Surah An-Nisa Ayat 114-115; Seri Tadabbur Al Qur’an

An-Nisa Ayat 114-115

Pecihitam.org – Surah An-Nisa Ayat 114-115 ini mengandung ancaman dari Allah SWt terhadap siapa saja yang menentang Rasul-Nya padahal sudah jelas kebenaran baginya namun tidak mengikuti jalannya orang-orang mukmin.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir
Surah An-Nisa Ayat 114-115

Surah An-Nisa Ayat 114
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Terjemahan: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Penjelasan: لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ Yakni pembicaraan manusia; إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ Yakni, kecuali bisikan orang yang berkata demikian.

Imam Ahmad meriwayatkan, Ya’qub menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Shalih bin Kaisan menceritakan kepada kami, Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab menceritakan kepada kami, bahwa Humaid bin Abdurrahman bin Auf mengabarkan kepadanya bahwa ibunya, Ummu Kultsum binti Uqbah, mengabarkan kepadanya bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Bukanlah pendusta, orang yang mendamaikan antara manusia untuk menumbuhkan kebaikan atau berkata baik.”

Baca Juga:  Tadabbur Al Qur'an Surah An Nisa Ayat 7-11

Dia (Ummu Kultsum binti Uqbah) mengatakan: “Saya belum pernah mendengar suatu perkataan manusia yang diberi rukhshah (keringanan), kecuali dalam tiga hal; dalam peperangan, mendamaikan antara manusia dan perkataan seorang suami kepada isterinya, serta perkataan seorang isteri kepada suaminya.” Imam Ahmad berkata: “Ummu Kultsum binti Uqbah adalah termasuk perempuan-perempuan berhijrah, yang berbaiat kepada Rasulullah saw. (HR Al-jama’ah kecuali Ibnu Majah).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abud Darda, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Maukah kalian kuberitahu tentang sesuatu yang lebih utama daripada puasa, shalat, dan shadaqah?’ Mereka menjawab: ‘Tentu, ya Rasulullah!’ Beliau berkata: ‘Mendamaikan antara manusia.’ Beliau bersabda: ‘Sedangkan merusaknya itu adalah pencukur.” (Yang mencukur agama) Abu Dawud dan at-Tirmidzi pun meriwayatkannya dan ia (at-Tirmidzi) berkata: “Hasan shahih”.

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ yaitu ikhlas dalam mengamalkannya serta mengharapkan pahala dari Allah. فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا Yaitu pahala yang melimpah, banyak dan luas.

Surah An-Nisa Ayat 115
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Terjemahan: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 52-59; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Penjelasan: وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ yaitu barangsiapa yang menempuh bukan jalan syariat yang dibawa oleh Rasulullah, maka berarti berada dalam satu sisi, sedangkan syariat berada pada sisi lain. Hal itu dilakukannya dengan sengaja setelah jelas serta nyata dan tegasnya kebenaran.

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ (Bagian ayat) ini saling berkaitan dengan yang pertama tadi. Akan tetapi, bentuk penyimpangan itu terkadang terhadap nash dari pemberi syariat dan terkadang terhadap kesepakatan umat Muhammad yang telah diketahuinya secara pasti. Karena ayat ini mengandung jaminan untuk kesepakatan mereka yang tidak mungkin salah, sebagai kehormatan bagi mereka dan pengagungan bagi Nabi mereka.

Banyak sekali hadits shahih yang menjelaskan hal tersebut. Dan ayat ini pula yang jadi sandaran (dasar) oleh Imam Syafii, dalam berhujjah, bahwa ijma merupakan hujjah yang diharamkan bagi seseorang untuk menyelisihinya, setelah melalui penelitian dan pemikiran panjang. Hal tersebut merupakan istinbath (kesimpulan) yang paling baik dan kuat, sekalipun sebagian Ulama mempersoalkan dan menganggapnya terlalu jauh.

Untuk itu, Allah mengancam hal tersebut dengan firman-Nya: نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا Yaitu jika ia menempuh jalan ini, niscaya Kami akan balas ia dengan cara menganggap baik dalam dadanya dan menghiasinya sebagai istidraj. Sebagaimana firman Allah: “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka”. (QS. Ash-Shaf: 5). Dan juga firman-Nya: “Dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat”. (QS. Al-An’am: 110).

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 49-50; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dia menjadikan api Neraka sebagai tempat kembalinya di akhirat. Karena barangsiapa yang keluar dari hidayah, tidak ada jalan lain baginya kecuali jalan menuju ke Neraka pada hari Kiamat kelak, sebagaimana firman-Nya: “(Kepada Malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang dhalim beserta teman sejawat mereka.” (QS. Ash-Shaaffaat:22)

Alhamdulillah telah kita tadabburi bersama Al Qur’an Surah An-Nisa Ayat 114-115 melalui Terjemahan dan Tafsirnya dengan rujukan Kitab Tafsir Ibnu Katsir. Semoga bermanfaat

M Resky S