Rukun Iman; Definisi, Dasar Hukum dan 77 Cabang Keimanan

rukun iman

Pecihitam.org – Rukun Iman adalah pilar-pilar keimanan dalam agama Islam yang harus dimiliki setiap orang muslim. Rukun Iman ini jumlahnya ada enam yang semuanya didasarkan sabda Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab ra. Sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nawawi dalam kitab Arbain, ketika Rasulullah Saw ditanya apakah iman itu? Lantas beliau Saw bersabda:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الأخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

Artinya: “Berimanlah kamu kepada Allah dan malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan utusan-utusan-Nya dan hari Qiamat dan imanlah kamu pada kepastian Allah dalam baiknya dan buruknya”

Oleh karena itu, barang siapa yang mengatakan bahwa dirinya beriman namuni tidak berdasar pada enam hal tersebut diatas, maka imannya tidak berguna dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali berdiam selamanya di dalam siksa neraka.

Definisi Iman

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah keyakinan dalam hati, perkataan di lisan, amalan dengan perbuatan, menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya.

Para ulama menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Itu sebabnya iman kadang juga bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang”. Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama lainnya.

Dengan demikian maka iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath : 4)

Imam Syafi’i berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.”

Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan amal.” (Al Wajiz fii ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 101-102)

Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.” (Fathul Baari Syarhu Shahih al-Bukhari, karya Ibnu Hajar Asqalani, I/60)

Murid Al Imam Syafi’i yang bernama Ar-Rabi’ berkata: “Aku mendengar Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang.”

Pada riwayat yang lain terdapat tambahan: “Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.” Kemudian beliau membaca ayat:

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

“Dan agar bertambah keimanan orang-orang yang beriman.” (Al-Muddatssir: 31) [Lihat Fathul Bari, 1/62-63]

Shalih rahimahullah, putra Imam Ahmad berkata: “Aku bertanya kepada ayahku, apa itu makna bertambah dan berkurangnya iman?”. Beliau menjawab: “Bertambahnya iman adalah dengan adanya amalan, berkurangnya adalah dengan meninggalkan amalan, seperti meninggalkan shalat, zakat, dan haji.”

Rukun Iman

Sebagaimana berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw diatas, Rukun Iman ada 6 (enam) perkara, yaitu:

1. Iman kepada Allah Swt

Rukun Iman pertama yaitu Iman kepada Allah, artinya kita wajib meyakini bahwa tidak ada Tuhan lain yang layak disembah selain Allah Swt. Kita wajib meyakini bahwa penciptaan seluruh makhluk yang ada dilangit, bumi, dan alam semesta semua adalah kehendak Allah Swt.

Baca Juga:  Argumen Ontologis Ibn Sina Tentang Keberadaan Tuhan

Selain itu kita juga wajib meyakini sifat-sifat Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an (Asmaul Husna) dan hanya kepada Allah lah kita memohon perlindungan dan pertolongan dengan berdzikir, bersujud dan berdoa.

Mengenai sifat-sifat Allah ini, dalam Aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah kita mengenal yang namanya I’tiqad lima puluh. Ini adalah gabungan dari 20 sifat-sifat yang wajib bagi Allah, 20 yang mustahil bagi-Nya, 4 sifat yang wajib bagi Nabi, 4 yang mustahil baginya, 1 sifat yang jaiz (harus) bagi Allah dan 1 sifat yang jaiz pada diri Nabi. Ketika di jumlahkan maka semuanya berjumlah 50.

2. Iman Kepada para Malaikat Allah

Rukun Iman kedua, yaitu kita wajib mengimani adanya malaikat sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Malaikat merupakan makhluk gaib ciptaan Allah yang terbuat dari cahaya, Tugas Malaikat adalah menjalankan perintah Allah, mengawasi manusia dan jin. Para Malaikat sangat taat kepada Allah dan senantiasa bertasbih tanpa henti siang dan malam.

Adapun berapa jumlah malaikat tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Allah Swt. Namun setidaknya umat islam wajib mengetahu 10 malaikat utama yaitu:

  1. Malaikat Jibril
  2. Malaikat Mikal
  3. Malaikat Rakib
  4. Malaikat Atid
  5. Malaikat Mungkar
  6. Malaikat Nakir
  7. Malaikat Izrail
  8. Malaikat Israfil
  9. Malaikat Malik
  10. Malaikat Ridwan

3. Iman Kepada Kitab-kitab Allah

Rukun Iman ketiga, yaitu kita wajib percaya bahwa seluruh kitab Allah adalah Kalam (ucapan) yang merupakan sifat Allah. Kitab suci yang diturunkan oleh Allah ke dunia ada 4 (empat) yaitu:

  1. Kitab Suci Taurat
  2. Kitab Suci Zabur
  3. Kitab Suci Injil
  4. Kitab Suci Al-Qur’an

Dari keempat kitab tersebut, umat Islam Islam wajib mengimani bahwa Al-Qur’an merupakan penggenapan kitab-kitab suci terdahulu. Sebagai Muslim kita wajib berpedoman pada Kitab Suci Al-Quran, karena sudah dijamin kemurniannya sampai akhir zaman. Mengapa bisa dijamin murni? karena jumlah penghafal Al-Quran sangat banyak, sehingga mustahil isi dari kandungan Al-Qur’an dapat dirubah atau dipalsukan.

4. Iman Kepada para Nabi dan Rasul Allah

Rukun iman keempat, maknanya adalah kita meyakini bahwa Nabi dan Rasul ialah manusia utusan Allah yang diutus di muka bumi untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi petunjuk kepada umat manusia hingga kembali ke jalan lurus.

Beriman kepada Nabi dan Rasul artinya juga memercayai segala ajarannya baik dari lisan maupun sebagai sauri teladan. Selain itu juga wajib mengakui setiap nabi dan rasul yang kita ketahui namanya dan yang tidak kita ketahui namanya.

5. Iman Kepada Hari Akhir

Rukun iman kelima, artinya kita wajib percaya bahwa hari akhir adalah dimana seluruh Alam Semesta dihancurkan dan dimusnahkan itu memang benar ada. Kemudian meyakini tanda-tanda akhir zaman seperti munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat dan tanda-tanda lainnya.

Selain itu beriman kepada hari Akhir juga percaya bahwa masih ada kehidupan setelah kematian, dibangkitkannya manusia dari alam kubur dan adanya hari pembalasan di akhirat, nikmat Surga dan siksa Neraka.

6. Iman Kepada Qada dan Qadar

Rukun iman keenam, yaitu Iman kepada Qada dan Qadar artinya ialah kita mengimani bahwa apapun yang terjadi di alam semesta, bahkan kepada diri kita sendiri sebagai manusia baik maupun buruk merupakan kehendak dari Allah swt.

Adapun keburukan tersebut tidak dinisbahkan kepada Allah, melainkan kepada manusia sebagai mahkluk ciptaan-Nya. Sedangkan jika keburukan tersebut dikaitkan dengan Allah, maka itu merupakan suatu bentuk keadilan terhadap sesuatu pihak yang tidak dapat terduga oleh pengetahuan manusia.

Baca Juga:  Kajian Aqidah; Mungkinkah Allah Menciptakan Tuhan Kedua?

Sebab Allah Swt menciptakan mudharat pastilah ada maslahat. Di setiap keburukan terdapat makna yang mendalam, baik itu diketahui oleh manusia, maupun tidak diketahui oleh manusia.

Dasar Hukum Rukun Iman

Di antara dasar hukum Rukun Iman yang disebut di dalam Al-Qur’an dan Hadits yaitu:

لُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِىَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman): “Kami beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan kepada kami, dan kitab yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan kitab yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kitab yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” ( QS. Al-Baqarah: 136 )

Kemudian Hadits riwayat Umar bin Khattab, tentang seseorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. Dikisahkan dalam sebuah hadits, di mana saat itu Umar bin Khattab r.a sedang bersama Rasulullah Saw, dan Jibril datang menemui Nabi Saw. Berikut redaksi hadits tersebut;

“Suatu waktu kami duduk-duduk bersama Rasulullah saw. tiba-tiba muncul seorang pria berpakaian putih dan rambutnya hitam kelam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Lalu duduklah ia di hadapan Nabi, lalu kedua lututnya disandarkan pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata,

“Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah saw. menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu melakukannya.” Orang itu berkata, “Engkau benar.” Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya.

…Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman. Nabi menjawab; ”Iman adalah engkau beriman kepada Allah; malaikat-malaikatNya; kitab-kitabNya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk,…” Orang itu berkata, “Engkau benar.”

Orang itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang ihsan.” Nabi menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”

Orang itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang hari Kiamat.” Nabi menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih tahu dari pada yang bertanya.”

Orang itu pun bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya, Nabi menjawab, “Jika budak perempuan telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang-orang yang tak beralas kaki, tanpa memakai baju, miskin, dan pekerjaannya menggembala kambing, telah berlomba-lomba mendirikan bangunan yang megah.”

Kemudian orang itu pergi, aku pun terdiam. Beberapa saat kemudian Nabi bertanya kepadaku; “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya tadi?.” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Dia adalah malaikat Jibril. Ia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agamamu.” (HR. Muslim)

Cabang-cabang Keimanan

Disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah, bahwa Iman itu terdapat 70 cabang lebih, sebagaimana hadist berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

77 Cabang Iman

Dari hadits tersebut diatas Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani menjelaskan dalam karyanya Kitab Qomi’ut Thughyan, bahwa terdapat 77 cabang iman. Berikut urutannya:

  1. Iman kepada Allah Azza wa Jalla
  2. Iman kepada para rasul Allah seluruhnya
  3. Iman kepada para malaikat
  4. Iman kepada Al-Qur’an dan segenap kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya
  5. Iman bahwa qadar – yang baik ataupun yang buruk – adalah berasal dari Allah
  6. Iman kepada Hari Akhir
  7. Iman kepada Hari Berbangkit sesudah mati
  8. Iman kepada Hari Dikumpulkannya Manusia sesudah mereka dibangkitkan dari kubur
  9. Iman bahwa tempat kembalinya mukmin adalah Surga, dan bahwa tempat kembali orang kafir adalah Neraka
  10. Iman kepada wajibnya mencintai Allah
  11. Iman kepada wajibnya takut kepada Allah
  12. Iman kepada wajibnya berharap kepada Allah
  13. Iman kepada wajibnya tawakkal kepada Allah
  14. Iman kepada wajibnya mencintai Nabi saw
  15. Iman kepada wajibnya mengagungkan dan memuliakan Nabi saw
  16. Cinta kepada din, sehingga ia lebih suka terbebas dari Neraka daripada kafir
  17. Menuntut ilmu, yakni ilmu syar’i
  18. Menyebarkan ilmu, berdasarkan firman Allah : “Agar engkau menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya”
  19. Mengagungkan Al-Qur’an, dengan cara mempelajari dan mengajarkannya, menjaga hukum-hukumnya, mengetahui halal haramnya, memuliakan para ahli dan huffazh-nya, serta takut pada ancaman-ancamannya
  20. Thaharah
  21. Sholat lima waktu
  22. Zakat
  23. Puasa
  24. I’tikaf
  25. Haji
  26. Jihad
  27. Menyusun kekuatan fii sabilillah
  28. Tegar di hadapan musuh, tidak lari dari medan peperangan
  29. Menunaikan khumus
  30. Membebaskan budak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
  31. Menunaikan kaffarat wajib : kaffarat pembunuhan, kaffarat zhihar, kaffarat sumpah, kaffarat bersetubuh di bulan Ramadhan ; demikian pula fidyah
  32. Menepati akad
  33. Mensyukuri nikmat Allah
  34. Menjaga lisan
  35. Menunaikan amanah
  36. Tidak melakukan pembunuhan dan kejahatan terhadap jiwa manusia
  37. Menjaga kemaluan dan kehormatan diri
  38. Menjaga diri dari mengambil harta orang lain secara bathil
  39. Menjauhi makanan dan minuman yang haram, serta bersikap wara’ dalam masalah tersebut
  40. Menjauhi pakaian, perhiasan, dan perabotan yang diharamkan oleh Allah
  41. Menjauhi permainan dan hal-hal sia-sia yang bertentangan dengan syariat Islam
  42. Sederhana dalam penghidupan (nafkah) dan menjauhi harta yang tidak halal
  43. Tidak benci, iri, dan dengki
  44. Tidak menyakiti atau mengganggu manusia
  45. Ikhlas dalam beramal karena Allah semata, dan tidak riya’
  46. Senang dan bahagia dengan kebaikan, sedih dan menyesal dengan keburukan
  47. Segera bertaubat ketika berbuat dosa
  48. Berkurban : hadyu, idul adh-ha, aqiqah
  49. Menaati ulul amri
  50. Berpegang teguh pada jamaah
  51. Menghukumi diantara manusia dengan adil
  52. Amar ma’ruf nahi munkar
  53. Tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa
  54. Malu
  55. Berbakti kepada kedua orang tua
  56. Menyambung kekerabatan (silaturrahim)
  57. Berakhlaq mulia
  58. Berlaku ihsan kepada para budak
  59. Budak yang menunaikan kewajibannya terhadap majikannya
  60. Menunaikan kewajiban terhadap anak dan isteri
  61. Mendekatkan diri kepada ahli din, mencintai mereka, dan menyebarkan salam diantara mereka
  62. Menjawab salam
  63. Mengunjungi orang yang sakit
  64. Mensholati mayit yang beragama Islam
  65. Mendoakan orang yang bersin
  66. Menjauhkan diri dari orang-orang kafir dan para pembuat kerusakan, serta bersikap tegas terhadap mereka
  67. Memuliakan tetangga
  68. Memuliakan tamu
  69. Menutupi kesalahan (dosa) orang lain
  70. Sabar terhadap musibah ataupun kelezatan dan kesenangan
  71. Zuhud dan tidak panjang angan-angan
  72. Ghirah dan Kelemahlembutan
  73. Berpaling dari perkara yang sia-sia
  74. Berbuat yang terbaik
  75. Menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua
  76. Mendamaikan yang bersengketa
  77. Mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga mencintainya untuk dirinya sendiri, dan membenci sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga membencinya untuk dirinya sendiri
Baca Juga:  Sifat Jaiz Bagi Allah, I'tiqad Ahlussunnah wal-Jama'ah

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik