Surah An-Nahl Ayat 106-109; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 106-109

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 106-109 ini; menceritakan mereka yang mengingkari Allah terbagi dalam dua kelompok; pertama mereka yang menyatakan kekafiran akibat tekanan dan siksaan, namun hati mereka penuh dengan keimanan. Kedua, mereka yang memilih kekafiran dengan wajah tersenyum dan tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Disisi lain Allah menerangkan dengan artinya bahwa “Mereka sendiri yang menginginkan nasib yang demikian. Karena kehidupan sementara di dunia lebih mereka pilih ketimbang kehidupan abadi di akhirat. Mereka bergabung dengan orang-orang kafir dan tidak mendapat hidayah.”

Orang yang terjebak dalam mentalitas seperti ini, dipastikan mata, telinga, dan hatinya, akan dipenuhi oleh kilau dunia dan hawa nafsu sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran. Orang-orang seperti ini tidak akan mengetahui masalah-masalah non-materi dan non-duniawi.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 106-109

Surah An-Nahl Ayat 106
مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Terjemahan: Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.

Tafsir Jalalain: مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ (Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, kecuali orang yang dipaksa) untuk mengucapkan kalimat kekafiran kemudian ia terpaksa mengucapkannya.

وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ (padahal hatinya tetap tenang dalam beriman) lafal man dianggap sebagai mubtada, atau syarthiyah sedangkan khabar atau jawabnya ialah: maka bagi mereka ancaman yang keras.

Pengertian ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu: وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا (akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran) yakni hatinya menerima kekafiran dengan lapang,

فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala menceritakan tentang orang-orang yang kafir kepada-Nya setelah mereka beriman. Mereka melapangkan dadanya bagi kekafiran dan merasa tenteram kepadanya. Allah ; murka terhadap mereka, karena mereka telah mengetahui keimanan.

Lalu Allah mengancam mereka bahwa di akhirat kelak mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih, karena mereka lebih mencintai dunia daripada akhirat, serta lebih memilih kemurtadan demi dunia.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 126-128; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan tentang ancaman keras terhadap riddah (murtad) yakni kufur kembali sesudah beriman, mengutama-kan kesesatan dari petunjuk (hidayah)-Nya.

Mereka mendapat kemurkaan dan azab Allah, kecuali dalam kondisi terpaksa. Misalnya, mereka menyatakan murtad dengan lidah karena jiwanya terancam, namun hati mereka tetap penuh dengan keimanan. Tidak ada dosa dan tuntutan hukum kepadanya, selama ia tetap beriman.

Rasulullah bersabda: Tidak dicatat amal umatku (karena) kekeliruan, lupa, dan mereka terpaksa. (Riwayat ath-thabrani dari sauban).

Surah An-Nahl ayat 107
ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Terjemahan: Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

Tafsir Jalalain: ذَلِكَ (Yang demikian itu) ancaman yang ditujukan kepada mereka itu بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia) mereka memilihnya

عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (lebih dari akhirat dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah murka terhadap mereka, karena mereka telah mengetahui keimanan. Lalu Allah mengancam mereka bahwa di akhirat kelak mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih, karena mereka lebih mencintai dunia daripada akhirat, serta lebih memilih kemurtadan demi dunia.

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah; dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.

Allah Swt menyebutkan perihal orang yang kafir sesudah beriman dan menyaksikan kebenaran, lalu ia melegakan dadanya untuk kekafiran dan merasa tenang dengan kekafirannya.

Allah Swt murka terhadap orang tersebut, karena ia telah beriman, tetapi kemudian menggantikannya dengan kekafiran. Di hari akhirat nanti mereka akan mendapat siksa yang besar, disebabkan mereka lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, dijelaskan sebab-sebab kemurkaan Allah kepada mereka yang benar-benar kembali kepada kekafiran, sesudah beriman. Mereka dianggap lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dengan segala kenikmatan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang benar-benar beriman dan sudah teruji keimanannya dengan berbagai cobaan dan fitnah di dunia.

Allah tidak akan memberikan hidayah-Nya bagi orang yang murtad, bukan karena terpaksa. Di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang pedih.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 125; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah tidak akan memberi taufik kepada orang yang ingkar kepada ayat-ayatnya, dan orang yang telah sengaja menghilangkan kesediaan jiwanya untuk menerima kebaikan lalu menukarkannya dengan dosa dan kejahatan.

Surah An-Nahl ayat 108
أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Terjemahan: Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.

Tafsir jalalain: ُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (Mereka itulah orang-orang yang hatinya, pendengarannya dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai) dari apa yang dikehendaki terhadap diri mereka.

Tafsir ibnu katsir: Allah tidak akan memberi petunjuk kepada hati mereka dan tidak meneguhkan mereka pada satu agama yang benar.

Oleh karenanya, Allah Ta’ala mengunci mati hati mereka sehingga mereka tidak bisa memahami sesuatu pun yang dapat bermanfaat bagi mereka, serta menutup pendengaran dan pandangan mereka sehingga mereka tidak mengambil manfaat sama sekali darinya. Mereka benar-benar lengah terhadap apa yang diinginkan dari penciptaan mereka.

Tafsir kemenag: Hukuman lainnya bagi orang yang murtad dijelaskan Allah dalam ayat ini, yaitu Allah swt menutup hati (jiwa), pandangan, dan penglihatan mereka. Hati mereka tertutup disebabkan kekerasan dan kekafirannya, sehingga tidak dapat terbuka untuk memahami dan menanggapi tanda-tanda keberadaan Allah.

Pandangan dan penglihatan mereka tertutup disebabkan pengertian dan kesan dari apa yang didengar dan dilihat mereka tidak sampai ke dalam hati.

Pancaran cahaya Ilahi dan ilmu tidak dapat menembus dan menyinari kalbu mereka menuju jalan Ilahi. Batin mereka juga tidak mampu menyerap fakta ilmiah sebagai tanda keesaan dan kebesaran Allah swt. Manusia serupa inilah yang dikatakan Allah swt seperti hewan, bahkan lebih jelek lagi.

Firman Allah swt: Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (al-Baqarah/2: 217)

Hukuman selanjutnya bagi mereka yang murtad ialah menjadikan mereka lalai terhadap hakikat kebenaran. Mereka memang tidak punya perhatian sama sekali kepada lingkungan, sehingga mereka menjadi pasif (jumud) dan terkucil.

Hukuman bagi orang Islam yang dengan sadar murtad dari Islam adalah hukum bunuh seperti yang dilakukan oleh Ali r.a. dan Mu’adz bin Jabal terhadap orang yang murtad di zamannya, berdasarkan riwayat Imam Ahmad.

Baca Juga:  Surah Al-Maidah Ayat 51-53; Seri Tadabbur Al Qur'an

Surah An-Nahl ayat 109
لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Terjemahan: Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.

Tafsir jalalain: لَا جَرَمَ (Tidak diragukan lagi)َ pastilah أَنَّهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi) karena tempat kembali mereka adalah neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Tafsir ibnu katsir: لَا جَرَمَ (Pastilah) maksudnya, suatu keharusan dan tidak juga heran jika di antara sifatnya ini adalah: أَنَّهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (Mereka itu termasuk orang-orang yang merugi di akhirat) Maksudnya, orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan juga keluarga mereka pada hari Kiamat kelak.

Tafsir kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt menegaskan bahwa mereka yang murtad itu adalah orang yang sungguh merugi di akhirat karena telah menodai jiwa mereka sendiri dan menjerumuskan diri ke dalam jurang api neraka. Mereka mendapatkan hal-hal berikut:

  1. Murka Allah.
  2. Siksaan yang pedih.
  3. Tidak mendapat hidayah Allah.
  4. Hati, pendengaran, dan penglihatan mereka tertutup.
  5. Pada hari kiamat, mereka akan merugi.

Mereka kehilangan kenikmatan duniawi yang mereka kejar dengan mencurahkan tenaga dan menghabiskan umur. Di akhirat mereka tidak mendapatkan apa pun selain penderitaan.

Mereka tidak menyadari bahwa modal utama untuk hidup di dunia adalah umur. Jika modal itu tidak dipergunakan untuk keperluan yang utama, tentulah modal itu akan habis dengan percuma.

Mereka tidak menyadari bahwa modal utama untuk hidup di dunia adalah umur. Jika modal itu tidak dipergunakan untuk keperluan yang utama, tentulah modal itu akan habis dengan percuma.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 106-109 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S