Surah Maryam Ayat 10-11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Maryam Ayat 10-11

Pecihitam.org – Kandungan Surah Maryam Ayat 10-11 ini, menceritakan Nabi Zakaria memohon kembali kepada Allah supaya diberi tanda-tanda bahwa anaknya itu segera akan dilahirkan, agar hatinya tambah tenteram dan rasa syukurnya bertambah dalam. Beliau berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda yang dapat menambah ketenteraman hatiku tentang terlaksananya janji engkau itu.”

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 10-11

Surah Maryam Ayat 10
قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

Terjemahan: Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.

Tafsir Jalalain: قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّي آيَةً (Zakaria berkata, “Ya Rabbku! Berilah aku suatu tanda)” pertanda yang menunjukkan istriku mulai mengandung قَالَ آيَتُكَ (Allah berfirman, “Tanda bagimu) yang menunjukkan hal itu أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ (adalah bahwa kamu tidak boleh bercakap-cakap dengan manusia) mencegah dirimu untuk tidak berbicara dengan mereka selain dari berzikir kepada Allah

ثَلَاثَ لَيَالٍ (selama tiga malam) yakni tiga hari tiga malam سَوِيًّا (padahal kamu sehat)” lafal Sawiyyan berkedudukan menjadi Hal dari Fa’il lafal Takallama, maksudnya ia tidak berbicara dengan mereka tanpa sebab.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman mengabarkan tentang Zakariya, bahwa ia: قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّي آيَةً (“Berkata: ‘Ya Rabbku, berilah aku suatu tanda,’”) yaitu tanda dan bukti tentang adanya sesuatu yang telah Engkau janjikan untukku, agar jiwaku mantap dan hatiku tenang dengan apa yang telah Engkau janjikan.

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 24-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

قَالَ آيَتُكَ (“Dia berfirman: ‘Tanda bagimu,’”) artinya, tanda bukti bagimu; أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا (“[Adalah] bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat,”) yaitu lisanmu tertahan untuk berbicara selama tiga malam sedangkan engkau amat sehat, tidak menderita sakit.

Ibnu Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Wahb, as-Suddi, Qatadah dan lain-lain berkata: “Lisannya terikat (kaku), tanpa sakit dan tanpa adanya penyakit.” Ibnu Zaid bin Aslam berkata: “Beliau membaca dan bertasbih, tidak mampu berbicara kepada kaumnya kecuali isyarat saja.”

Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran: “Zakariya berkata:Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung).’ Allah berfirman: Tanda bagimu, kamu tidak bisa Berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.’” (QS. AliImran: 41)

Tafsir Kemenag: Kemudian Nabi Zakaria memohon kembali kepada Allah supaya diberi tanda-tanda bahwa anaknya itu segera akan dilahirkan, agar hatinya tambah tenteram dan rasa syukurnya bertambah dalam. Beliau berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda yang dapat menambah ketenteraman hatiku tentang terlaksananya janji engkau itu.”

Hal seperti ini pernah terjadi pula pada Nabi Ibrahim a.s. ketika ditanya, “Apakah engkau belum percaya bahwa Allah kuasa menghidupkan yang telah mati?” Beliau menjawab, “Sungguh aku percaya, akan tetapi aku bertanya supaya bertambah tenteram hatiku.” Sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).”

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 19-22; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (al-Baqarah/2: 260).

Surah Al-Maryam Ayat 11
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Terjemahan: Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

Tafsir Jalalain: فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ (Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya) yakni dari mesjid, sedang orang-orang menunggu pintu mesjid itu dibuka, karena mereka hendak melakukan salat di dalamnya, sesuai dengan kebiasaan mereka menurut perintah Zakaria

فَأَوْحَى (lalu ia memberi isyarat) إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا (kepada mereka; hendaklah kalian bertasbih) maksudnya melakukan salat بُكْرَةً وَعَشِيًّا (di waktu pagi dan petang) yakni pada permulaan siang hari dan akhirnya, sebagaimana biasa.

Setelah Nabi Zakaria mencegah dirinya untuk bercakap-cakap dengan mereka, pada saat itu diketahui bahwa istrinya mengandung Yahya. Selang dua tahun kemudian setelah Yahya lahir, Allah berfirman kepadanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dia berfirman dalam ayat yang mulia ini: فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ (“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya,”) yaitu dari mihrab tempat beliau mendapatkan kabar gembira akan mendapatkan seorang anak;

فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ (“Lalu ia memberi isyarat kepada mereka,”) yaitu memberikan isyarat tersembunyi lagi cepat; أَن سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا (“Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang,”) artinya sesuai perintah yang diberikan kepadanya pada tiga hari tersebut sebagai tambahan amalnya dalam rangka syukur kepada Allah, atas segala pemberian-Nya.

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 34-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mujahid berkata: فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ (“Lalu ia mewahyukan kepada mereka,”) artinya mengisyaratkan. Itulah pendapat Wahb dan Qatadah. Dalam riwayat lain, Mujahid berkata: فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ (“Lalu ia mewahyukan kepada mereka,”) artinya ia mewajibkan (menetapkan) untuk mereka di muka bumi. Demikian pendapat as-Suddi.

Tafsir Kemenag: Nabi Zakaria a.s. keluar dari mihrab menuju kaumnya, yang sudah lama menunggu karena kebiasaan mereka ikut salat berjamaah bersama di tempat beribadatnya pada pagi dan petang hari. Mereka bertanya, “Gerangan apa yang menyebabkan beliau terlambat membuka pintu mihrabnya.”

Lalu beliau memberi isyarat kepada mereka, supaya bertasbih mensucikan Allah dari kemusyrikan dan dari tuduhan mempunyai anak dan dari setiap sifat yang tidak layak bagi Allah. Mereka diperintahkan supaya banyak bertasbih di waktu pagi dan petang.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Maryam Ayat 10-11 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky Syafri
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG