Surah Al-Hadid Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hadid Ayat 1-3

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hadid Ayat 1-3 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita mengetahui isi kandungan surah. surah ini dimulai dengan berita bahwa Allah disucikan oleh semua yang ada di langit dan di bumi, lalu dilanjutkan dengan keterangan tentang sebab-sebab penyucian itu, yaitu bahwa Allah adalah Pemilik kerajaan langit dan bumi, Maha Mengetahui dan bebas melakukan apa saja terhadap segala makhluk yang ada pada keduanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Selanjutnya, disebutkan pula perintah untuk beriman kepada Allah dan membelanjakan harta di jalan-Nya. Membelanjakan harta, menurut bagian surah selanjutnya terbagi menjadi beberapa tingkat, tergantung pada faktor apa yang mendorongnya.

Setelah itu, surah ini memaparkan gambaran orang-orang Mukmin di hari kiamat yang memancarakan cahaya, dari arah depan dan dari arah-arah sekitarnya. surah ini diakhiri dengan seruan kepada umat Islam untuk bertakwa, janji untuk melipatgandakan kasih sayang, dan janji untuk mendapatkan karunia yang tidak dapat diwujudkan oleh selain Allah.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 1-3

Surah Al-Hadid Ayat 1
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Terjemahan: Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Jalalain: سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ (Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah) memahasucikan-Nya dari semua yang tidak layak bagi-Nya. Huruf Lam adalah Zaidah, dan dipakai lafal Ma bukannya Man karena memandang dari segi mayoritasnya. وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ (Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya ٱلۡحَكِيمُ (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah swt. memberitahukan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Yakni, semua hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dan firman-Nya: وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ (“dan Dia Mahaperkasa”) yakni segala sesuatu tunduk kepada-Nya. ٱلۡحَكِيمُ (“lagi Mahabijaksana”) dalam penciptaan, perintah, dan syariat-Nya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini dijelaskan bahwa semua yang diciptakan Allah, baik yang berada di langit maupun yang berada di bumi seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, batu dan lain-lain yang bernyawa atau pun tidak, seharusnya setiap waktu dengan tulus dan ikhlas bertasbih kepada-Nya, menyatakan kebesaran-Nya, dan mengakui bahwa Dia-lah yang Mahakuasa.

Semuanya tunduk menyembah serta mematuhi segala perintah-Nya. Jika demikian, manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal seharusnya menyucikan Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam ayat lain yang menunjukkan kedudukan makhluk, Allah berfirman:

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isra’/17: 44)

Dia pulalah Yang Mahaperkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyaingi-Nya. Dia Mahabijaksana menciptakan, memerintah dan mengatur makhluk-Nya dengan peraturan yang sudah ditentukanNya, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: surah ini dimulai dengan berita bahwa Allah disucikan oleh semua yang ada di langit dan di bumi, lalu dilanjutkan dengan keterangan tentang sebab-sebab penyucian itu, yaitu bahwa Allah adalah Pemilik kerajaan langit dan bumi, Maha Mengetahui dan bebas melakukan apa saja terhadap segala makhluk yang ada pada keduanya.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 73-79; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Selanjutnya, disebutkan pula perintah untuk beriman kepada Allah dan membelanjakan harta di jalan-Nya. Membelanjakan harta, menurut bagian surah selanjutnya terbagi menjadi beberapa tingkat, tergantung pada faktor apa yang mendorongnya.

Setelah itu, surah ini memaparkan gambaran orang-orang Mukmin di hari kiamat yang memancarakan cahaya, dari arah depan dan dari arah-arah sekitarnya. Selain itu, dalam surah ini terdapat pula gambaran tentang orang munafik yang berusaha menunggu orang-orang Mukmin itu demi mengambil sedikit dari cahaya mereka.

Kedua kelompok ini dipisahkan oleh suatu pagar yang berpintu: bagian dalamnya berisi kasih sayang, sedang bagian luarnya adalah siksaan. Pembicaraan kemudian beralih kepada perintah kepada kaum mukminin untuk menundukkan hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah diturunkan (al-Qur’ân).

Selanjutnya surah ini memaparkan kepada kaum mukminin itu kedudukan orang-orang yang mempercayai, baik laki-laki maupun perempuan, di sisi Tuhan dan menerangkan bahwa tempat kembali orang-orang kafir dan pendusta adalah neraka Jahîm.

Ayat-ayat berikutnya berisikan tamsil tentang betapa remehnya kehidupan dunia dengan segala kesenangan yang ada di dalamnya, dan tamsil tentang betapa besarnya kesenangan dan azab akhirat. Pada bagian berikutnya, surah ini menyampaikan himbauan agar kita menjadi orang yang bersegera meminta ampunan, dan menenangkan hati dengan meyakini bahwa segala kebaikan dan keburukan yang menimpa sudah tercatat di sisi Allah, dengan harapan agar hati menjadi tunduk dan menerima ketentuan-Nya.

Pada bagian selanjutnya, surah ini membicarakan masalah pengutusan dan kesinambungan para rasul, dan bagaimana mereka didukung dengan bukti-bukti, kitab-kitab dan sarana- sarana kekuatan dan bagaimana mereka berbuat untuk meluruskan umat manusia secara adil. Dan, sebagai penutup, surah ini diakhiri dengan seruan kepada umat Islam untuk bertakwa, janji untuk melipatgandakan kasih sayang, dan janji untuk mendapatkan karunia yang tidak dapat diwujudkan oleh selain Allah.

Hal itu disebabkan karena karunia itu berada di tangan Allah. Dia bebas untuk memberikannya kepada siapa saja. Allah memiliki karunia yang besar.]] Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi–manusia, hewan dan benda mati–menyucikan Allah Yang Mahaperkasa, mengatur semua urusan dengan bijaksana.

Surah Al-Hadid Ayat 2
لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يُحۡىِۦ وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ

Terjemahan: Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يُحۡىِۦ (Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan) melalui penciptaan وَيُمِيتُ (dan mematikan) sesudah itu وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ (dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).

Tafsir Ibnu Katsir: لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يُحۡىِۦ وَيُمِيتُ (“Kepunyaan-Nya lah segala kerajaan lagit dan bumi. Dan menghidupkan dan mematikan.”) maksudnya Dia adalah Raja yang mengendalikan makhluk-Nya, menghidupkan, mematikan, dan memberi siapa saja yang Dia kehendaki.

وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ (“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”) artinya apa yang Dia kehendaki pasti akan terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini diterangkan bahwa kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dia-lah yang berkuasa melakukan sesuatu atas makhluk-Nya, menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memberikan rezeki kepada siapa saja yang kehendaki-Nya, sesuai dengan keadaan yang dikehendaki-Nya.

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 28-29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Hal ini mengharuskan manusia beribadah dan meminta pertolongan kepadaNya.

Tafsir Quraish Shihab: Hanya milik Allahlah, bukan milik yang lain, kerajaan langit dan bumi. Dia bebas melakukan apa saja terhadap segala sesuatu yang ada di kedua tempat itu, menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Surah Al-Hadid Ayat 3
هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: هُوَ ٱلۡأَوَّلُ (Dialah Yang Awal) sebelum segala sesuatu ada, keawalan Dia tidak ada permulaannya وَٱلۡءَاخِرُ (dan Yang Akhir) sesudah segala sesuatu berakhir, keakhiran-Nya tanpa batas وَٱلظَّٰهِرُ (dan Yang Maha Zahir) melalui bukti-bukti yang menunjukkan kezahiran Nya وَٱلۡبَاطِنُ (dan Yang Batin) yakni tidak dapat dilihat dan ditemukan oleh panca indra وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ (dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُ (“Dialah yang awal dan Yang akhir, Yang DhaHir dan Yang Bathin.”) ayat inilah yang diisyaratkan oleh hadits ‘Irbadh bin Sariyah di atas, yaitu merupakan ayat yang lebih baik dari seribu ayat. Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya, Abu Zumail memberitahu kami, ia bercerita:

“Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, lalu kukatakan: “Ada sesuatu yang aku dapati di dalam dadaku?” ia bertanya: “Apa itu?” lalu kukatakan: “Demi Allah, aku tidak akan menceritakannya.” Lalu ia bertanya kepadaku: “Apakah sesuatu iatu berupa keraguan?” kemudian ia tertawa seraya berkata:

“Tidak ada seorang pun yang terhindar dari hal itu. Sehingga Allah menurunkan firman-Nya [yang artinya]: ‘Maka jika engkau [Muhammad] berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebalummu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Rabbmu.” (Yunus: 94).”

Selanjutnya ia berkata kepadaku: “Jika engkau mendapati sesuatu di dalam dirimu, maka bacalah: هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ (“Dialah yang awal dan Yang akhir, Yang DhaHir dan Yang Bathin. Dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.”)”

Terdapat beberapa perbedaan ungkapan dari para ahli tafsir mengenai ayat ini, yang kurang lebih berkisar sepuluh sampai duapuluh pendapat.

Imam al-Bukhari meriwayatkan, Yahya berkata: “Yang mengetahui segala sesuatu secara lahir dan bathin.” Dan Syaikh kami, al-Hafizh al-Mizzi berkata: “Yahya disini adalah Ibnu Ziyad al-Farra’ yang ia mempunyai sebuah kitab yang diberi nama Ma’ani al-Qur’an.” Dan banyak hadits yang diriwayatkan berkenaan dengan hal tersebut.

Di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra.,bahwa Rasulullah saw. senantiasa berdoa ketika hendak tidur: AllaaHumma rabbas samaawaatis sab’i wa rabbil ‘arsyil ‘adhiim, rabbanaa wa rabba kulli syai-in, munzilat tauraata wal injiili wal furqaani, faaliqal habbi wannawaa laa ilaaHa illaa anta a-‘uudzubika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaashiyatiHi, antal awwalu falaisa qablaka syai-un, wa antal aakhiru falaisa ba’daka syai-un, wa antal baathinu laisa duunaka syai-un iq-dli ‘annaad daina, wa aghninaa minal faqri (“Ya Allah, Rabb langit yang berlapis tujuh, Rabb ‘Arsy yang Agung. Ya Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, yang telah menurunkan Taurat, Injil dan al-Furqaan, yang menumbuhkan biji tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Tidak ada Ilah selain Engkau. Aku berlindung kepadamu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Engkaulah yang awwal, tidak ada sesuatupun sebelum-Mu. Engkau adalah al-Akhir, tidak ada sesuatupun setelah-Mu. Engkaulah yang Dhahir, tidak ada sesuatupun yang mengungguli-Mu, dan Engkaulah yang bathin, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Mu. Berikanlah kemampuan kepada kami untuk melunasi hutang, dan bebaskanlah kami dari kefakiran [kemiskinan].” (HR Muslim dalam Shahih-nya).

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 26-27; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menyatakan bahwa Dialah Yang Awal, yang telah ada sebelum segala sesuatunya ada, karena Dia-lah yang menjadikannya, dan yang menciptakannya. Dia-lah Yang ¨ahir, yang nyata adanya, karena banyaknya buktibukti tentang adanya. Dialah Yang Mahatinggi dari apa saja, tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripada-Nya.

Dia-lah Yang Batin, Yang hakikat Zat-Nya tidak dapat digambarkan oleh akal. Dia mengetahui semua yang tersimpan, yang tidak nyata dan segala yang tersembunyi. Dia yang paling dekat kepada apa yang telah diciptakan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat kepada makhluk-Nya selain Dia; sebagaimana firmanNya:

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaf/50: 16)

Dalam hadis riwayat Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah: Fatimah datang kepada Nabi saw meminta seorang pembantu, lalu Nabi menyuruhnya berdoa, “Ya Allah, Tuhan segala sesuatu, yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, yang membelah bijibijian.

Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan setiap sesuatu. Engkaulah yang mengaturnya. Engkaulah Zat yang awal yang tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun, Engkaulah Zat yang akhir yang tidak ada sesudah-Mu sesuatu apa pun.

Engkaulah adz-¨ahir yang tidak ada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkaulah al-Bathin yang tidak ada sesuatu apa pun di bawah-Mu. Lunasilah hutang kami dan cukupilah kebutuhan kami. (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah).

Tafsir Quraish Shihab: Dia telah ada sebelum segala sesuatu ada; hidup kekal setelah segala sesuatu musnah; tampak pada segala sesuatu, karena segala sesuatu merupakan tanda adanya Tuhan; tidak tampak sehingga tak dapat dilihat oleh mata. Dia mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tidak.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hadid Ayat 1-3 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S