Surah Al-Kahfi Ayat 66-70; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Kahfi Ayat 66-70

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 66-70 ini, Allah menyatakan maksud Nabi Musa a.s. datang menemui Khidir, yaitu untuk berguru kepadanya. Nabi Musa memberi salam kepada Khidir dan berkata kepadanya, “Saya adalah Musa.” Khidir bertanya,

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

“Musa dari Bani Israil?” Musa menjawab, “Ya, benar!” Maka Khidir memberi hormat kepadanya seraya berkata, “Apa keperluanmu datang kemari?” Nabi Musa menjawab bahwa beliau datang kepadanya supaya diperkenankan mengikutinya dengan maksud agar Khidir mau mengajarkan kepadanya sebagian ilmu yang telah diajarkan Allah kepadanya, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Khidir dapat menerima Musa a.s. dengan pesan, “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku (Khidir) maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya.”

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 66-70

Surah Al-Kahfi ayat 66
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Terjemahan: Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

Tafsir Jalalain: قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (Musa berkata kepada Khidhir, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?)” yakni ilmu yang dapat membimbingku.

Menurut suatu qiraat dibaca Rasyadan. Nabi Musa meminta hal tersebut kepada Khidhir. karena menambah ilmu adalah suatu hal yang dianjurkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah swt menceritakan tentang ucapan Musa kepada orang alim, yakni Khidhir yang secara khusus diberi ilmu oleh Allah Ta’ala yang tidak diberikan kepada Musa as, sebagaimana Dia juga telah menganugerahkan ilmu kepada Musa yang tidak Dia berikan kepada Khidhir.

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ (“Musa berkata kepada Khidhir: ‘Bolehkah aku mengikutimu.’”) Yang demikian itu merupakan pertanyaan yang penuh kelembutan, bukan dalam bentuk keharusan dan pemaksaan. Demikian itulah seharusnya pertanyaan seorang pelajar kepada orang berilmu. Dan ucapan Musa, “Bolehkah aku mengikutimu?” Yakni menemanimu.

عَلَى أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (“Supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”) Maksudnya, sedikit ilmu yang telah diajarkan Allah Ta’ala kepadamu agar aku dapat menjadikannya sebagai petunjuk dalam menangani urusanku, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menyatakan maksud Nabi Musa a.s. datang menemui Khidir, yaitu untuk berguru kepadanya. Nabi Musa memberi salam kepada Khidir dan berkata kepadanya, “Saya adalah Musa.” Khidir bertanya, “Musa dari Bani Israil?” Musa menjawab,

“Ya, benar!” Maka Khidir memberi hormat kepadanya seraya berkata, “Apa keperluanmu datang kemari?” Nabi Musa menjawab bahwa beliau datang kepadanya supaya diperkenankan mengikutinya dengan maksud agar Khidir mau mengajarkan kepadanya sebagian ilmu yang telah diajarkan Allah kepadanya, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Baca Juga:  Surah Luqman Ayat 12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dalam ayat ini, Allah menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan.

Itu berarti bahwa Nabi Musa sangat menjaga kesopanan dan merendahkan hati. Beliau menempatkan dirinya sebagai orang yang bodoh dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya Khidir sudi mengajarkan sebagian ilmu yang telah diberikan kepadanya. Menurut al-Qadhi, sikap demikian memang seharusnya dimiliki oleh setiap pelajar dalam mengajukan pertanyaan kepada gurunya.

Surah Al-Kahfi Ayat 67
قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

Terjemahan: Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.

Tafsir Jalalain: قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”).

Tafsir Ibnu Katsir: Pada saat itu Khidhir: قَالَ (“Berkata”) kepada Musa, إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.”) Maksudnya, sesungguhnya engkau tidak akan mampu menemaniku, sebab engkau akan menyaksikan berbagai tindakanku yang bertentangan dengan syari’atmu, karena aku bertindak berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadaku dan tidak Dia ajarkan kepadamu.

Engkau juga mempunyai ilmu yang diajarkan Allah kepadamu tetapi tidak Dia ajarkan kepadaku. Dengan demikian, masing-masing kita dibebani berbagai urusan dari-Nya yang saling berbeda, dan engkau tidak akan sanggup menemaniku.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Khidir menjawab pertanyaan Nabi Musa sebagai berikut, “Hai Musa, kamu tak akan sabar mengikutiku. Karena saya memiliki ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku yang kamu tidak mengetahuinya, dan kamu memiliki ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu yang aku tidak mengetahuinya.”

Kemampuan Khidir meramal sikap Nabi Musa kalau sampai menyertainya didasarkan pada ilmu ladunni yang telah beliau terima dari Allah di samping ilmu anbiya’ yang dimilikinya, seperti tersebut dalam ayat 65 di atas. Dan memang demikianlah sifat dan sikap Nabi Musa yang keras dalam menghadapi kenyataan-kenyataan yang bertentangan dengan syariat yang telah beliau terima dari Allah.

Surah Al-Kahfi Ayat 68
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

Terjemahan: Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Tafsir Jalalain: وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (“Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”) di dalam hadis yang telah disebutkan tadi sesudah penafsiran ayat ini disebutkan, bahwa Khidhir berkata kepada Nabi Musa,

“Hai Musa! Sesungguhnya aku telah menerima ilmu dari Allah yang Dia ajarkan langsung kepadaku; ilmu itu tidak kamu ketahui. Tetapi kamu telah memperoleh ilmu juga dari Allah yang Dia ajarkan kepadamu, dan aku tidak mengetahui ilmu itu”. Lafal Khubran berbentuk Mashdar maknanya kamu tidak menguasainya, atau kamu tidak mengetahui hakikatnya.

Baca Juga:  Surah Al-Mulk Ayat 20-27; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”) Aku mengetahui bahwa kamu akan menolak apa yang kamu tidak mengetahui alasannya. Tetapi aku telah mengetahui hikmah dan kemaslahatan yang tersimpan di dalamnya, sedang kamu tidak mengetahuinya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Khidir menegaskan kepada Nabi Musa tentang sebab beliau tidak akan sabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Di sana Nabi Musa akan melihat kenyataan bahwa pekerjaan Khidir secara lahiriah bertentangan dengan syariat Nabi Musa a.s.

Oleh karena itu, Khidir berkata kepada Nabi Musa, “Bagaimana kamu dapat bersabar terhadap perbuatan-perbuatan yang lahirnya menyalahi syariatmu, padahal kamu seorang nabi.

Atau mungkin juga kamu akan mendapati pekerjaan-pekerjaanku yang secara lahiriah bersifat mungkar, sedang pada hakikatnya kamu tidak mengetahui maksud atau kemaslahatannya.

Sebenarnya memang demikian sifat orang yang tidak bersabar terhadap perbuatan mungkar yang dilihatnya. Bahkan segera ia mengingkarinya.

Surah Al-Kahfi Ayat 69
قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Terjemahan: Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

Tafsir Jalalain: قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي (Musa berkata, “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentang) yakni tidak akan mendurhakai لَكَ أَمْرًا (kamu dalam sesuatu urusan pun)” yang kamu perintahkan kepadaku.

Nabi Musa mengungkapkan jawabannya dengan menggantungkan kemampuannya kepada kehendak Allah, karena ia merasa kurang yakin akan kemampuan dirinya di dalam menghadapi apa yang harus ia lakukan.

Hal ini merupakan kebiasaan para nabi dan para wali Allah, yaitu mereka sama sekali tidak pernah merasa percaya terhadap dirinya sendiri walau hanya sekejap, sepenuhnya mereka serahkan kepada kehendak Allah.

Tafsir Ibnu Kasir: Musa berkata: سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا (“Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar”) yakni atas apa yang aku saksikan dari beberapa tindakanmu.”)

وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (“Dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.”) Maksudnya, dan aku tidak menentangmu mengenai sesuatu. Pada saat itu, Khidhir memberikan syarat kepada Musa: qaala fa init taba’tanii falaa tas-alnii ‘an syai-in (“Ia berkata, ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun.’”) Yakni, dalam taraf pertamanya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Nabi Musa berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Khidir. Beliau juga berjanji akan melaksanakan perintah Khidir selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah. Janji yang beliau ucapkan dalam ayat ini didasari dengan kata-kata “insya Allah” karena beliau sadar bahwa sabar itu perkara yang sangat besar dan berat, apalagi ketika melihat kemungkaran.

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 9-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Kahf Ayat 70
قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَن شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

Terjemahan: Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

Tafsir Jalalain: قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي (Dia mengatakan, “Jika kamu ingin mengikuti saya, maka janganlah kamu menanyakan kepada saya) Dalam satu qiraat dibaca dengan Lam berbaris fatah dan Nun bertasydid عَن شَيْءٍ (tentang sesuatu) yang kamu ingkari menurut pengetahuanmu dan bersabarlah kamu jangan menanyakannya kepadaku

حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا (sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu)” hingga aku menuturkan perihalnya kepadamu berikut sebab musababnya. Lalu Nabi Musa menerima syarat itu, yaitu memelihara etika dan sopan santun murid terhadap gurunya.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَن شَيْءٍ (“Ia berkata, ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun.’”) Yakni, dalam taraf pertamanya.

حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا (“Sampai aku sendiri yang menjelaskannya kepadamu.”) Yakni, sehingga aku yang mulai memberikan penjelasan kepadamu sebelum kamu bertanya kepadaku.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Khidir dapat menerima Musa a.s. dengan pesan, “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku (Khidir) maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya.”

Nabi Musa mau menerima syarat itu, memang sebenarnya sikap Nabi Musa yang demikian itu merupakan sopan-santun orang yang terpelajar terhadap cendekiawan, sikap sopan-santun murid dengan gurunya atau sikap pengikut dengan yang diikutinya. Kadang-kadang rahasia guru atau orang yang diikuti belum tentu dipahami oleh murid atau pengikutnya ketika itu juga, tetapi baru dapat dipahami kelak di kemudian hari.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 70 berdasarkan Tafsir Jalalain,Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S