Sejarah Penanggalan Bulan dalam Islam

Sejarah Penanggalan Bulan dalam Islam

PeciHitam.org – Dahulu sebelum masuknya agama Islam, masyarakat Arab belum mengenal kalender Hijriah atau kalender Bulan dalam Islam, pada saat itu kalender yang digunakan masyarakat Arab adalah kalender lunisolar. Dalam The Shorter Encyclopedia of Islam disebutkan bahwa kalender Arab pra Islam, sebagaimana kalender Yahudi, dimulai pada musim gugur.

Satu bulan dalam kalender Hijriah tidak pernah terlepas dari pergerakan Bulan dan Bumi. Waktu yang dibutuhkan oleh Bulan untuk mengelilingi Bumi dalam satu lingkaran penuh atau 360˚ rata-rata adalah 27h 7j 43m 12d atau 27,321661 hari. Artinya, jika pada suatu waktu Bulan berada pada titik yang searah dengan bintang tetap tertentu di langit, maka setelah 27h 7j 43m 12d ia akan kembali pada titik semula.

Periode perputaran Bulan mengelilingi Bumi (revolusi Bulan) dalam satu putaran penuh ini dinamakan satu bulan sideris atau asy-Syahr an-Nujumi. Selain mengelilingi Bumi, Bulan dan Bumi juga secara bersama-sama mengelilingi Matahari. Ketika lintasan Bulan mengelilingi Bumi tepat segaris dengan titik pusat Bumi dan titik pusat Matahari, saat inilah yang disebut dengan kongjungsi (conjunction / ijtima’).

Bulan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengelilingi Bumi dari satu konjungsi ke konjungsi yang berikutnya dibanding periode yang dibutuhkannya dalam mengelilingi Bumi satu putaran penuh (360˚). Periode yang dibutuhkan oleh Bulan dalam mengelilingi Bumi dari konjungsi satu ke konjungsi berikutnya rata-rata adalah 29h 12j 44m 3d atau 29,530589 yang dibulatkan menjadi 29 ½ hari (dari 29h 12j).

Baca Juga:  Menyingkap Rahasia Ilmu Laduni yang Dimiliki Para Waliyullah

Periode inilah yang dipakai sebagai dasar untuk menetapkan umur bulan dalam kalender Hijriah sehingga umur satu bulan dalam kalender Hijriah adalah 29 atau 30 hari yang disebut dengan bulan sinodis atau ays-Syahru al-Iqtirani. Oleh karena itu, satu tahun dalam kalender Hijriah berumur 12×29,530589 yakni 354,36707 hari.

Penanggalan Hijriah atau penanggalan bulan dalam Islam ini dimulai sejak tanggungjawab kepemimpinan umat Islam berada di tangan Umar bin Khattab yakni 2,5 tahun diangkat sebagai khalifah menggantikan kepemimpinan khalifah Abu Bakar as-Shiddiq.

Pada suatu saat terdapat persoalan yang menyangkut sebuah dokumen pengangkatan Abu Musa al-Asy’ari sebagai gubernur di Basrah yang terjadi pada bulan Sya’ban. Muncul pertanyaan bulan Sya’ban yang mana?. Selain itu, ketika Abu Musa al-Asy’ari mejadi gubernur, ia menerima surat dari khalifah Umar bin Khattab yang tanpa ada nomor bilangan tahunnya. Dan itu sering terjadi setiap khalifah Umar mengirim surat hanya ada tanggal dan bulan saja tanpa ada bilangan tahun.

Baca Juga:  Jika Masih Ada Yang Suka Nuduh Bid'ah, Bungkam Dengan Jawaban Ini

Sementara itu sebuah surat yang tanpa ada catatan tahunnya akan bermasalah dan menjadi persoalan serius jika diarsipkan ke dalam administrasi kenegaraan. Oleh sebab itu, Umar bin Khattab memanggil beberapa orang sahabat terkemuka guna membahas persoalan tersebut. Agar persoalan semacam itu tidak terulang lagi maka diciptakan penanggalan Hijriah dihitung mulai tahun yang didalamnya terjadi hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Dengan demikian penanggalan Hijriah itu diberlakukan mundur sebanyak 17 tahun.

Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun, karena petistiwa tersebut merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan Nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Sehingga pada saat ini, kita mengenal nama-nama bulan Islam (kalender Hijriyah), antara lain:

  1. Muharam = 30 hari
  2. Safar = 29 hari
  3. Rabiul awal = 30 hari
  4. Rabiul akhir = 29 hari
  5. Jumadil ula = 30 hari
  6. Jumadil akhir = 29 hari
  7. Rajab = 30 hari
  8. Sya’ban = 29 hari
  9. Ramadhan = 30 hari
  10. Syawal = 29 hari
  11. Zulkaidah = 30 hari
  12. Zulhijjah = 29/30 hari
Baca Juga:  Memahami Konsep Islam Moderat Dalam Pandangan Berbagai Tokoh

Tanggal 1 Muharram tahun 1 Hijriah ada yang berpendapat jatuh pada hari Kamis tanggal 15 Juli 622 M. Penetapan ini kalau berdasarkan pada hisab, sebab irtifa’ hilal pada hari Rabu 14 Juli 622 M sewaktu Matahari terbenam sudah mencapai 5 derajat 57 menit. Pendapat lain mengatakan 1 Muharam 1 Hijriah jatuh pada hari Jumat tanggal 16 Juli 622 M. Ini apabila permulaan bulan didasarkan pada rukyat, karena sekalipun posisi hilal pada menjelang 1 Muharam 1 Hijriah sudah cukup tinggi, namun waktu itu tidak satu pun didapati laporan hasil rukyat.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG