Bagaimana Hukum dan Keistimewaan Puasa di Awal Bulan Dzulhijjah?

Puasa Diawal Bulan Dzulhijjah

Pecihitam.org – Tahukah Anda? Ada yang istimewa dari sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah. Keistimewaan tersebut adalah karena di hari-hari itu terkumpul berbagai macam ibadah- ibadah yang bisa bergabung dan dilaksanakan menjadi satu  rentetan waktu. Dan waktu tersebut tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Ibadah yang dimaksud adalah ibadah shalat , sedekah (kurban), haji, dan puasa di awal bulan Dzulhijjah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sepuluh hari awal Dzulhijjah merupakan momen hari penting sehingga Allah bersumpah dalam Surat Al-Fajr

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2
Artinya, “Demi waktu subuh (1) Dan sepuluh malam (2).”

Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan sejumlah ulama salaf dan ulama kontemporer lain menyampaikan bahwa sepuluh malam yang dimaksud pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama pada bulan Dzulhijjah. Pernyataan tersebut diperkuat  dengan hadis yang dikutip Ibnu Katsir dari Shahih Bukhari sebagai berikut:

عن ابن عباس مرفوعا: “ما من أيام العمل الصالح أحب إلى الله فيهن من هذه الأيام” -يعني عشر ذي الحجة -قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: “ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجلا خرج بنفسه وماله، ثم لم يرجع من ذلك بشيء” (2

Baca Juga:  Hukum Bermain Game Online Dalam Islam

Artinya, “Dari Ibnu Abbas dengan kualitas hadis marfu’. Tidak ada hari-hari di mana amal sholih lebih disukai Allah pada hari itu dari pada hari-hari ini, maksudnya sepuluh hari Dzul Hijjah. Kemudian para sahabat bertanya, ‘Dan bukan pula jihad, ya Rasulallah?’ Rasul lalu menjawab, ‘Dan tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar membawa diri dan hartanya kemudian ia pulang tak lagi membawa apa-apa,’” (HR Bukhari 969).

Hadis ini cukup jelas menyatakan bahwa apa pun bentuk ibadah yang dilaksanakan dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan. Sayangnya, puasa di awal bulan Dzulhijjah hanya terhitung sebanyak sembilan hari sebab ibadah puasa diharamkan pada saat Idul Adha.

Rasulullah SAW menekankan ibadah 9 hari Dzulhijjah yaitu puasa pada tanggal 9 (puasa Arafah) untuk orang yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Orang yang sedang melaksanakan ibadah haji tidak disunahkan menjalankan puasa di hari Arafah sebab Rasulullah pun tidak menjalankan puasa Arafah saat melaksanakan ibadah haji.

Baca Juga:  Bagaimana Hukum Mentalak Tiga dengan Sekali Ucapan, Jatuh Talak Tiga atau Hanya Satu?

Pengarang kitab (Al-Muhadzab) berkata, “Dan disunahkan bagi selain orang yang berhaji untuk puasa pada hari Arafah, karena mengacu pada hadits yang diriwayatkan oleh Qatadah, dia berkata. Rasulullah SAW Berkata, ‘Puasa hari Asyura’ dapat menghapus dosa yang telah lalu selama setahun. Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun. Setahun dosa yang lalu  dan setahun dosa yang akan datang.”

Hal ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Umul Fadhl binti Haris:

“Sesungguhnya para ulama berbeda pendapat mengenai hal tersebut pada hari Arafah tentang apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Ulama mengatakan dua hal berbeda tentang persoalan ini. Pertama, mereka berpendapat bahwa Rasulullah tetap berpuasa saat berhaji. Sebagian ulama lainnya mengatakan Rasulullah tidak berpuasa. Lalu, Umul Fadhl menghaturi Rasul segelas susu sedang beliau masih duduk di atas ontanya pada padang Arafah, lalu Rasul meminumnya. Sebab  berdoa di hari ini (Arafah memiliki pahal yang besar, sedangkan  berpuasa itu melemahkannya, maka dinajurkan tidak puasa itu lebih utama.” (Lihat di kitab Al-Majmu’, juz 6, halaman 379).

Puasa di awal bulan Dzulhijjah adalah sunah. Selain itu juga ada Puasa Arafah yang memiliki  pahala setara dengan puasa dua tahun. Setahun di masa lampau dan setahun yang akan datang. Sebagai umat Islam, alangkah ruginya jika kita tak mendapatkan keutamaan hari-hari tersebut untuk menjalankan ibadah apa pun bentuknya.

Baca Juga:  Bolehkah Melamar Janda yang Masih dalam Masa Iddah?
Habib Mucharror

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *