Ruginya Berdebat Di Karakter Zaman Yang Sulit Diam

ruginya berdebat

Pecihitam.org – Manusia zaman milenial telah diberi kemudahan berbagai akses informasi. Kemudahan selain membawa dampak positif yang banyak juga sering diikuti dampak negatif yang tidak kalah banyaknya. Seperti halnya mudahnya informasi berkembang dan penyebaran informasi yang tidak jelas atau mungkin hoak. Jika informasi sudah berkembang sedemikian rupa setiap penerima informasi akan memproses sesuai kemampuan daya nalarnya masing-masing. Untuk mempertahankan argumentasinya tak ayal kadang terjadi perdebatan. Taukah kamu ruginya berdebat?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Imam Al Ghazali sang hujjatul islam dalam kitab Bidayatul Hidayah karyanya menerangkan ruginya berdebat. Dengan berdebat ternyata kita telah menyakiti, menganggap bodoh, dan mencela orang yang kita ajak debat. Selain itu, dengan berdebat menjadikan kita berbangga diri serta merasa lebih pandai dan berilmu.

Ruginya berdebat juga menghancurkan sendi kehidupan. Yang mana jika engkau mendebat orang yang bodoh, ia akan menyakitimu. Sedangkan manakala engkau mendebat orang yang pandai, ia akan membenci dan dengki padamu.

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadistnya:
“Barang siapa yang meninggalkan perdebatan sedang ia dalam keadaan salah, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di tepi surga. Dan barang siapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia dalam posisi yang benar Allah SWT akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga yang paling tinggi.”

Jangan sampai engkau tertipu oleh setan yang berkata padamu, “Tampakkan yang benar, jangan bersikap lemah!” Sebab, setan akan selalu menjerumuskan orang yang bodoh kepada keburukan yang dibungkus dengan kebaikan. Jangan sampai engkau menjadi bahan tertawaan setan sehingga dia mengejekmu.

Baca Juga:  Butir-butir Gagasan Pluralisme Gus Dur dalam Sila Pertama Pancasila

Menampakkan suatu kebenaran pada mereka yang mau menerimanya merupakan suatu kebaikan. Namun hal itu harus dilakukan dengan cara yang arif nan bijaksana, memberikan nasihat secara rahasia bukan dengan cara mendebat. Karena setiap nasihat memiliki karakter dan bentuk sendiri – sendiri. Haruslah disampaikan dengan cara yang baik dan bijaksana. Jika tidak, nasehat yang baik malah akan berubah jadi mencemarkan aib orang lain. Sehingga keburukkannya lebih banyak dari pada kebaikan yang ditimbulkan oleh nasehat itu.

Orang – orang yang sering bergaul dengan para faqih zaman ini memang memiliki karakter yang suka berdebat sehingga ia sulit diam apalagi mendengarkan. Sebab, para ulama su’ itu mengatakan padanya bahwa berdebat merupakan suatu hal yang mulia dan mampu berdiskusi merupakan satu kebanggaan tersendiri. Oleh karena itu sebaiknya, hindarilah mereka sebagaimana engkau menghindar dari singa. Ketahuilah, perdebatan merupakan sebab datangnya murka Allah dan murka makhluk-Nya.

Baca Juga:  Peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Spirit Berislam di Indonesia

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻋَﺒْﺪِﻙَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻚَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِِّ ﺍﻷُﻣِّﻲِّ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳﻠِّﻢ

Sebagai renungan bersama, berdebat walaupun dengan tujuan yang baik namun tetap saja sering menimbulkan efek yang buruk. Karena memang sudah menjadi tabiat manusia yang selalu ingin mempertahankan argumentasinya dihadapan manusia lainnya. Lebih-lebih jika agama yang dijadikan argumentasi tanpa disertai dasar yang baik dan benar, itu bagaikan melemparkan daging ditengah kawanan singa yang lapar.

Penulis tidak bilang bahwa kebenaran harus mengalah,.tidak. Namun alangkah indahnya jika kebenaran tidak diiringi dengan perdebatan. Karena untuk apa tujuan kebenaran jika hanya menimbulkan perpecahan, tidak aka ada artinya. Maka dari itu hindarilah berdebat apalagi perdebatan di ruang publik yang hanya akan memicu perselisihan dan putusnya tali persaudaraan antar sesama,

Baca Juga:  Debat dalam Islam, Perkara yang Boleh namun Juga Dilarang

Dari Anas ra. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: “ Janganlah kalian saling membenci, saling hasut, saling membelakangi, dan saling memutuskan tali persaudaraan. Tatapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim tidak diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari ( HR. Bukhari dan Muslim )

Berbicara tentang nasihat, aku melihat diriku sendiri pun tak pantas untuk memberikannya. Wallahu’alam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.