Rahasia di Balik Anjuran Membaca Al-Kahfi Pada Hari Jumat (Bagian II): Tentang Adab Menuntut Ilmu

Rahasia di Balik Anjuran Membaca Al-Kahfi Pada Hari Jumat (Bagian II): Tentang Adab Menuntut Ilmu

Pecihitam.org – Pada bagian sebelumnya dari tulisan Rahasia di Balik Anjuran Membaca Al-Kahfi Pada Hari Jumat telah diuraikan tentang empat kisah beserta pelajaran yang dapat diambil. Artikel ini secara lebih detail akan menguak tentang adab menuntut ilmu yang dapat dipetik dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang dimuat pada ayat 32-44

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi Musa sebagai sosok yang sangat berilmu di masanya, karena ia bisa berkomunikasi langsung dengan Allah. Dengan begitu, ilmu Nabi Musa nyaris sempurna. Namun, setinggi apa pun ilmu beliau, ternyata beliau masih diperintahkan untuk belajar lagi.

Nabi Musa belajar kepada seorang hamba shalih bernama Khidir. Khidir (berdasarkan yang umum disebut orang) atau Khadir (sesuai riwayat yang paling kuat), menurut sebagian pendapat merupakan seorang nabi, dan menurut pendapat yang lain adalah seorang hamba yang shalih.

Khidir adalah satu dari banyak pasukan utama Iskandar Dzulkarnain. Khadir atau Khidir adalah julukan. Sedangkan nama aslinya adalah Jalan bin Malkan.

Bagi para pelajar, santri dan mahasiswa hari, setidaknya ada lima pelajaran tentang adab menuntut ilmu yang dapat dipetik dari kisah pencarian ilmu Nabi Musa yang termuat dalam Surah Al-Kahfi.

Pertama, belajarlah pada guru yang tepat

Nabi Khidir adalah guru yang tepat bagi Nabi Musa, karena memang kepadanya ia diperintahkan oleh Allah untuk berguru. Ini menjadi pelajaran awal yang sangat urgen bagi para menimba ilmu hari ini.

Carilah guru yang sanadnya jelas, sperti Nabi Khidir. Allah SWT berfirman pada ayat 65 tentang keilmuan Nabi Khidir yang jelas dari Allah.


فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا

Baca Juga:  Mengapa Nabi Beristri Lebih dari Empat, Inilah Alasan dan Hikmahnya

Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.

Maka, untuk pelajar hari ini, carilah guru yang jelas sanadnya. Jangan sampai berguru kepada mereka yang tidak jelas, apalagi sampai berguru kepada Google atau buku-buku terjemahan. Karena semua itu tidak bisa membimbing jika kita keliru.

Berbeda dengan seorang guru seperti yang tergambar pada sosok Nabi Khidir. Ketika Nabi Musa keliru dalam memahami realitas yang dilihatnya, maka Nabi Khidir mengingatkannya agar jangan terburu-buru protes.

Kedua, semangatlah dalam menuntut ilmu

Semangat dan optimistis merupakan sikap yang mutlak dibutuhkan bagi para pencari ilmu. Sikap inilah yang ditunjukkan Nabi Musa sejak awal.

Terekam pada ayat 60 dalam Surat Al-Kahfi tentang bagaimana Nabi Musa menunjukkan semangatnya. Ia menegaskan pada pengawalnya, Yusya’ bin Nun bahwa ia akan menempuh perjalanan sejauh apa pun hingga ia bisa bertemu dan belajar ilmu kepada Nabi Khidir.


وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰٓى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”

Ketiga, menuntut ilmu membutuhkan modal

Relevan istilah tidak ada yang gratis jika ditarik ke pembahasan tentang butuhnya modal dalan menuntut ilmu. Sekali pun hari ini banyak program beasiswa, tetap menuntut ilmu itu butuh modal, butuh biaya.


فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتٰىهُ اٰتِنَا غَدَاۤءَنَاۖ لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا

Baca Juga:  Cara Bisnis Sahabat Abdurrahman bin Auf yang Patut Diteladani

Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”

Pada zaman Nabi Musa, mungkin cukup dengan makanan sebagai bekal menuntut ilmu. Tapi hari ini, kita mungkin butuh membeli seragam, buku-buku, bahkan tak jarang butuh komputer atau HP bagi mereka yang kuliah.

Keempat, perhatikanlah adab pada guru

Adab yang baik ditunjukkan oleh Nabi Musa saat awal dia menyampaik keinginan untuk berguru. Disebutkan pada ayat 66


قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”

Pelajaran dari ayat ini ada dua. Pertama, seseorang yang ingin berguru harus datang dan mengutarakan keinginan untuk berguru. Praktek semacam ini, sulit ditemui di dunia perkuliahan. Di mana seorang mahasiswa saat pertama masuk, mungkin malah lewat bank untuk transfer biaya pendaftaran.

Tapi kalau di dunia pesantren, etika semacam ini masih lestari dipraktekkan. Saat pertama masuk ke pondok, bahkan diantarkan oleh orang tua atau walinya.

Kedua, harus ditanamkan sejak awal bahwa tujuan mennut ilmu adalah untuk mendapatkan petunjuk agar selamat dunia dan akhirat. Perhatikan ayat di atas


عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk

Kelima, tatalah pada peraturan guru

Selain ada adab yang ditunjukkan Nabi Musa, ada juga adab yang diajarkan oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa. Ini juga merupakan tradisi dalam dunia pesantren, di mana setiap hari seorang santri diajarkan berakhlak karimah, mulai dari belajar bahasa yang halus-lembut hingga tingkah laku bergaul dengan orang.

Baca Juga:  Mau Kenalan? Begini Cara Ta'aruf Sesuai Syariat Islam

Ajaran itu bahkan diwujudkan dalam peraturan atau undang-undang. Aturan itu, atau kalau dalam dunia kampus dikenal dengan kontrak belajar harus ditaati.

Sedangkan peraturan atau kontrak belajar yang harus ditaati Nabi Musa adalah tidak boleh bertanya sebelum diizinkan untuk waktunya bertanya.

قَالَ فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرً

Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Kalau aturan itu dilanggar sampai tiga kali, maka bisa kena sanksi. Mulai dari teguran, hukuman hingga skorsing. Sebagaimana ini terjadi pada Nabi Musa. Nabi Khidir pun berkata:

Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.

هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَۚ

Inilah perpisahan antar aku denganmu

Demikianlah tulisan kedua tentang hikmah membaca Al-Kahfi pada hari Jumat yang mengandung tentang adab menuntut ilmu. Semoga bermanfaat.

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published.