi tahu, bahwa begitu luar biasa sekali perjuangan sodara-sodara Muslim kita di Kutub Utara. Bagi kita yang hidup di daerah tropis dengan lama waktu siang dan malam cenderung normal, tentunya harus lebih bersyukur.

Semoga bermanfaat. Wallahua’lam bisshawab.

Lukman Hakim Hidayat