Puasa Senin Kamis; Dalil, Keutamaan dan Lafadz Niatnya

Puasa Senin Kamis; Dalil, Keutamaan dan Lafadz Niatnya

PeciHitam.org – Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Setelah satu bulan penuh kita melaksanakan puasa Ramadhan, yang sejatinya wajib bagi seluruh umat Islam. Ada juga puasa yang dianjurkan untuk dikerjakan di luar bulan Ramadhan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Salah satu di antaranya ialah puasa Senin Kamis. Begitu banyak manfaat yang dapat kita petik dari puasa senin kamis. Sehingga tidak heran banyak sekali yang mengerjakannya. Hal ini berdasarkan banyaknya hadis-hadis Nabi yang membahas mengenai puasa Senin Kamis.

Daftar Pembahasan:

Dalil Puasa Senin Kamis

Berikut ini kami sebutkan beberapa hadis yang menjelaskan puasa senin kamis, antara lain sebagai berikut:

Puasa Senin Kamis hukumnya sunnah. Dalam Fikih Manhaji secara tegas menjelaskan tentang dalil sunnahnya puasa berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, beliau mengatakan,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

Artinya: “Rasulullah saw biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili juga menjelaskannya dalam kitab Fiqih Islam wa Adillatuhu dan menggolongkan puasa Senin Kamis dalam puasa sunnah yang disepakati para ulama.

Beliau menjelaskan bahwa puasa-puasa sunnah yang disepakati para ulama antara lain, puasa hari Senin dan Kamis setiap pekan berdasarkan hadis yang bersumber dari Usamah bin Zaid, berikut:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ حَتَّى لاَ تَكَادَ تُفْطِرُ وَتُفْطِرُ حَتَّى لاَ تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلاَّ يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلاَ فِى صِيَامِكَ وَإِلاَّ صُمْتَهُمَا. قَالَ « أَىُّ يَوْمَيْنِ ». قُلْتُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ. قَالَ « ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ »

Artinya: “Aku berkata pada Rasul saw, “Wahai Rasulullah, engkau terlihat berpuasa sampai-sampai dikira tidak ada waktu bagimu untuk tidak puasa. Engkau juga terlihat tidak puasa, sampai-sampai dikira engkau tidak pernah puasa. Kecuali dua hari yang engkau bertemu dengannya dan berpuasa ketika itu.” Nabi saw bertanya, “Apa dua hari tersebut?” Usamah menjawab, “Senin dan Kamis.” Lalu beliau bersabda, “Dua hari tersebut adalah waktu dihadapkannya amalan pada Rabb semesta alam (pada Allah). Aku sangat suka ketika amalanku dihadapkan sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)

Baca Juga:  Definisi Sholat dan Dalil-Dalil yang Mewajibkan Untuk Menunaikan 5 Waktu

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Dari Abu Qotadah Al Anshori ra, Rasulullah saw pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim)

Keutamaan hari Senin dan Kamis secara umum dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah berikut, Rasulullah saw bersabda,

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Artinya: “Pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Setia hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim).

Keutamaan Puasa Senin Kamis

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, puasa Senin Kamis memiliki banyak keutamaan. Sehingga banyak orang yang mengerjakannya secara rutin. Adapun beberapa keutamaan puasa Senin Kamis, antara lain:

Baca Juga:  Sujud Sahwi; Pengertian, Alasan dan Tata Cara Pelaksanaannya

Rasulullah selalu mengerjakannya

Sebagaimana hadis di atas yang diriwayatkan dari Aisyah ra dan Usamah bin Zaid ra, Rasulullah senantiasa mengerjakan puasa Senin Kamis dan senantiasa menjaganya.

Hari Senin adalah hari istimewa

Hari Senin seringkali disebut-sebut sebagai hari yang istimewa disebabkan karena pada hari tersebut, Rasulullah saw dilahirkan ke dunia. Pada hari Senin juga, Rasulullah menerima wahyu. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Artinya: Nabi ditanya tentang puasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu adalah hari kelahiranku dan pada hari itu wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim)

Amal diperlihatkan pada hari tersebut

Keutamaan selanjutnya, yaitu pada hari Senin dan Kamis, amal-amal perbuatan kita diperlihatkan atau dilaporkan kepada Allah. Maka betapa beruntungnya ketika saat itu terjadi, seorang hamba tersebut sedang berpuasa. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Diperlihatkan amal-amal pada setiap hari Kamis dan Senin. Maka aku ingin amalku diperlihatkan saat aku berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Berikut ini kami sebutkan juga hadis yang senada dengan hadis di atas:

Diperlihatkan amal-amal pada setiap hari Kamis dan Senin. Maka Allah pada hari itu mengampuni setiap orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali orang yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, “Biarkan keduanya hingga berdamai, biarkan keduanya hingga berdamai.” (HR. Muslim)

Abu Hurairah berkata, Nabi saw lebih sering pada hari Senin dan Kamis. Lalu ada sahabat yang bertanya tentang hal itu. Maka Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya seluruh amal akan dipersembahkan pada setiap hari Senin dan hari Kamis. Lalu Allah mengampuni setiap muslim atau setiap orang mukmin kecuali orang yang bermusuhan. Sebab Allah berfirman, ‘Tangguhkanlah amal kedua orang itu.’” (HR. Ahmad)

Baca Juga:  Niat Puasa Arafah dan Tarwiyah Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Terjemah

Pintu surga dibuka

Keutamaan berpuasa Senin Kamis yang selanjutnya ialah pada hari Senin dan Kamis juga disebabkan karena pada hari tersebut pintu surga dibuka. Ini menunjukkan betapa mulianya hari itu dan betapa beruntungnya orang-orang yang puasa Senin Kamis.

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu diampuni kecuali seseorang yang antara dirinya dengan saudaranya terdapat permusuhan.” (HR. Muslim)

Lafadz Niat Puasa Senin Kamis

Berikut ini lafadz niat puasa Senin:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma yaumal itsnaini sunnatan lillaahi ta’aalaa

Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Senin, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Adapun lafadz niat puasa Kamis yaitu:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma yaumal khamiisi sunnatan lillaahi ta’aalaa

Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Kamis, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Demikianlah kami sampaikan sedikit tentang puasa Senin Kamis, mulai dari dalil hukum, keutamaan dan lafadz niat puasa Senin Kamis. Mudah-mudahan dapat menjadi pengingat, sekaligus memotivasi kita agar lebih semangat menjalankannya. Ash-Shawabu Minallah.

Mohammad Mufid Muwaffaq