Surah Al-Mujadalah Ayat 5-7; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mujadalah Ayat 5-7

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mujadalah Ayat 5-7 ini, menerangkan bagaimana luas, dalam, dan lengkapnya pengetahuan Allah tentang makhluk yang diciptakan-Nya, sejak dari yang kecil sampai kepada yang sebesar-besarnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Diterangkan bahwa ilmu Allah mencakup segala yang ada di langit dan di bumi, betapa pun kecil dan halusnya. Jika ada tiga orang di langit dan di bumi berbisik-bisik, maka Allah yang keempatnya. Jika yang berbisik dan mengadakan perundingan rahasia itu empat orang, maka Allah yang kelimanya, dan jika yang berbisik dan mengadakan perundingan rahasia itu lima orang maka Allah yang keenamnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah Ayat 5-7

Surah Al-Mujadalah Ayat 5
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ كُبِتُواْ كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتٍۢ بَيِّنَٰتٍ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ (Sesungguhnya orang-orang yang menentang) orang-orang yang melawan ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ كُبِتُواْ (Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan) mereka pasti akan memperoleh kehinaan كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ (sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan) karena mereka menentang rasul-rasul mereka.

وَقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتٍۢ بَيِّنَٰتٍ (Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas) yang menunjukkan kebenaran Rasul. وَلِلۡكَٰفِرِينَ (Dan bagi orang-orang yang kafir) yang ingkar kepada ayat-ayat itu عَذَابٌ مُّهِينٌ (ada azab yang menghinakan) yaitu siksaan yang membuat mereka hina.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menceritakan tentang orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta membangkang terhadap syariat-Nya: كُبِتُواْ كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ (“Pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.”) maksudnya mereka dihinakan, dilaknat, dan direndahkan, sebagaimana yang telah Allah lakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka sebelumnya.

وَقَدۡ أَنزَلۡنَآ ءَايَٰتٍۢ بَيِّنَٰتٍ (“Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata”) artinya sangat jelas, yang tidak dapat ditentang dan dilanggar kecuali oleh orang kafir, bejat dan sombong. وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ (“Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.”) maksudnya sebagai balasan terhadap kesombongan mereka untuk mengikuti dan tunduk kepada syariat Allah, serta merendahkan diri di hadapan-Nya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini memperingatkan manusia yang menentang Allah dan rasul-Nya, dengan memilih hukum yang berlaku pada dirinya, bukan hukum yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya, dan memeluk agama yang bukan agama yang disyariatkan-Nya.

Mereka akan ditimpa azab berupa kehinaan selama hidup di dunia, sebagaimana telah ditimpakan kepada orang-orang dahulu yang mengingkari para rasul yang diutus Allah kepada mereka.

Ayat ini merupakan kabar gembira dan menambah semangat kaum Muslimin yang sedang mengalami tekanan dari orang-orang yang bersekutu dalam Perang Ahzab. Pada waktu itu, orang-orang Yahudi, orang-orang musyrik Mekah, dan orang-orang munafik bersatu dan bersekutu menghadapi kaum Muslimin, sehingga jumlah mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah kaum Muslimin. Karena semangat kaum Muslimin yang tinggi dan keyakinan mereka akan pertolongan Allah yang akan diberikan kepada mereka, maka mereka dapat mengalahkan tentara yang bersekutu itu.

Ayat ini merupakan peringatan kepada para pemimpin bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat, apakah mereka telah menjalankan hukum-hukum Allah dalam pemerintahan mereka. Sebab, Allah telah menegaskan bahwa hukum dan agama yang boleh dianut manusia hanyalah agama Islam. Selain dari itu, manusia dilarang mengikuti dan menganutnya. Allah berfirman:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ma’idah/5: 3)

Baca Juga:  Surah Al-Mujadalah Ayat 20-22; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Agama Islam yang dimaksud ialah agama yang didakwahkan Nabi Muhammad yang diterima dari Allah. Sementara itu mengenai hal-hal yang telah ditentukan, para penguasa atau orang-orang yang mewakili rakyatnya dibolehkan menetapkan hukum-hukum lain yang mengatur kehidupan masyarakatnya, selama hukum itu tidak bertentangan dengan hukum yang telah ditetapkan Allah.

Diterangkan bahwa Allah telah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada Nabi Muhammad, yang mengemukakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat akan kebenaran agama beserta hukum-hukum-Nya. Tidak seorang pun yang dapat mematahkan dalil-dalil dan bukti-bukti, sekalipun mereka masih tetap ingkar dan melanggar hukum-hukum itu.

Dari ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa Allah memerintahkan kepada manusia terutama kepada cerdik-pandai agar mempelajari dan membahas hukum-hukum Allah, menggunakan akal, pikiran, dan pengalaman mereka, bahkan dengan seluruh kemampuan yang ada pada mereka. Kemudian memberikan penilaian yang tepat dan objektif.

Dalam ayat ke-4 yang lalu dikatakan, “Wa lil-kafirina ‘adhabun alim” (dan bagi orang-orang kafir azab yang pedih), sedangkan pada ayat kelima ini dikatakan, “Wa lil kafirina ‘adhabun muhin” (dan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan). Yang dimaksud dengan orang-orang kafir pada ayat ke-4 ialah orang-orang mukmin yang melanggar ketentuan-ketentuan.

Mereka memperoleh azab yang pedih sebagai pelajaran bagi mereka agar segera bertobat dan menyadari kesalahan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan orang kafir pada ayat kelima ini ialah orang yang benar-benar kafir, tidak beriman. Bagi mereka azab yang menimbulkan kehinaan selama kehidupan dunia, seperti hilangnya rasa malu pada diri mereka, merasa biasa melakukan perbuatan terlarang, merasa biasa berbuat curang dan melakukan perbuatan keji.

Orang yang seperti itu biasanya adalah orang yang berkuasa yang dapat melakukan semua yang dikehendakinya, tetapi orang lain tidak lagi mempunyai penghargaan dalam arti yang sebenarnya pada mereka. Banyak lagi bentuk penghinaan yang lebih berat yang mereka terima.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya benar-benar telah terhinakan seperti halnya orang-orang sebelum mereka. Kami telah menurunkan bukti-bukti kebenaran yang jelas. Karenanya, orang-orang yang mengingkarinya akan mendapatkan siksa yang sangat menghinakan.

Surah Al-Mujadalah Ayat 6
يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ شَهِيدٌ

Terjemahan: “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ شَهِيدٌ (Pada hari ketika mereka semuanya dibangkitkan Allah lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitung amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا (“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya”) yakni pada hari kiamat, dimana Allah menghimpun orang-orang terdahulu dan juga orang-orang yang hidup pada akhir jaman dalam satu waktu. فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْ (“Lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan, baik berupa kebaikan maupun kejahatan.

أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ (“Allah mengumpulkan [mencatat] amal perbuatan mereka, padahal mereka telah melupakannya.”) maksudnya Allah menjaga dan memelihara amal perbuatan mereka, sedang mereka telah melupakannya. وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ شَهِيدٌ (“Dan Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu”) artinya tidak ada sesuatu pun yang ghaib [tidak tampak] bagi-Nya, tidak juga tersembunyi dari-Nya, dan Dia sama sekali tidak akan pernah melupakannya sedikitpun.

Baca Juga:  Surah Al-Ahzab Ayat 28-29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang-orang yang menentang dan melanggar hukum Allah di akhirat nanti. Allah mengumpulkan mereka semua sejak manusia pertama yaitu Adam, sampai saat terakhir kehidupan manusia, pada hari Kiamat.

Kemudian Allah memberitahukan kepada mereka yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia. Semuanya itu tercatat dalam kitab catatan mereka masing-masing, tidak ada satu pun yang dilupakan, walaupun mereka sendiri telah melupakannya karena tidak sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Yaitu di hari ketika Allah menghidupkan mereka setelah mati, lalu diberi tahu tentang amalan-amalan yang telah mereka perbuat. Amalan-amalan itu telah Allah hitung dengan tepat, sedang mereka sendiri telah melupakannya. Allah benar-benar melihat dan menyaksikan segala sesuatu.

Surah Al-Mujadalah Ayat 7
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: أَلَمۡ تَرَ (Tidakkah kamu perhatikan) tidakkah kamu ketahui أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ (bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya) yakni melalui ilmu-Nya.

وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ (Dan tiada pembicaraan antara lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu).

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya dengan memberitahukan tentang ilmu-Nya yang meliputi seluruh makhluk-Nya dan pengawasan-Nya terhadap mereka, pendengaran-Nya akan ucapan-ucapan mereka, dan penglihatan-Nya terhadap tempat dimana dan bagaimana mereka, Dia berfirman:

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ (“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengentahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang.”) yakni rahasia yang ada antara tiga orang.

إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْ (“Melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada [pembicaraan antara] lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak [pula] pembicaaan antara [jumlah] yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka dimanapun mereka berada.”) maksudnya Allah senantiasa mengawasi mereka, mendengar ucapan, rahasia, dan perbincangan mereka. Dan para utusan-Nya bersama ilmu-Nya mencatat apa yang telah mereka bisikkan itu, meskipun Allah sendiri mengetahui dan mendengarnya.

Baca Juga:  Surah Al Qadr; Tafsir, Asbabun Nuzul, Keutamaan dan Artinya

Oleh karena itu, banyak riwayat yang menceritakan ijma’ yang menyepakati bahwa yang dimaksud ayat ini adalah kebersamaan ilmu-Nya. maksudnya seperti itu tidak diragukan lagikebenarannya. Tetapi pendengaran-Nya juga bersama ilmu-Nya meliputi mereka dan pandangan-Nya meliputi mereka dan pandangan-Nya menembus mereka. Dengan demikian, Allah senantiasa mengawasi semua makhluk-Nya, tidak ada sedikitpun dari urusan mereka yang tersembunyi dari-Nya.

Kemudian Dia berfirman: ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ (“Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”) imam Ahmad mengatakan: “Ayat ini diawali dengan ilmu dan ditutup dengan ilmu.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bagaimana luas, dalam, dan lengkapnya pengetahuan Allah tentang makhluk yang diciptakan-Nya, sejak dari yang kecil sampai kepada yang sebesar-besarnya. Diterangkan bahwa ilmu Allah mencakup segala yang ada di langit dan di bumi, betapa pun kecil dan halusnya. Jika ada tiga orang di langit dan di bumi berbisik-bisik, maka Allah yang keempatnya.

Jika yang berbisik dan mengadakan perundingan rahasia itu empat orang, maka Allah yang kelimanya, dan jika yang berbisik dan mengadakan perundingan rahasia itu lima orang maka Allah yang keenamnya. Bahkan berapa orang saja berbisik dan mengadakan perundingan rahasia dan di mana saja mereka melakukannya, pasti Allah mengetahuinya.

Penyebutan bilangan tiga, empat, dan lima orang dalam ayat hanyalah untuk menyatakan bahwa biasanya perundingan itu dilakukan oleh beberapa orang seperti tiga, empat, lima, dan seterusnya, dan tiap-tiap perundingan itu pasti Allah menyaksikannya. Allah berfirman:

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah mengetahui segala yang gaib? (at-Taubah/9: 78) Dan berfirman: Ataukah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka. (az-Zukhruf/43: 80)

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa kebenaran tentang Allah Maha Mengetahui segala sesuatu itu, barulah mereka ketahui di hari Kiamat nanti, yaitu ketika dikemukakan catatan amal mereka yang di dalamnya tercatat seluruh perbuatan yang pernah mereka kerjakan selama hidup di dunia, yaitu berupa perbuatan baik maupun perbuatan buruk, tidak ada satu pun yang dilupakan untuk dicatat. Pada saat itu, orang-orang kafir barulah menyesali perbuatan mereka, tetapi penyesalan di kemudian hari itu tidak ada gunanya sedikit pun. .

Tafsir Quraish Shihab: Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi? Bila saja ada tiga orang yang mengadakan pembicaraan rahasia, maka–karena Dia selalu mengetahuinya–Dia adalah yang keempatnya. Jika ada lima orang yang berbuat demikian, maka Dia adalah yang keenamnya. Atau jika orang yang mengadakan pembicaran rahasia itu berjumlah lebih kecil atau lebih besar dari itu, Dia selalu menyertai mereka.

Dia mengetahui segala sesuatu yang mereka bisikkan di mana saja mereka berada. Pada hari kiamat, Allah akan memberitahukan mereka segala sesuatu yang pernah mereka perbuat. Allah benar-benar mengetahui segala sesuatu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mujadalah Ayat 5-7 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S