Surah Ar-Rahman Ayat 54-61; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Rahman Ayat 54-61

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Rahman Ayat 54-61 ini, menerangkan bahwa Para penghuni surga itu sangat menikmati anugerah Allah. Mereka bersandar dengan santai di atas permadani yang bagian dalamnya terbuat dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu sangat dekat sehingga dapat dipetik dari dekat, tanpa perlu beranjak dari tempat mereka bersandar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rahman Ayat 54-61

Surah Ar-Rahman Ayat 54
مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ فُرُشٍۭ بَطَآئِنُهَا مِنۡ إِسۡتَبۡرَقٍ وَجَنَى ٱلۡجَنَّتَيۡنِ دَانٍ

Terjemahan: Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.

Tafsir Jalalain: مُتَّكِـِٔينَ (Mereka bersandarkan) menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari ‘Amilnya yang tidak disebutkan, yakni mereka bersenang-senang seraya bersandarkan عَلَىٰ فُرُشٍۭ بَطَآئِنُهَا مِنۡ إِسۡتَبۡرَقٍ (di atas permadani yang bagian dalamnya terbuat dari sutera) yaitu sutera yang tebal lagi kasar, sedangkan bagian luarnya yang diduduki terbuat dari sutera yang halus sekali.

وَجَنَى ٱلۡجَنَّتَيۡنِ (Dan buah-buahan kedua surga itu) semua buah-buahannya دَانٍ (dapat dipetik dari dekat) artinya, dekat sekali letaknya sehingga mudah dipetik, baik oleh orang yang sedang berdiri maupun yang duduk dan yang sedang berbaring.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: مُتَّكِـِٔينَ (“mereka bertelekan”), yakni para penghuni surga. Dan yang dimaksud dengan “al-ittika’” di sini adalah berbaring. Ada pula yang mengatakan: “Yakni duduk bersila.” عَلَىٰ فُرُشٍۭ بَطَآئِنُهَا مِنۡ إِسۡتَبۡرَقٍ (“di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera.”) Yakni kain sutera tebal. ‘Ikrimah , adl-Dlahhak, Qatadah, dan Abu Irmran al-Juni berkata: “Yaitu, sutera yang diberi hiasan dengan emas.

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah memberitahukan kemuliaan bagian luar dengan kemuliaan bagian dalam. Yang demikian itu merupakan peringatan yang bertingkat, dari bawah ke atas. Abu Ishaq menceritakan dari Hubairah Ibnu Maryam, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan: “Ini adalah bagian dalam, bagaimana jika kalian melihat bagian luar?” Malik bin Dinar mengatakan: “Bagian dalamnya terbuat dari sutera, sedangkan bagian luarnya terbuat dari cahaya.”

وَجَنَى ٱلۡجَنَّتَيۡنِ دَانٍ (“Dan buah-buahan kedua surga itu dapat [dipetik] dari dekat.”) maksudnya buah-buahannya itu ada di dekat mereka. Kapanpun mereka kehendaki , mereka dapat memetiknya dalam keadaan yang mereka bagaimanapun. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala:

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (“Buah-buahannya dekat”) (al-Haqqah: 23). Yakni tidak menyusahkan orang yang akan memetiknya, bahkan di antara dahannya ada yang sengaja menurunkan diri seraya mendekat kepadanya.

Tafsir Kemenag: Para penghuni surga itu sangat menikmati anugerah Allah. Mereka bersandar dengan santai di atas permadani yang bagian dalamnya terbuat dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu sangat dekat sehingga dapat dipetik dari dekat, tanpa perlu beranjak dari tempat mereka bersandar.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka bertelekan dengan tenang di atas hamparan yang bagian dalamnya terbuat dari sutra murni. Buah-buahan di kedua surga itu dekat dengan orang yang ingin memetiknya.

Surah Ar-Rahman Ayat 55
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan)?,

Tafsir Kemenag: Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan’

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 56
فِيهِنَّ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ

Baca Juga:  Surah Ar-Rahman Ayat 31-36; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.

Tafsir Jalalain: فِيهِنَّ (Di dalam surga itu) maksudnya, dalam kedua surga itu dan pada gedung-gedung dan istana-istana yang ada di dalamnya قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ (ada bidadari-bidadari yang selalu menundukkan pandangan matanya) artinya, pandangan mereka terbatas hanya kepada suami-suami mereka saja yang terdiri dari manusia dan jin لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ (tidak pernah disentuh) mereka belum pernah digauli; mereka terdiri dari bidadari-bidadari atau wanita-wanita dunia yang masuk surga إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ (oleh manusia sebelum mereka -penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka dan tidak pula oleh jin).

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah Allah menyebutkan permadani-permadani dan keagungannya, maka selanjutnya Dia berfirman: فِيهِنَّ (“Di dalamnya”), yakni pada permadani-permadani tersebut, قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ (“ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya.”) yakni menundukkan pandangan kepada laki-laki selain pasangan mereka.

Mereka tidak melihat seorangpun yang lebih tampan dari pasangan mereka sendiri di surga itu. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah, ‘Atha’ al-Khurasani dan Ibnu Zaid. Dan disebutkan pula dalam sebuah riwayat, bahwa salah seorang dari bidadari-bidadari itu berkata pada suaminya:

“Demi Allah, aku tidak melihat di dalam surga ini sesuatu yang lebih baik (tampan) darimu. Tidak ada di surga ini yang lebih aku cintai melebihi kecintaanku kepadamu. Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikanmu pasangan untukku dan menjadikan diriku pasangan untukmu.”

لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ (“mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka [penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka] dan tidak pula oleh jin.”) maksudnya, mereka masih perawan yang penuh cinta lagi sebaya umurnya. Mereka belum pernah dicampuri oleh seorangpun sebelum pasangan mereka sendiri, baik dari kalangan manusia maupun jin. Dan hal itupun merupakan dalil yang menunjukkan bahwa jin mukmin itu akan masuk surga.

Artha-ah bin al-Mundzir bercerita, Dhamrah bin Habib pernah ditanya: “Apakah jin itu juga masuk surga?” maka ia menjawab: “Ya, dan mereka pun menikah. Di kalangan jin ada laki-laki dan perempuan, sebagaimana halnya manusia, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.”

Dan itulah makna firman Allah Ta’ala: لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ (“mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka [penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka] dan tidak pula oleh jin.”)

Tafsir Kemenag: Tidak saja buah-buahan, di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menjadi pasangan para pria penghuni surga, dan bagi wanita ada pula pasangannya, yang amat santun sehingga membatasi pandangan dan tidak menoleh kecuali kepada pasangannya. Mereka itu perawan yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang menundukkan pandangan di hadapan pasangan- pasanganya. Mereka semua perawan, tak pernah didekati sebelumnya oleh manusia atau jin.

Surah Ar-Rahman Ayat 57
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan)?

Tafsir Kemenag: Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan’.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 58
كَأَنَّهُنَّ ٱلۡيَاقُوتُ وَٱلۡمَرۡجَانُ

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 62; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.

Tafsir Jalalain: كَأَنَّهُنَّ ٱلۡيَاقُوتُ (Seakan-akan bidadari-bidadari itu permata yaqut) dalam hal beningnya وَٱلۡمَرۡجَانُ (dan marjan) maksudnya, putihnya bagaikan permata.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah Ta’ala mensifati bidadari-bidadari itu kepada kita sebagai khithah (lawan bicara): كَأَنَّهُنَّ ٱلۡيَاقُوتُ وَٱلۡمَرۡجَانُ (“Seakan-akan bidadari-bidadari itu permata yaqut dan marjan.” Muhahid, al-Hasan, Ibnu Zaid, dan lain-lain mengatakan:

“Yakni dalam kejernihan permata yaqut dan beningnya marjan.” Dengan demikian, mereka (para mufassir) telah menjadikan marjan di dalam ayat ini sama dengan lu’lu’ (mutiara).

Imam Muslim telah meriwayatkan hadits Ismai’il bin ‘Ulayyah, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: “Siapakah yang lebih banyak berbangga-bangga diri atau berdzikir di surga nanti, kaum laki-laki atau kaum perempuan?” Maka Abu Hurairah berkata:

“Bukan Abul Qasim sudah bersabda: ‘Sesungguhnya, rombongan pertama yang masuk surga berwujud seperti bulan pada malam purnama dan yang selanjutnya dalam wujud seperti cahaya bintang yang bersinar di langit, yang masing-masing dari mereka mempunyai dua orang istri yang ia melihat sumsum betisnya dari luar kulit, dan di dalam surga tidak ada orang yang tidak menikah.’”

Hadits ini diriwayatkan dalam kitab ash-Shahihain, dari Abu Hurairah. Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pergi pada pagi atau sore hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia seisinya, dan (tempat) sepanjang tali panah salah seorang diantara kalian atau sepanjang cambukan dalam surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Seandainya seorang wanita dari para penghuni surga memandang ke bumi, niscaya angin akan memenuhi antara keduanya sehingga baunya wangi (harum), dan penutup kepala yang ada di atas kepalanya adalah lebih baik daripada dunia seisinya.”

Hadits senada juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari hadits Abu Ishaq, dari Hamid, dari Anas.

Tafsir Kemenag: Para bidadari itu demikian cantik dan sedap dipandang seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.

Tafsir Quraish Shihab: Kecantikan dan keindahan bidadari-bidadari itu bagaikan permata yakut dan merjan.

Surah Ar-Rahman Ayat 59
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada saat itu Allah bertanya nikmat mana lagi yang kamu dustakan, terutama nikmat yang telah Allah berikan pada hari ini. Kabar derita dan peringatan pedih yang telah disampaikan-Nya, yaitu agar manusia meninggalkan dan menjauhi perbuatan dosa.

Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan, hai manusia dan jin? Masing-masing mendapat ganjaran sebagaimana yang diterangkan Allah. Bukankah itu nikmat yang besar bagi kamu sekalian.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 60
هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ

Terjemahan: Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

Tafsir Jalalain: هَلۡ (Tidak ada) tiada جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ (balasan kebaikan) atau ketaatan إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ (kecuali kebaikan pula) atau kenikmatan.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ (“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” Maksudnya tidak ada balasan bagi orang yang berbuat kebaikan di dunia kecuali kebaikan di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah: لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ (“dan bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik [surga] dan tambahannya.”) (Yunus: 26).

Baca Juga:  Surah Ar-Rahman Ayat 65-78; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mengingat dalam semua yang telah disebutkan itu terdapat berbagai nikmat besar yang tidak dapat dihargai dengan amal perbuatan apapun, bahwasannya hanya karena karunia dan pemberian semata-mata dari Nya.

Dan diantara yang berkaitan dengan firman Allah Ta’ala: وَلِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ (“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga.”), adalah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Baghawi, dari hadits Abun Nadhr bin Hasyim bin al-Qasim, dari Abu Hurairah, di mana dia bercerita:

“Rasulullah telah bersabda: ‘Barang siapa yang takut, maka ia akan berangkat pada awal malam dan barang siapa yang berangkat di awal malam, maka ia akan sampai di tempat tinggal. Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu sangatlah mahal, ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu adalah surga.’”

Kemudian at-Tirmidzi mengemukakan: “Hadits tersebut gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Abun Nadhr.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa tidak ada ganjaran bagi perbuatan yang baik kecuali kebaikan pula. Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, merek a kekal di dalamnya. (Yunus/10: 26)

Sehubungan dengan ayat 60 ini Ibnu Abi hatim Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah membaca ayat (yang artinya), “Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan,” kemudian beliau bertanya, “Apakah yang kalian ketahui dari firman Tuhan tersebut?” Mereka menjawab,

“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi menjawab, “Allah berfirman, ‘Tidak ada balasan kebaikan bagi mereka yang Kuberi nikmat dengan mengesakan (Aku) kecuali surga.” (Riwayat Ibnu Abi hatim, Ibnu Mardawaih, dan al-Baihaqi).

Tafsir Quraish Shihab: Perbuatan baik tidak akan dibalas kecuali dengan pahala yang baik pula.

Surah Ar-Rahman Ayat 61
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada saat itu Allah bertanya tentang nikmat mana lagi yang kamu dustakan, terutama nikmat yang telah Allah berikan pada hari ini. Allah juga mengingatkan tentang kabar derita dan peringatan pedih yang telah disampaikanNya, yaitu agar manusia meninggalkan dan menjauhi perbuatan dosa.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan, hai manusia dan jin? Masing-masing mendapat ganjaran sebagaimana yang diterangkan Allah. Bukankah itu nikmat yang besar bagi kamu sekalian.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Rahman Ayat 54-61 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S