Surah An-Nahl Ayat 51-55; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 51-55

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 51-55 ini, Terkandung penetapan sifat ‘uluw(Allah mahatinggi) dan fauqiyyah(berada di atas makhluknya) bagi Allah itu diatas seluruh makhluknya sesuai dengan keagungan dan kesempurnaannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tidak ada selain Allah yang layak untuk disembah. Dia lah pemberi kenikmatan-kenikmatan itu kepada kalian. Kemudian bila turun kepada kalian penyakit, bala dan paceklik, maka kepada Allah lah kalian riuh dengan doa.

Menyekutukan Allah Swt di saat gembira dan berakhirnya masalah dapat dilihat pada seseorang yang tidak mensyukuri kenikmatan Allah Swt dan mengingkari apa yang diberikan-Nya. Sangatlah jelas bahwa seseorang yang tak mensyukuri kenikmatan akan dihadapkan pada kemungkaran Allah Swt di dunia dan akhirat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 51-55

Surah An-Nahl Ayat 51
وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Terjemahan: Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”.

Tafsir Jalalain: وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ (Allah berfirman, “Janganlah kalian menyembah dua tuhan) lafal istnaini berfungsi sebagai taukid atau pengukuhan makna.

إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ (Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa) disebutkannya lafal إِلَهٌ dan وَاحِدٌ untuk menetapkan sifat uluhiah dan sifat wahdaniah Allah.

فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ (maka hendaklah kepada-Ku saja kalian takut) janganlah kalian takut kepada selain Aku. Di dalam ungkapan ini terkandung pengertian iltifat dari dhamir gaib.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala memberitahukan bahwasanya Dia adalah Rabb yang tiada Ilah melainkan hanya Dia semata, dan sesungguhnya tidak selayaknya ibadah itu dilakukan kecuali hanya untuk-Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Sebab, Dia adalah Pemilik dari Pencipta segala sesuatu dan juga Pemeliharanya.

Tafsir Kemenag: Allah swt menjelaskan kepada para hamba-Nya agar jangan sekali-kali menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Dia, karena yang demikian itu berarti mempersekutukan Allah, padahal Allah Mahasuci dari sekutu. Tidak mungkin Allah swt yang Mahakuasa di jagat raya ini lebih dari satu. Dia itu tunggal, dan hanya Dia yang berhak disembah.

Allah memerintahkan kepada manusia agar takut kepada ancaman dan hukuman-Nya. Dia juga melarang manusia mempersekutukan-Nya dan membuat sesembahan lain selain Dia. Secara jelas, larangan yang terdapat dalam ayat ini adalah menyembah dua Tuhan.

Namun demikian, bilangan itu bukanlah menunjukkan bilangan dua saja, tetapi untuk menunjukkan bilangan yang paling sedikit. Sedang yang dimaksud ialah menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Allah dan supaya tidak terbayang dalam pikiran manusia ada tuhan-tuhan yang lain selain Dia.

Baca Juga:  Surah Ali Imran Ayat 187-194; Seri Tadabbur Al Qur'an

Surah An-Nahl Ayat 52
وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ

Terjemahan: Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?

Tafsir Jalalain: وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (Dan kepunyaannyalah segala apa yang ada di langit dan di bumi) sebagai milik, makhluk dan hambanya وَلَهُ الدِّينُ (dan untuknyalah agama itu) ketaatan itu وَاصِبًا (selama-lamanya) untuk selamanya; lafal وَاصِبًا menjadi hal dari lafal الدِّينُ,

sedangkan sebagai ‘amilnya adalah makna zharaf. (Maka mengapa kalian bertakwa kepada selain Allah?) sedangkan Dia adalah Tuhan yang sebenarnya, dan tiada Tuhan selain-Nya. Istifham atau kata tanya di sini mengandung pengertian ingkar dan celaan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا (Dan untuk-Nyalah ketaatan itu selama-lamanya) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Maimun bin Mihran, as-Suddi, Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan: “Yakni, untuk selama-lamanya.”

Dari Ibnu ‘Abbas juga: “Yakni wajib.” Mujahid mengatakan: “Yakni, murni hanya karena-Nya. Artinya, ibadah itu hanya ditujukan kepada-Nya semata, dari semua makhluk yang ada di langit dan bumi.” Mengenai ungkapan Mujahid tersebut, maka ia termasuk dalam bab tuntutan, yakni, takutlah kalian untuk menyekutukan diri-Ku, dan tulus ikhlaskan ketaatan hanya untuk-Ku.

Tafsir Kemenag: Allah swt lalu menjelaskan bahwa semua yang ada di alam ini adalah milik-Nya. Allah tidak membagi kekuasaan-Nya kepada yang lain dalam mengurus segala yang ada di langit dan di bumi.

Ia tidak memerlukan pembantu ataupun serikat. Oleh sebab itu, yang berhak ditaati hanyalah Dia. Taat dalam arti yang sebenar-benarnya, ikhlas, dan tidak berkesudahan.

Dengan demikian, tidaklah benar apabila ada manusia yang bertakwa kepada selain-Nya karena tuhan-tuhan itu tidaklah mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan nikmat yang telah ada atau mendatangkan siksa. Oleh karena itu, takwa harus disandarkan hanya kepada Allah.

Surah An-Nahl Ayat 53
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Terjemahan: Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.

Tafsir Jalalain: وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ (Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian maka dari Allahlah datangnya) tiada yang dapat mendatangkannya selain Dia. Huruf maa di sini adalah syarthiyah atau maushulah.

مَّ إِذَا مَسَّكُمُ (dan bila kalian ditimpa) tertimpa الضُّرُّ (kemudaratan) seperti kemiskinan dan sakit فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ (maka hanya kepadanyalah kalian meminta pertolongan) mengangkat suara kalian untuk meminta pertolongan seraya berdoa kepada-Nya, dan niscaya kalian tidak akan meminta kepada selainnya.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 25-28; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Dia memberitahukan bahwa Dia adalah Pemilik manfaat dan mudharat. Dan bahwasanya segala macam rizki, kenikmatan, kesehatan, dan kemenangan yang ada pada hamba-hamba-Nya adalah anugerah-Nya yang Dia limpahkan kepada mereka sekaligus sebagai bentuk kebaikan-Nya kepada mereka.

ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ (Dan bila kalian ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya kalian meminta pertolongan) Maksudnya, hal itu seperti yang kalian ketahui bahwasanya tidak ada satu pihak pun yang mampu menghapuskan mudharat itu kecuali hanya Dia semata.

Dan pada saat darurat, kalian berlindung kepada-Nya, memohon kepada-Nya, terus-menerus berharap kepada-Nya, serta meminta pertolongan kepada-Nya.

Tafsir Kemenag: Selanjutnya Allah swt menjelaskan mengapa yang wajib ditakuti hanyalah Allah. Hal itu karena semua nikmat yang mereka peroleh, seperti kesehatan dan kebahagiaan, semata-mata dari Allah. Maka kewajiban manusialah untuk mensyukuri nikmat dan memuji kebaikan-Nya yang tiada terputus kepada makhluk-makhluk-Nya.

Sebaliknya, apabila manusia ditimpa oleh kesukaran hidup, kesulitan, penyakit, dan sebagainya, kepada Allahlah mereka mengeluh dan meminta pertolongan. Hal ini merupakan tabiat manusia bahwa apabila mereka berada dalam kesulitan, terbayanglah dalam pikiran kelemahan mereka dan adanya kekuasaan di luar diri mereka yang menguasai mereka.

Surah An-Nahl Ayat 54
ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

Terjemahan: Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain),

Tafsir Jalalain: ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudaratan itu daripada kalian, tiba-tiba sebagian daripada kalian mempersekutukan Rabbnya dengan yang lain).

Tafsir Ibnu Katsir: Dia berfirman: ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripadamu, tiba-tiba sebahagian daripada kamu mempersekutukan Rabbnya dengan yang lain).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menyatakan bahwa Allah membiarkan orang-orang kafir dan musyrik mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.

Allah juga membiarkan mereka mengingkari-Nya sebagai Zat yang Mahakuasa menghilangkan bahaya yang menimpa mereka, hingga meng-ingkari Allah yang Mahaperkasa melepaskan diri mereka dari bahaya itu.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa mereka dibiarkan menikmati kehidupan dunia dan memuaskan hawa nafsu mereka sampai tiba saatnya ajal merenggut mereka.

Sesudah itu, mereka pasti akan kembali kepada Allah. Di saat itulah mereka mengetahui dengan seyakin-yakinnya akibat keingkaran dan pembangkangan mereka. Mereka akan menyesali perbuatan mereka dengan penyesalan yang tiada berguna.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 59-60; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah An-Nahl Ayat 55
لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Terjemahan: Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).

Tafsir Jalalain: لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ (Biarkanlah mereka mengingkari apa yang telah Kami berikan kepada mereka) yaitu nikmat فَتَمَتَّعُوا (maka bersenang-senanglah kalian). sebab kesepakatan kalian untuk menyembah berhala-berhala. Amar atau perintah di sini mengandung pengertian ancaman.

فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (Kelak kalian akan mengetahui) akibat daripada hal tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir: لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ (Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripadamu, tiba-tiba sebahagian daripada kamu mempersekutukan Rabbnya dengan yang lain).

Ada yang mengatakan: “Huruf laam di sini dimaksudkan sebagai laamul ‘aaqibah (yang berarti akibat).” Ada juga yang menyatakan bahwa laam itu adalah laam ta’lil (sebab), dengan pengertian, hal itu Kami biarkan mereka mengingkari,

yakni menutupi dan menolak bahwa semuanya itu adalah nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Dialah yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan yang menghilangkan berbagai kesengsaraan dari diri mereka.

Selanjutnya, Allah Ta’ala mengancam mereka seraya berfirman: فَتَمَتَّعُوا (Maka bersenang-senanglah kalian) maksudnya, berbuatlah sekehendak hati kalian dan bersenang-senanglah dengan apa yang ada pada kalian dalam waktu yang tidak lama; فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (Kelak kamu akan mengetahui) yaitu, akbat perbuatan kalian tersebut.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menyatakan bahwa Allah membiarkan orang-orang kafir dan musyrik mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Allah juga membiarkan mereka mengingkari-Nya sebagai Zat yang Mahakuasa menghilangkan bahaya yang menimpa mereka, hingga meng-ingkari Allah yang Mahaperkasa melepaskan diri mereka dari bahaya itu.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa mereka dibiarkan menikmati kehidupan dunia dan memuaskan hawa nafsu mereka sampai tiba saatnya ajal merenggut mereka. Sesudah itu, mereka pasti akan kembali kepada Allah.

Di saat itulah mereka mengetahui dengan seyakin-yakinnya akibat keingkaran dan pembangkangan mereka. Mereka akan menyesali perbuatan mereka dengan penyesalan yang tiada berguna.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 51-55 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S