Surah Maryam Ayat 27-33; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Maryam Ayat 27-33

Pecihitam.org – Kandungan Surah Maryam Ayat 27-33 ini, menjelaskan ketika Maryam menunjuk kepada putranya supaya berbicara dan menjelaskan tentang keadaannya, karena Maryam sudah bernazar untuk tidak berbicara dengan siapa pun dan sudah merasa yakin bahwa anaknya mengerti isyarat itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian Allah juga menjadikan aku seorang yang diberkahi dengan berbagai rahmat di mana dan kapan saja aku berada, dan dia juga memerintahkan kepadaku untuk menunaikan salat dan membayar zakat dari rezeki yang kudapatkan, selama aku hidup.

Allah juga memerintahkan aku untuk santun, taat, dan berbakti kepada ibuku, dan dia juga tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka, karena hal itu merupakan sifat dan sikap yang tercela.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 27-33

Surah Maryam Ayat 27
فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا

Terjemahan: Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

Tafsir Jalalain: فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ (Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya) lafal تَحْمِلُهُ menjadi Hal atau kata keterangan keadaan. Sehingga kaumnya melihat anak itu قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا (Kaumnya berkata, “Hai Maryam! Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar) suatu dosa yang sangat besar karena kamu memperoleh anak tanpa ayah.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman mengabarkan tentang Maryam saat diperintahkan puasa pada hari itu, yaitu tidak berbicara dengan seorang pun, karena urusannya sudah cukup dikatakan dengan hujjahnya itu. la telah serahkan urusannya kepada Allah, dan menerima seluruh qadha-Nya. Lalu, ia menggendong anaknya dan mendatangi kaumnya. Tatkala mereka melihatnya seperti itu, mulailah mereka besarkan masalahnya serta amat mengingkarinya.

Mereka berkata: “Hai Maryam! Engkau datang dengan membawa masalah besar.” Hal itu dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Suddi dan lain-lain.
“Hai saudara perempuan Harun,” yaitu, hai wanita yang menyerupai Harun dalam beribadah,

“Ayahmu bukanlah seorang penjahat dan ibumu bukanlah seorang penzina,” yaitu engkau lahir dari keluarga baik dan suci yang dikenal keshalihan, ibadah dan zuhudnya.

Tafsir Kemenag: Setelah Maryam diperintahkan untuk berpuasa pada hari melahirkan putranya dan tidak berbicara dengan seorang pun dan setelah ada jaminan dari Allah bahwa kehormatannya tetap terpelihara; maka Maryam menyerahkan seluruh nasibnya pada ketetapan Allah,

Maryam menggendong anaknya dan membawanya kepada kaumnya, hal itu menyebabkan kaumnya mencela perbuatannya seraya berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu perbuatan yang amat mungkar.”.

Surah Maryam Ayat 28
يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

Terjemahan: Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

Tafsir Jalalain: يَا أُخْتَ هَارُونَ (Hai saudara perempuan Harun!) dia adalah seorang lelaki yang saleh, hal ini berarti Maryam pun serupa dengannya dalam hal memelihara kehormatan مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ (Ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang buruk) bukan seorang pezina وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا (dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pelacur)” bukan pula seorang pezina, maka dari manakah anak ini.

Tafsir Ibnu Katsir: Ali bin Abi Thalhah dan as-Suddi berkata: “Dikatakan kepadanya,Wahai saudara perempuan Harun,’ yaitu saudara Musa.” Karena Maryam berasal dari keturunan Harun. Sebagaimana orang-orang keturunan Tamimi dipanggil dengan hai saudara Tamim dan orang-orang keturunan Mudharri dengan panggilan hai saudara Mudharr.

Satu pendapat mengatakan bahwa Maryam digolongkan kepada laki-laki shalih di kalangan mereka yang bernama Harun. Beliau diukur dengan laki-laki itu dari segi kezuhudan dan ibadahnya.

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 24-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ibnu Jarir menceritakan dari sebagian ulama bahwa mereka menyerupakan Maryam dengan laki-laki yang suka berbuat dosa yang bernama Harun. Dahulu mereka diberi nama dengan nama-nama para Nabi dan orang-orang shalih di kalangan mereka.

Imam Ahmad berkata bahwa al-Mughirah bin Syu’bah berkata: “Rasulullah mengutusku ke Najran, lalu mereka berkata: ‘Apa pendapatmu tentang apa yang kalian baca: ‘Hai saudara perempuan Harun,’ padahal Musa sebelum ‘Isa sekian tahun jaraknya?’ Aku kembali dan menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah lalu beliau bersabda:

Maukah kuberitahukan tentang mereka, bahwa dahulu mereka diberi nama dengan nama para Nabi dan orang-orang yang shalih sebelum mereka.’” Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits Ibnu Idris.”

Tafsir Kemenag: Kemudian mereka menambah celaan dan cemoohan serta tuduhan kepada Maryam seraya berkata, “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang wanita tuna susila.

Bagaimana kamu sampai mendapatkan anak ini.” Maryam dipanggil dengan sebutan “Saudara perempuan Harun”, oleh karena telah menjadi kebiasaan Bani Israil untuk menyebutkan nama-nama para nabi dan orang-orang saleh sebelumnya.

Diriwayatkan oleh al-Mugirah bin Syu`bah yang diutus oleh Rasulullah saw, ke Najran di negeri Yaman di mana terdapat orang-orang Nasrani dan mereka bertanya kepadanya, “Mengapa kamu membaca di dalam Al-Qur’an, “hai saudara perempuan Harun,” padahal Harun dan Musa itu hidupnya lama sekali sebelum lahirnya Isa putra Maryam?” al-Mugirah tidak sempat memberikan jawaban dan ketika beliau pulang ke Medinah dan menghadap Rasulullah beliau mengemukakan pertanyaan itu. Oleh Rasulullah saw dijawab:

“Mengapa kamu tidak memberitahu mereka, bahwa kebiasaan mereka (Bani Israil) itu suka menyebut-nyebut nama para nabi dan orang-orang saleh sebelum mereka.” (Riwayat Ahmad)

Surah Maryam Ayat 29
فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا

Terjemahan: maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”

Tafsir Jalalain: فَكُلِي (Maka Maryam mengisyaratkan) kepada kaumnya (-seraya menunjuk- kepada anaknya) maksudnya supaya mereka bertanya kepada anaknya. (Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak) yang masih (kecil berada dalam ayunan?)”.

Tafsir Ibnu katsir: Firman-Nya: فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam gendongan?’”) Yaitu tatkala mereka meragukan Maryarn dan mengingkari kejadian pada dirinya itu serta mereka berkata kepadanya seperti perkataan orang-orang yang berupaya menuduhnya dengan cacian, padahal saat itu ia dalam keadaan puasa dan berdiam diri.

Maka Maryam mengalihkan pembicaraan kepada Isa dan mengisyaratkan mereka untuk berbicara dan berdialog dengannya. Lalu mereka berbicara dengan penuh murka kepadanya karena menyangka Maryam mengejek dan bermain-main dengan mereka:

كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam gendongan?”) Yaitu, anak yang ada dalam gendongan dalam keadaan bayi dan kecil, bagaimana ia dapat berbicara?Isa menjawab: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah.”

Tafsir Kemenag: Maryam menunjuk kepada putranya supaya berbicara dan menjelaskan tentang keadaannya, karena Maryam sudah bernazar untuk tidak berbicara dengan siapa pun dan sudah merasa yakin bahwa anaknya mengerti isyarat itu.

Orang-orang Yahudi bertanya dengan keheranan, “Bagaimana kami akan berbicara dengan seorang bayi yang masih di dalam gendongan?” Mereka menduga bahwa Maryam memperolok-olok mereka.

Surah Maryam ayat 30
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

Baca Juga:  Makna dan Penarsiran Hati dalam alQuran, Ini Penjelasannya

Terjemahan: Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Tafsir Jalalain: قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ (Isa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab) yakni kitab Injil وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (dan Dia menjadikan aku seorang nabi).

Tafsir ibnu katsir: Isa menjawab: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah.” Kalimat pertama yang diucapkan adalah menyucikan Rabbnya dan membebaskan-Nya dari tuduhan memiliki anak serta menetapkan`ubudiyah itu hanya milik Allah.

Firman-Nya: آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ( “Dia memberiku al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”) Membebaskan ibunya dari tuduhan keji yang dilontarkan kepadanya.

Tafsir kemenag: Isa a.s. yang masih dalam gendongan ibunya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia yang akan memberikan aku kitab suci Injil dan Dia yang akan menjadikan aku seorang Nabi.” Ucapan ini mengandung penjelasan bahwa ibunya adalah seorang wanita yang suci karena seorang Nabi harus dari keturunan orang yang saleh dan suci.

Surah Maryam Ayat 31
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

Terjemahan: dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

Tafsir Jalalain: (Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada) maksudnya Dia menjadikan diriku orang yang banyak memberi manfaat kepada manusia.

Ungkapan ini merupakan berita tentang kedudukan yang telah dipastikan baginya (dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan salat dan menunaikan zakat) Allah memerintahkan kepadaku untuk melakukan kedua hal tersebut (selama aku hidup).

Tafsir ibnu katsir: Para ulama fiqih telah sepakat tentang firman Allah: وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ; dikatakan: “Apa keberkahannya?” Seorang di antara ulama itu berkata: “Amar ma’ruf dan nahi munkar dimana pun `Isa berada.”

Firman-Nya: وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (“Dia memerintahkan aku mendirikan shalat dan menunaikan zakai selama aku hidup,”) seperti firman Allah kepada Muhammad saw: wa’bud rabbaka hattaa ya’tiyakal yaqiin (“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini [ajal].”)

Abdurrahman bin al-Qasim dari Malik bin Anas berkata tentang firman Allah: وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (“Dan Dia memerintahkan aku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup,”) Dia mengabarkan kepadanya tentang sesuatu yang menjadi urusannya hingga hari kematiannya, sesuatu yang telah ditetapkan-Nya untuk ahli qadar.

Tafsir kemenag: Selanjutnya Isa kecil mengatakan, Allah akan menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, karena aku memberi manfaat kepada manusia dan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan kebahagiaan;

Allah telah memerintahkan aku untuk mendirikan salat karena dalam mendirikan salat itu terkandung perbuatan membersihkan diri dari berbagai macam dosa lahir dan batin, Allah juga memerintahkan aku untuk menunaikan zakat selama aku hidup di dunia. Zakat bertujuan untuk membersihkan harta, jiwa dan memberi bantuan kepada fakir miskin.

Surah Maryam Ayat 32
وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

Terjemahan: dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Tafsir jalalain: وَبَرًّا بِوَالِدَتِي (Dan berbakti kepada ibuku) lafal Barran dinashabkan oleh lafal Ja’alani yang keberadaannya diperkirakan, maksudnya, Dia menjadikan aku sebagai orang yang berbakti kepada ibuku وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا (dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong) orang yang merasa tinggi diri شَقِيًّا (lagi celaka) yang durhaka kepada Rabbnya.

Tafsir ibnu katsir: Firman-Nya: wa barram biwaalidatii (“Berbakti kepada ibuku,”) yaitu Dia memerintahkanku untuk berbakti kepada ibuku. Hal itu disebutkan setelah ketaatan kepada Rabbnya.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 107-108; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Karena, Allah banyak menyertakan perintah beribadah kepada-Nya dengan taat kepada kedua orang tua. Sebagaimana firman Allah: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tua ibu bapakmu, hanya kepada-Kul-ah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Firman-Nya: وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (“Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”) Yaitu Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi takabbur (enggan) beribadah dan taat kepada-Nya, serta enggan berbakti kepada ibuku, hingga menyebabkan aku celaka karenanya.

Sufyan ats-Tsauri berkata: “Lafazh al جَبَّارًا شَقِيًّا artinya adalah orang yang membunuh karena murka.” Sedangkan sebagian ulama Salaf berkata: “Tidak ada seorang pun yang ditemukan dalam keadaan durhaka kepada orang tuanya kecuali pasti ia adalah seorang yang sombong lagi celaka.” Kemudian ia membaca:

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (“Berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”) Dan tidak ditemukan seorang pun yang buruk akhlaknya kecuali pasti ia adalah seorang yang sombong lagi membangakan diri,

Qatadah berkata, telah diceritakan kepada kami bahwa seorang wanita pernah melihat Isa bin Maryam mampu menghidupkan orang yang mati serta menyembuhkan orang yang buta dan berpenyakit kusta sebagai tanda-tanda yang diberikan dan diizinkan Allah.

Wanita itu berkata: “Beruntunglah perut yang mengandungmu dan tetek yang menyusuimu.” LaluIsa as. menjawab: “Beruntunglah bagi orang yang membaca Kitab Allah lalu mengikuti isinya dan tidak menjadi orang yang sombong lagi celaka.”

Tafsir kemenag: Isa yang masih bayi menjelaskan lebih lanjut, bahwa Allah memerintahkan kepadanya supaya berbakti kepada ibunya, tunduk dan selalu berbuat kebaikan kepadanya. Ucapan ini menunjukkan pula kesucian Maryam, karena apabila tidak demikian maka Nabi Isa tidak akan diperintah untuk berbakti kepada ibunya.

Keterangan selanjutnya Isa mengatakan, “Allah tidak menjadikan aku seorang yang sombong karena aku selalu taat menyembah Allah dan tidak pula menjadikan aku seorang yang celaka karena aku selalu berbuat baik kepada ibuku.”.

Surah Maryam Ayat 33
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Terjemahan: Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Tafsir Jalalain: وَالسَّلَامُ (Dan kesejahteraan) dari Allah عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali)” hal ini telah dikatakan pada kisah yang lalu, yaitu dalam doa Nabi Yahya.

Tafsir ibnu katsir: Firman-Nya: وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”).

Hal ini merupakan ikrar darinya tentang kehambaannya kepada Allah dan dirinya adalah satu ciptaan Allah yang dihidupkan, dimatikan dan dibangkitkan seperti makhluk lainnya. Akan tetapi, ia memperoleh kesejahteraan di saat kondisi mencekam menyelimuti hamba-hamba lainnya. ShalawatullaH wa salamuhu alaiHi.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Maryam Ayat 27-33 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S