Surah Al-Mumtahanah Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mumtahanah Ayat 1-3

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mumtahanah Ayat 1-3 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita mengetahui isi kandungan surah. Surah ini diawali dengan larangan kepada orang-orang Mukmin untuk menjadikan orang-orang musyrik yang merupakan musuh Allah dan musuh mereka sebagai teman, karena mereka tetap tidak mau meninggalkan sikap kafir dan karena mereka mengusir Rasulullah dan orang-orang Mukmin dari kampung halamannya, Mekah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada bagian selanjutnya, diterangkan tentang siapa-siapa sajakah, selain orang Islam, yang boleh dijadikan teman pergaulan dan siapa saja yang tidak boleh. Mereka yang tidak memerangi kita dan tidak membantu pihak-pihak yang memerangi kita, harus kita perlakukan secara adil dan baik. Sebaliknya, mereka yang memerangi dan mengusir kita dari kampung halaman, Allah melarang kita untuk mengadakan hubungan dan memperlakukan mereka dengan baik.

Selanjutnya Surah ini menerangkan hukum wanita-wanita mukminah yang berhijrah ke daerah kekuasaan Islam dan meninggalkan para suami-suami mereka dalam keadaan musyrik. Selain itu, Surah ini juga menerangkan hukum orang-orang musyrik wanita yang ditinggalkan para suami mereka di daerah kekuasaan orang-orang musyrik.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah Ayat 1-3

Surah Al-Mumtahanah Ayat 1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَقَدۡ كَفَرُواْ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلۡحَقِّ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ أَن تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدًا فِى سَبِيلِى وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِى تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ

Terjemahan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Tafsir Jalalain: Al-Mumtahanah (Wanita yang Diuji) يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمۡ (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian) yakni orang-orang kafir Mekah أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ (menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan) kalian beritakan إِلَيۡهِم (kepada mereka) tujuan Nabi saw. yang akan memerangi mereka; Nabi memerintahkan kepada kalian supaya merahasiakannya yaitu sewaktu perang Hunain بِٱلۡمَوَدَّةِ (karena rasa kasih sayang) di antara kalian dan mereka.

Sehubungan dengan peristiwa ini Hathib bin Abu Balta’ah mengirimkan sepucuk Surah kepada orang-orang musyrik, karena Hathib mempunyai beberapa orang anak dan sanak famili yang musyrik. Akan tetapi Nabi saw. dapat mengambil surah itu dari tangan orang yang diutus olehnya, berkat pemberitahuan dari Allah kepada Nabi saw. melalui wahyu-Nya. Lalu alasan dan permintaan maaf Hathib diterima oleh Nabi saw.

وَقَدۡ كَفَرُواْ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلۡحَقِّ (padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian) yakni agama Islam dan Alquran يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ (mereka mengusir Rasul dan mengusir kalian) dari Mekah setelah terlebih dahulu mereka mengganggu kalian supaya kalian keluar dari Mekah أَن تُؤۡمِنُواْ (karena kalian beriman) disebabkan kalian beriman بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدًا (kepada Allah, Rabb kalian. Jika kalian benar-benar keluar untuk berjihad) untuk melakukan jihad فِى سَبِيلِى وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِى (pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku) maka janganlah kalian mengambil mereka sebagai teman-teman setia. Jawab syarat ini disimpulkan dari pengertian ayat yang selanjutnya, yaitu:

تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ (Kalian memberitahukan secara rahasia kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya) yaitu memberitahukan berita-berita Nabi saw. kepada orang-orang musyrik secara rahasia فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ (maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus) artinya menyimpang dari jalan hidayah. Lafal as-sawaa menurut pengertian asalnya berarti tengah-tengah.

Tafsir Ibnu Katsir: Yang menjadi sebab turunnya awal surah ini adalah kisah Hathib bin Abi Balta’ah. Dikisahkan, Hathib adalah salah seorang di antara kaum Muhajirin yang juga orang yang termasuk mengikuti perang Badar. Di Makkah dia mempunyai beberapa orang anak, dan dia bukan orang Quraisy. Tetapi ia adalah seorang sekutu ‘Utsman.

Ketika Rasulullah saw. bertekad untuk menaklukkan kota Makkah setelah penduduknya melanggar perjanjian, beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap berperang dengan mereka secara terang-terangan. Beliau bersabda: “Ya Allah rahasiakanlah kepada mereka berita kami ini.”

Kemudian Hathib muncul, lalu ia menulis Surah dan mengirimkannya melalui seorang wanita dari suku Quraisy kepada penduduk Makkah untuk memberitahukan kepada mereka tentang tekad Rasulullah saw. untuk memerangi mereka, supaya mereka bersiap-siap.

Kemudian Allah memperlihatkan hal tesebut kepada Rasul-Nya sebagai bentuk pengabulan-Nya terhadap doa beliau. Lalu Rasulullah saw. mengirimkan utusan untuk menyusul wanita tersebut. Utusan beliau pun mengambil Surah dari wanita itu. Hal teresebut telah dikemukakan dalam hadits yang sudah disepakati keshahihannya.

Imam Ahmad meriwayatkan, Sufyan memberitahu kami dari pamannya, dari Hasan bin Muhammad bin ‘Ali dari ‘Abdullah bin Abi Rafi’, Murrah berkatan: Sesungguhnya ‘Ubaidullah bin Abi Rafi’ memberitahunya, bahwa ia pernah mendengar ‘Ali bercerita: Rasulullah saw. pernah mengutusku, az-Zubair dan al-Miqdad. Lalu beliau bersabda:

“Pergilah kalian hingga sampai ke kebun Khakh. Disana terdapat seorang wanita yang memegang Surah, ambillah Surah itu darinya.” Kamipun pergi melarikan kuda kami hingga sampai di kebun itu. Ketika kami bertemu wanita itu, kami berkata:

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 39-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Keluarkanlah Surah itu.” Ia mengatakan: “Aku tidak membawa Surah.” Kami berkata: “Kamu keluarkan Surah itu atau kamu tinggalkan pakaianmu.” Lalu ia mengeluarkan Surah itu dari sanggulnya. Kami pun mengambil Surah itu dan memberikannya kepada Rasulullah saw. Ternyata Surah dari Hathib bin Abi Balta’ah yang dialamatkan kepada kaum musyrikin Makkah.

Surah itu memberitahukan kepada mereka tentang sebagian perkara yang akan dilakukan oleh Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. bertanya: “Hai Hathib, apa ini?” Hathib berkata: “Jangan engkau terburu-buru [berprasangka buruk] terhadapku. Dahulu aku adalah orang yang berada [hidup] di dekat orang-orang Quraisy, namun aku bukan dari kalangan mereka.

Sedangkan kaum Muhajirin yang ada bersamamu selalu memberikan perlindungan kepada keluarga mereka yang berada di Makkah. Oleh karena itu aku sangat ingin membantu melindungi keluargaku, meskipun aku tidak mempunyai hubungan nasab dengan mereka. Aku tidak melakukan semua itu karena kufur, murtad dari agamaku dan rela terhadap kekafiran setelah aku masuk Islam.”

Lalu ‘Umar pun berkata: “Biarkan aku penggal leher orang munafik ini.” Maka Rasulullah saw. pun bersabda: “Dia telah mengikuti perang Badar, dan engkau tidak tahu bahwa Allah telah mengetahui seluk beluk para prajurit perang Badar itu. Allah swt. berfirman: “Berbuatlah sekehendak kalian, karena Aku telah memberikan ampunan kepada kalian.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Jama’ah kecuali Ibnu Majah dari Sufyan bin ‘Uyainah. Dan Imam al-Bukhari menambahkan dalam kitab al-Maghaazi [peperangan] dalam shahihnya: “Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ (“hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.”)

Dengan demikian firman Allah: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَقَدۡ كَفَرُواْ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلۡحَقِّ (“hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka [berita-berita Muhammad] karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.”) yakni orang-orang musyrik dan kafir yang memerangi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang Dia telah menetapkan permusuhan dan perlawanan terhadap mereka.

Dan Dia melarang kaum muslimin menjadikan mereka itu sebagai teman setia atau sahabat. Sebagaimana difirmankan Allah yang artinya sebagai berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Yang demikian itu merupakan kecaman keras sekaligus ancaman yang sangat tegas. Allah berfirman yang artinya: “28. janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imraan: 28)

Oleh karena itu Rasulullah menerima alasan Hathib ketika ia menyebutkan bahwa apa yang ia lakukan itu hanya sebagai suatu siasat terhadap suku Quraisy untuk menjaga harta dan anak-anaknya di tengah-tengah mereka.

Dan firman Allah: يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ (“Mereka mengusir Rasul dan [mengusir]mu.”) demikianlah kenyataannya, disyariatkan permusuhan terhadap mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai teman setia, karena mereka telah mengusir Rasulullah saw. dan para shahabatnya dari tengah-tengah mereka sebagai bentuk kebencian terhadap apa yang ada pada Rasulullah saw. dan para shahabatnya berupa tauhid dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Oleh karena itu Allah berfirman: أَن تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ (“Karena kamu beriman kepada Allah, Rabb-mu.”) maksudnya, kalian tidak mempunyai kesalahan terhadap mereka kecuali keimanan kalian kepada Allah, Rabb seru sekalian alam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini: (“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji.”) (al-Buruuj: 8)

Firman Allah: إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدًا فِى سَبِيلِى وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِى (“Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridlaan-Ku.”) maksudnya jika kalian seperti itu, maka janganlah kalian menjadikan mereka sebagai teman setia jika kalian benar-benar akan pergi berjihad di jalan-Ku (Allah) dengan tujuan mencari keridlaan-Ku.

Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan musuh-musuh-Ku dan juga musuh-musuh kalian sebagai teman setia kalian. Karena mereka telah mengusir kalian dari negeri dan harta kalian serta murka terhadap agama kalian.

Firman Allah: تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡ (“Kamu memberikan secara rahasia [berita-berita Muhammad] kepada mereka karena kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”) maksudnya kalian perbuat semua itu, sedang Aku Mahamengetahui semua rahasia, bisikan hati dan yang terang-terangan.

وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ( Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Tafsir Kemenag: Ayat ini memperingatkan kaum Muslimin agar tidak mengadakan hubungan kasih sayang dengan kaum musyrik yang menjadi musuh Allah dan kaum Muslimin. Sebab, dengan adanya hubungan yang demikian itu, tanpa disadari mereka telah membukakan rahasia-rahasia kaum Muslimin, menyampaikan sesuatu yang akan dilaksanakan Rasulullah saw kepada mereka dalam usaha menegakkan kalimat Allah.

Oleh karena itu, kaum Muslimin dilarang melakukan yang demikian sekalipun kepada kaum kerabatnya. Menjadikan orang-orang kafir yang memusuhi kaum Muslimin sebagai teman setia dan penolong adalah suatu hal yang dilarang. Hal ini tidak boleh dilakukan selama orang-orang kafir itu ingin menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin.

Baca Juga:  Surah Al Mulk; Profil, Makna dan Keutamaan Membacanya

Allah kemudian menjelaskan penyebab larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia, yaitu: 1. Mereka menyangkal dan tidak membenarkan semua yang dibawa Rasulullah. Mereka ingkar kepada Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an. Mungkinkah orang yang seperti itu dijadikan penolong-penolong dan teman setia? Kemudian disampaikan kepada mereka rahasia-rahasia yang bermanfaat bagi mereka dan menimbulkan bahaya bagi kaum Muslimin?

2. Mereka telah mengusir Rasulullah saw dan orang-orang Muhajirin dari kampung halaman mereka karena beriman kepada Allah, bukan karena sebab yang lain. Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah: Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji (al-Buruj/85: 8) Dan Firman Allah:

(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.

Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa (al-hajj/22: 40) Allah memperingatkan kaum Muslimin bahwa jika mereka keluar dari kampung halaman atau terusir karena berjihad di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya, maka janganlah sekali-kali menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman setia dan penolong-penolong mereka.

Cukuplah kaum Muslimin menderita akibat tindakan-tindakan mereka, dan jangan sekali-kali memberi kesempatan kepada mereka menambah penderitaan kaum Muslimin. Bagaimana mungkin ada di antara kaum Muslimin melakukan seperti yang dilakukan hathib yang menyampaikan kepada orang-orang kafir langkah-langkah yang akan diambil Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir? Allah Mahatahu segala yang dilakukan hamba-hamba-Nya.

Oleh karena itu, Dia menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, sehingga beliau segera dapat mengambil tindakan. Dengan demikian, kaum Muslimin tidak dirugikan. Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa barang siapa yang berkasih-kasihan dengan musuh Islam dan menjadikan mereka penolong-penolong, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini diawali dengan larangan kepada orang-orang Mukmin untuk menjadikan orang-orang musyrik–yang merupakan musuh Allah dan musuh mereka–sebagai teman, karena mereka tetap tidak mau meninggalkan sikap kafir dan karena mereka mengusir Rasulullah dan orang-orang Mukmin dari kampung halamannya, Mekah.

Dijelaskan, misalnya, bahwa permusuhan mereka terhadap orang-orang Mukmin yang selama ini terpendam serta-merta muncul saat mereka mampu menemui mereka. Pembicaraan selanjutnya beralih kepada keterangan tentang teladan pada diri Ibrâhîm a. s. dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika membebaskan kaumnya dari orang-orang musyrik dan sembahan mereka dan menyatakan permusuhan terhadap mereka, hingga akhirnya hanya beriman kepada Allah.

Dengan begitu, ia telah menjelaskan bahwa hal itu adalah sifat orang-orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan takut kepada siksa-Nya. Pada bagian selanjutnya, diterangkan tentang siapa-siapa sajakah, selain orang Islam, yang boleh dijadikan teman pergaulan dan siapa saja yang tidak boleh.

Mereka yang tidak memerangi kita dan tidak membantu pihak-pihak yang memerangi kita, harus kita perlakukan secara adil dan baik. Sebaliknya, mereka yang memerangi dan mengusir kita dari kampung halaman, Allah melarang kita untuk mengadakan hubungan dan memperlakukan mereka dengan baik.

Selanjutnya Surah ini menerangkan hukum wanita-wanita mukminah yang berhijrah ke daerah kekuasaan Islam dan meninggalkan para suami-suami mereka dalam keadaan musyrik. Selain itu, Surah ini juga menerangkan hukum orang-orang musyrik wanita yang ditinggalkan para suami mereka di daerah kekuasaan orang-orang musyrik. Berikutnya, keterangan tentang wanita yang membaiat Rasulullah saw.

Akhirnya, Surah ini ditutup dengan penekanan kembali larangan menjadikan musuh-musuh yang dimurkai Allah sebagai teman, seperti yang disebutkan dalam permulaan Surah.]] Wahai orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-Nya, Janganlah kalian menjadikan musuh- musuh-Ku dan musuh-musuh kalian sebagai penolong tempat kalian mencurahkan rasa cinta yang murni, sedangkan mereka mengingkari ajaran yang datang kepada kalian tentang keimanan kepada Allah, Rasul, dan kitab suci-Nya, serta mengusir Rasulullah bersama kalian dari kampung halaman, karena kalian beriman kepada Allah, Tuhan kalian!

Jangan lakukan hal itu pada saat kalian pergi untuk berjuang di jalan-Ku dan mencari kerelaan-Ku! Kalian mempersembahkan rasa cinta secara diam-diam kepada mereka, padahal Aku mengetahui segala sesuatu yang kalian sembunyikan dan yang kalian perlihatkan. Barangsiapa menjadikan musuh Allah sebagai teman, ia benar-benar telah tersesat dari jalan yang lurus.”

Surah Al-Mumtahanah Ayat 2
إِن يَثۡقَفُوكُمۡ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءً وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ

Terjemahan: “Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.

Tafsir Jalalain: إِن يَثۡقَفُوكُمۡ (Jika mereka menangkap kalian) yakni berhasil menahan kalian يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءً وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ (niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian dan melepaskan tangan mereka kepada kalian) maksudnya membunuh dan memukuli kalian وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ (dan lisan mereka mengeluarkan kata-kata yang kotor) yakni mencaci maki kalian وَوَدُّواْ (dan mereka ingin) mengharapkan لَوۡ تَكۡفُرُونَ (supaya kalian kafir kembali).

Tafsir Ibnu Katsir: ِإِن يَثۡقَفُوكُمۡ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءً وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ (“Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti[mu].”) maksudnya jika mereka menguasaimu, mereka pasti tidak dapat menjaga lidah dan perbuatan mereka sebagai sarana untuk menyakiti kalian.

Baca Juga:  Surah Al-Mumtahanah Ayat 13; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ (“dan mereka ingin supaya kamu [kembali] kafir.”) mereka berkeinginan keras agar kalian tidak mendapatkan kebaikan apapun, permusuhan mereka terhadap kalian akan tetap ada dan tampak jelas, maka bagaimana mungkin kalian berteman setia dengan orang-orang seperti ini? Yang demikian itu merupakan pendorong untuk mengadakan permusuhan dengan mereka.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan sebab-sebab yang lain Allah melarang kaum Muslimin berteman akrab dan saling menolong dengan orang kafir, yaitu: 1. Jika suatu waktu mereka menangkap atau mengalahkan kaum Muslimin, mereka pasti akan melakukan kezaliman yang di luar dugaan. Mereka berteman dengan kaum Muslimin semata-mata mencari keuntungan bagi diri dan golongan mereka. Bila tidak ada keuntungan yang diharapkan, mereka akan menjauhkan diri, bahkan akan menghancurkan kaum Muslimin.

2. Mereka selalu berusaha menjelek-jelekkan dan memusuhi kaum Muslimin. Bagaimana mungkin ada satu atau sebagian dari kaum Muslimin membukakan rahasia kepada mereka atau berteman erat dengan mereka. Orang yang dapat dijadikan teman itu hanyalah orang yang menginginkan kebaikan untuk kita, bukan sebaliknya.

3. Mereka mengharapkan kaum Muslimin mengingkari kebenaran dan kafir kepada Allah, sehingga kaum Muslimin sama dengan mereka, yaitu sama-sama kafir. Oleh karena itu, mereka hanya mau berteman erat atau bertolong-tolongan dengan kaum Muslimin selama hal itu bisa memenuhi keinginan-keinginan mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Jika berhasil menemui kalian, rasa permusuhan mereka kepada kalian menjadi tampak. Melalui perbuatan dan ucapan, mereka berbuat sesuatu yang berakibat buruk kepada kalian. Mereka mengharapkan kalian menjadi kafir seperti mereka.

Surah Al-Mumtahanah Ayat 3
لَن تَنفَعَكُمۡ أَرۡحَامُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَفۡصِلُ بَيۡنَكُمۡ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ

Terjemahan: “Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Tafsir Jalalain: لَن تَنفَعَكُمۡ أَرۡحَامُكُمۡ (Tidak akan bermanfaat bagi kalian karib kerabat kalian) famili-famili kalian وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ (dan anak-anak kalian) yang musyrik, karena kalian memberitahukan berita-berita Nabi secara rahasia kepada mereka; mereka semuanya sekali-kali tiada bermanfaat bagi diri kalian untuk menolak azab di hari akhirat يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَفۡصِلُ (pada hari kiamat Dia akan memisahkan) dapat dibaca yafshilu dan yufshalu بَيۡنَكُمۡ (antara kalian) dan antara mereka; karena kalian berada di dalam surga, sedangkan mereka bersama-sama dengan orang-orang kafir di dalam neraka. وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ (Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: لَن تَنفَعَكُمۡ أَرۡحَامُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَفۡصِلُ بَيۡنَكُمۡ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ (“Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tidak bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.”) yakni kaum kerabat kalian tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi kalian di sisi Allah jika Dia menghendaki keburukan menimpa diri kalian. Dan kemanfaatan mereka pun tidak akan sampai pada kalian jika kalian mencari kerelaan mereka dengan cara melakukan sesuatu yang dimurkai Allah.

Barangsiapa yang menyutujui kekufuran keluarganya supaya mereka senang, maka sesungguhnya ia benar-benar merugi lagi sesat. Dan kaum kerabatnya sama sekali tidak membawa manfaat baginya di sisi Allah, meskipun ia merupakan kerabat dekat salah seorang Nabi.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwasannya ada seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulallah, dimanakah ayahku?” Beliau menjawab: “Di neraka.” setelah itu ia pergi sambil menunduk, Rasulullah saw. memanggilnya dan bersabda: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu ada di neraka.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari hadits Hammad bin Salamah.

Tafsir Kemenag: Pada hari Kiamat setiap orang mempertanggungjawabkan diri mereka masing-masing kepada Allah. Karib-kerabat, teman setia, anak-anak, atau orang tua sekalipun tidak dapat menolong seseorang di hari Kiamat. Yang dapat menolong seseorang dari siksa Allah hanyalah iman dan amal saleh yang dilakukan selama hidup di dunia.

Karib-kerabat, teman setia, anak-anak dan orang tua tidak dapat dijadikan penolong di hari Kiamat karena masing-masing berusaha menghindarkan diri dari malapetaka yang akan menimpa, sehingga tidak sempat memikirkan kerabat atau temannya, sebagaimana firman Allah:

Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, Dan dari ibu dan bapaknya, Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa/80: 33-37)

Pada akhir ayat ini, Allah memberi peringatan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan yang seadil-adilnya. Maka itu berhati-hatilah dan jagalah dirimu sebaik mungkin.

Tafsir Quraish Shihab: Kerabat dan anak-anak kalian yang kalian jadikan penolong tidak akan berguna jika mereka menjadi musuh Allah dan musuh kalian. Di hari kiamat, Allah akan memutuskan perkara di antara kalian semua, lalu memasukkan musuh-musuh-Nya ke dalam neraka dan kekasih-kekasih-Nya ke dalam surga. Allah melihat segala sesuatu yang kalian kerjakan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mumtahanah Ayat 1-3 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S