Surah Al-Hajj Ayat 18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hajj Ayat 18

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hajj Ayat 18 ini, Allah menegaskan lagi kekuasaan-Nya terhadap semua makhluk, yaitu semua yang di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang- bintang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan dan semua binatang melata tunduk dan mengikuti aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang diberikan-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menciptakan jagat raya ini dan mengaturnya dengan hukum dan ketentuan-Nya. Seperti adanya garis edar pada tiap-tiap planet yang ada di ruang angkasa.

Orang-orang yang beriman dalam ayat ini ialah orang-orang yang beriman kepada apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw, yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul yang telah diutus-Nya, hari Kiamat dan kepada adanya kadar baik dan kadar buruk.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj Ayat 18

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Terjemahan: Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Tafsir Jalalain: أَلَمْ تَرَ (Apakah kamu tiada melihat) tiada mengetahui أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ (bahwa kepada Allah bersujud makhluk yang ada di langit dan makhluk yang ada di bumi dan matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohon dan hewan-hewan yang melata) semuanya tunduk dan patuh menuruti apa yang dikehendaki-Nya,

وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ (dan sebagian besar daripada manusia?) adalah orang-orang Mukmin, yaitu dengan bertambah perasaan rendah diri dalam sujud salat mereka. وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ (Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya) mereka adalah orang-orang kafir, karena mereka membangkang tidak mau bersujud, sedangkan sujud itu adalah pertanda iman.

وَمَن يُهِنِ اللَّهُ (Dan barang siapa yang dihinakan Allah) disengsarakan-Nya فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ (maka tidak seorang pun yang memuliakannya) yang akan membahagiakannya. إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki) seperti menghinakan dan memuliakan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dialah yang berhak diibadahi, Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena segala sesuatu, baik secara taat atau terpaksa, harus sujud kepada keagungan-Nya. Dan sujudnya segala sesuatu secara taat atau terpaksa tersebut merupakan kekhususan bagi-Nya.

Baca Juga:  Surah Al-Waqiah Ayat 41-56; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ (“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi,”) yaitu dari kalangan Malaikat yang berada di segala penjuru langit dan hewan-hewan di segala penjuru, yang terdiri dari manusia, jin, binatang-binatang melata dan burung; وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ (“Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.”) (QS. Al Israa’: 44)

Firman-Nya: وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ (“Matahari, bulan, bintang,”) hal ini disebut untuk menjadi dalil, di mana semua itu disembah selain Allah. Maka, Dia menjelaskan bahwa semua itu sujud kepada Penciptanya dan semuanya diatur dan dikendalikan oleh-Nya.

Di dalam ash-Shahihain dari Abu Dzar ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Apakah engkau tahu ke mana perginya matahari ini?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau pun menjawab: “Sesungguhnya dia pergi, lalu sujud di bawah ‘Arsy, kemudian dia meminta perintah dan dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah ke tempat semula kamu datang.’”

Di dalam al-Musnad, Sunan Abi Dawud, Sunan an-Nasa’i dan Sunan Ibni Majah tentang hadits kusuf (gerhana), dinyatakan: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua makhluk ciptaan Allah. Keduanya tidak mengalami peristiwa gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Akan tetapi, jika Allah menampakkan pada makhluk-Nya, maka makhluk tersebut akan tunduk dan patuh kepada-Nya.”

Sedangkan sujudnya gunung-gunung dan pohon-pohon adalah dengan miringnya bayangan keduanya ke kanan dan ke kiri. Ibnu Abbas berkata: Seorang laki-laki datang dan bercerita: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku semalam bermimpi bahwa seakan-akan aku shalat di bawah sebuah pohon. Lalu aku sujud, maka pohon itu pun sujud karena sujudku dan aku mendengar dia berkata:

‘Ya Allah, catatlah untukku dengan amalan ini di sisi-Mu pahala yang dapat menghapuskan dosaku dan jadikanlah hal itu sebagai simpanan untukku di sisi-Mu serta terimalah dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu, Dawud.’”

IbnuAbbas berkata: “Lalu Rasulullah membaca ayat Sajdah, kemudian beliau pun sujud dan aku dengar beliau berdo’a seperti do’anya pohon yang diceritakan laki-laki itu.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Firman-Nya: وَالدَّوَابُّ (“Dan binatang-binatang yang melata”) yakni seluruh hewan. Telah tercantum di dalam hadits dari Imam Ahmad, bahwa Rasulullah saw. melarang membuat mimbar dari punggung binatang. Betapa banyak kendaraan yang ditunggangi lebih baik atau lebih banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala dari pada penunggangnya.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 49-51; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Firman-Nya: وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ (“Dan banyak di antara manusia,”) yaitu sujud kepada Allah dalam mentaati-Nya dan ikhtiarnya dalam melaksanakan ibadah. وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ (“Yang telah ditetapkan adzab atasnya,”) yaitu di antara orang yang enggan, sombong dan membangkang.

وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguh-nya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”)

Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Jika Bani Adam membaca ayat Sajdah, syaitan pun menyingkir, menangis dan berkata: ‘Aduhai celakalah! Bani Adam diperintahkan untuk sujud, maka ia sujud dan ia pun mendapatkan surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk sujud, akan tetapi aku menolak, maka aku pun mendapatkan neraka.’” (HR.Muslim)

Tafsir Kemenag: Sujud dalam ayat ini berarti mengikuti kehendak dan mengikuti hukum-hukum yang telah digariskan dan ditetapkan Allah. Dapat pula berarti menghambakan diri, beribadat dan menjalankan segala yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang. Sujud bila dihubungkan dengan makhluk Tuhan selain dari manusia, jin dan malaikat berarti tunduk mengikuti kehendak dan hukum-hukum atau kodrat yang ditentukan Allah,

mereka tidak dapat lepas dari ketentuan-ketentuan itu, baik secara sukarela maupun terpaksa. Sedang bagi manusia, jin dan malaikat, sujud berarti taat dan patuh kepada hukum-hukum Allah, taat melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya.

Pada ayat ini Allah menegaskan lagi kekuasaan-Nya terhadap semua makhluk, yaitu semua yang di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang- bintang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan dan semua binatang melata tunduk dan mengikuti aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang diberikan-Nya.

Allah menciptakan jagat raya ini dan mengaturnya dengan hukum dan ketentuan-Nya. Seperti adanya garis edar pada tiap-tiap planet yang ada di ruang angkasa. Tiap-tiap planet mengikuti garis edar yang telah ditentukan. Jika ia keluar dari garis edarnya itu maka ia akan berbenturan dengan planet-planet yang lain. Demikian pula tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang tumbuh menjadi besar dan berkembang mengikuti ketentuan-ketentuan Allah.

Dalam tafsir al-Maragi disebutkan bahwa dalam ayat ini disebut matahari, bulan, bintang-bintang dan sebagainya secara khusus adalah untuk mengingatkan bahwa makhluk-makhluk itu termasuk makhluk yang disembah manusia selain Allah, seperti penduduk Himyar menyembah matahari, Bani Kinanah menyembah bulan, bintang Syi`ra disembah oleh Bani Lahm, bintang Surayya disembah oleh orang thayyai, penduduk Mesir kuno menyembah patung anak sapi atau burung Ibis.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 73-74; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Seakan-akan ayat ini menegaskan bahwa semuanya itu tidak pantas disembah karena semuanya itu termasuk makhluk-makhluk Tuhan yang mengikuti kehendak dan hukum-hukum Allah. Hanya Allah saja yang berhak disembah.

Allah menerangkan bahwa banyak manusia yang beriman, taat dan patuh kepada Allah dengan benar, karena merasakan kebesaran dan kekuasaan atas diri mereka. Karena itu mereka beribadat dengan sungguh-sungguh, melaksanakan semua perintah Allah dan menghentikan semua larangan-Nya.

Mereka melakukan semua perbuatan yang menyebabkan Allah sayang kepada mereka, sehingga Allah memberikan pahala dan memuliakan mereka. Ada pula manusia yang tidak beriman dengan benar kepada Allah atau tidak mau merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya, ia melakukan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan Allah marah kepadanya, karena itu mereka pantas mendapat kemurkaan dan kehinaan dari Allah.

Siapa yang mendapat kehinaan dan murka Allah akan masuk neraka, tidak ada seorang pun yang dapat membela dan melepaskannya dari azab Allah, karena segala kekuasaan berada di tangan Allah. Sebaliknya Allah memuliakan orang yang beriman dengan benar, berbuat baik, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga.

Tafsir Quraish Shihab: Tidak tahukah kamu, wahai orang yang berakal, bahwa apa pun yang ada di bumi dan di langit, juga matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon, dan binatang, semuanya tunduk di bawah kepengurusan Allah. Setelah itu, sebagian orang ada yang beriman kepada Allah dan tunduk kepada ajaran- ajaran-Nya, maka mereka berhak mendapatkan surga.

Sementara sebagian lainnya tidak beriman dan tidak melaksanakan ajaran-ajaran-Nya, maka mereka pantas mendapatkan azab dan penghinaan. Barangsiapa yang diusir oleh Allah dari kasih sayang-Nya, tidak ada seorang pun yang dapat menghormatinya. Allah benar-benar Mahakuasa atas segala sesuatu dan berbuat menurut kehendak-Nya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hajj Ayat 18 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S