Pengertian Puasa Tarwiyah dan Arafah, Bacaan Niat Serta Keutamaannya

puasa tarwiyah dan arafah

Pecihitam.org – Di antara amalan-amalan yang lebih di unggulkan pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah yaitu dengan melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 8 yang di sebut dengan puasa tarwiyah dan tanggal 9 yaitu arafah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata “Tidak ada hari di mana amal shaleh di dalamnya sangat dicintai oleh Allah melebihi 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah. Para sahabat lantas bertanya “apakah amal itu dapat membandingi pahala jihad fi sabilillah?” Bahkan amal pada 10 hari Dzulhijjah lebih baik dari pada jihad fi sabilillah kecuali jihadnya seorang lelaki yang mengorbankan dirinya, hartanya, dan dia kembali tanpa membawa semua itu (juga nyawanya) sehingga ia mati sahid. Tentu yang demikian itu (mati sahid) lebih baik. (HR. Bukhari)

Pengertian Puasa Tarwiyah dan Arafah

Puasa Tarwiyah

Puasa tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yaitu hari ke-8 bulan Dzulhijjah. Dinamakan hari tarwiyah sebab pada waktu itu air sangat melimpah.

Ibnu Qudamah dalam kitabnya “Al-Mughni”, beliau memaparkan dan menjelaskan mengapa hari ke 8 Zulhijah itu dinamakan dengan hari Tarwiyyah. (kitab Al-Mughni 3/249).

Dalam pandangan beliau setidaknya ada dua indikator (alasan) kenapa hari itu dinamakan Hari Tarwiyah.

Baca Juga:  Bagaimana Hukum Khitan Bagi Anak Perempuan dalam Islam?

Pertama, mereka yang beribadah haji pada hari ke 8 Dzulhijah, setelah berihram, mereka menuju Mina untuk bermalam dan keesokan harinya mereka akan menuju Arafah. Pada saat di Mina itu para jamaah haji mempersiapkan air sebagai bekal untuk dibawa berwukuf di Arafah.

Menyiapkan air ini diistilahkan dan mempunyai asal kata yang sama dengan ‘Yatarawwauna’ dari peristiwa inilah hari ke 8 itu dinamakan Hari Tarwiyah.

Kedua, tarwiyah bisa dikaitkan dengan tindakan merenung (rawwa-yurawwi-tarwiyah) yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim setelah menerima wahyu dari Allah untuk menyembelih sang putra, Ismail. Barulah pada hari kesembilan Zulhijah, Ibrahim mendapatkan takwil dan membuatnya mengetahui (‘arafa) makna mimpi itu.

Dalam versi ini, hubungan tanggal 8, 9, dan 10 Dzulhijah berkaitan dengan rangkaian peristiwa ujian Allah terhadap Nabi Ibrahim dan Ismail. Pada malam 8 Dzulhijah, Ibrahim merenung atas mimpinya, diikuti malam 9 Dzulhijah ia memahami takwil mimpi tersebut sedangkan pada malam 10 Dzulhijah, Ibrahim yakin bahwa itu adalah perintah Allah.

Maka keesokan harinya tepatnya pada 10 Dzulhijah, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah tersebut. Karenanya hari kesepuluh ini dinamakan hari Nahar, yang artinya menyembelih.

Puasa Arafah

Sementara itu, puasa sunnah Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dinamakan puasa Arafah karena hari itu bertepatan dengan jamaah haji yang sedang melaksanakan wuquf di Arafah.

Baca Juga:  Cara-Cara Melakukan Istinjak, Ini Hal yang Penting Diketahui Sebelum Melakukan Istinjak

Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, sedangkan bagi yang sedang menunaikan ibadah haji tidak disunnahkan, walaupun mereka kuat melaksanakannya.

Imam an Nawawi menganggapnya makruh. Namun, jika jamaah haji sudah tiba di Arafah pada malam hari, maka tidak dimakruhkan, sebagaimana disebutkan asy Syafi’i dalam kitab al-Imla’. (Asnal Mathalib, V, 385)

Adapun tentang fadhilah atau keutamaan puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah inii didasarkan pada hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda :

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Artinya, “Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapus dosa setahun yang lalu,” (HR Muslim).

Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

Niat Puasa Tarwiyah

Pada dasarnya, niat puasa lebih baik dilafalkan pada malam hari sebelum terbitnya fajar. Namun, khusus puasa sunnah jika pada malam hari lupa membaca niat maka boleh dilakukan pada pagi hari, selama seseorang belum melakukan perkara-perkara yang membatalan puasa.

Lafal niat puasa tarwiyah jika dibaca pada malam hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillâhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah esok hari karena Allah SWT.”

Niat puasa Tarwiyah jika dibaca pada pagi/siang hari:

Baca Juga:  Sunnah Haiat, Apa Itu dan Amalan-amalan Apa di Dalamnya?

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillâhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah hari ini karena Allah SWT.”

Niat Puasa Arafah

Seperti puasa Tarwiyah, niat puasa Arafah dibedakan berdasarkan konteks waktunya, yaitu pada malam hari (sebelum puasa) atau pagi hari (ketika sudah berpuasa).

Niat puasa Arafah jika dibaca pada malam hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah SWT.”

Niat puasa Arafah jika dibaca pada pagi/siang hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah SWT.”

Demikian semoga bermanfaat. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik