Surah Al-Mujadalah Ayat 14-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mujadalah Ayat 14-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mujadalah Ayat 14-19 ini, Allah memerintahkan kaum Muslimin agar memperhatikan dengan seksama orang-orang munafik yang menjadikan orang-orang Yahudi sebagai teman setia mereka, dan mereka menyampaikan kepada orang-orang Yahudi rahasia-rahasia yang sering mereka dengarkan dari Nabi saw dan kaum Muslimin. Allah menyediakan bagi mereka azab yang sangat berat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Watak dan sifat seorang manusia selama hidup di dunia akan diperlihatkan Allah di akhirat. Jika watak, sifat, dan tabiat mereka baik selama hidup di dunia, maka hal itu akan tampak baik di akhirat. sebab-sebab orang-orang munafik di atas dimasukkan ke dalam api neraka adalah karena hati dan pikiran mereka telah dipengaruhi oleh bisikan-bisikan setan, sehingga mereka tidak dapat lagi mengingat Allah, mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah Ayat 14-19

Surah Al-Mujadalah Ayat 14
أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ تَوَلَّوۡاْ قَوۡمًا غَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مَّا هُم مِّنكُمۡ وَلَا مِنۡهُمۡ وَيَحۡلِفُونَ عَلَى ٱلۡكَذِبِ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

Terjemahan: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.

Tafsir Jalalain: أَلَمۡ تَرَ (Tidakkah kamu perhatikan) tidakkah kamu melihat ِإِلَى ٱلَّذِينَ تَوَلَّوۡاْ (orang-orang yang menjadikan teman) mereka adalah kaum munafik قَوۡمًا (suatu kaum) yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi غَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مَّا (yang dimurkai Allah? Orang-orang itu bukan) yakni orang-orang munafik itu bukan هُم مِّنكُمۡ (dari golongan kalian) orang-orang mukmin وَلَا مِنۡهُمۡ (dan bukan pula dari golongan mereka) bukan dari kalangan orang-orang Yahudi akan tetapi mereka adalah orang-orang yang bermuka dua.

وَيَحۡلِفُونَ عَلَى ٱلۡكَذِبِ (Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan) yakni perkataan mereka bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang beriman وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ (sedang mereka mengetahui) bahwa dalam hal ini mereka berdusta belaka.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya mengingkari orang-orang munafik yang dalam bathinnya telah menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka, padahal pada hakekatnya mereka tidak bersama dengan orang-orang kafir itu dan tidak juga bersama orang-orang mukmin. Allah berfirman:

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ تَوَلَّوۡاْ قَوۡمًا غَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman?”) yakni orang-orang Yahudi yang secara bathin orang-orang munafik telah menjadikan mereka sebagai pemimpin.

Setelah itu Allah berfirman: مَّا هُم مِّنكُمۡ وَلَا مِنۡهُمۡ (“Orang-orang itu bukanlah dari golonganmu dan bukan [pula] dari golongan mereka.”) maksudnya pada hakekatnya orang-orang munafik itu bukan dari golongan kalian, wahai orang-orang yang beriman, dan bukan juga termasuk golongan orang-orang Yahudi yang mereka jadikan sebagai pemimpin.

Firman-Nya selanjutnya: وَيَحۡلِفُونَ عَلَى ٱلۡكَذِبِ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ (“Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan sedang mereka mengetahui.”) yakni orang-orang munafik itu bersumpah untuk memperkuat kebohongan mereka, padahal mereka mengetahui bahwa mereka itu berdusta dalam sumpah mereka. Inilah yang dinamakan dengan sumpah palsu, apalagi keluar dari orang-orang munafik yang terlaknat seperti itu.

Mudah-mudahan Allah melindungi kita semua dari hal seperti itu. Jika orang-orang munafik itu bertemu dengan orang-orang yang beriman, maka mereka akan mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan jika mereka datang kepada Rasulullah saw. maka mereka akan bersumpah atas nama Allah bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka mengetahui bahwa mereka telah berdusta dalam sumpah tersebut.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan kaum Muslimin agar memperhatikan dengan seksama orang-orang munafik yang menjadikan orang-orang Yahudi sebagai teman setia mereka, dan mereka menyampaikan kepada orang-orang Yahudi rahasia-rahasia yang sering mereka dengarkan dari Nabi saw dan kaum Muslimin. Bila bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka menyatakan keimanan mereka, serta berjanji akan ikut berdakwah dan berjuang menegakkan kalimat Allah.

Akan tetapi, bila mereka bertemu dengan orang-orang Yahudi, mereka menggambarkan kejelekan kaum Muslimin dan berjanji bersama-sama akan menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Firman Allah: Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. (al-Baqarah/2: 8-10)

Menurut riwayat Ahmad dan al-hakim yang diterima dari as-Suddi dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan ‘Abdullah bin Nabtal, seorang munafik yang sering menyampaikan rahasia-rahasia kaum Muslimin kepada orang-orang Yahudi.

Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk di rumahnya, kemudian beliau menyampaikan kepada para sahabat yang duduk di sekitar beliau, “Akan datang ke tempatmu ini seorang yang pandangannya seperti pandangan setan. Jika ia datang nanti, janganlah kalian berbicara dengannya.”

Tidak berapa lama kemudian, datanglah seseorang, yaitu ‘Abdullah bin Nabtal, dan Rasulullah berkata kepadanya, “Mengapa kamu beserta teman-teman kamu itu mencaci-makiku dan sahabat-sahabatku?” Orang itu menjawab, “Akan aku panggil sahabat-sahabatku untuk membuktikan ketidakbenaran tuduhan itu.”

Setelah ia dan teman-temannya sampai di hadapan Rasulullah saw, mereka bersumpah dengan menyebut nama Allah, bahwa mereka semua tidak pernah melakukan seperti apa yang dituduhkan itu. Allah menegaskan bahwa orang-orang munafik bukanlah orang mukmin yang benar, sebagaimana pengakuan mereka. Mereka mengaku beriman semata-mata untuk mengambil hati orang-orang yang beriman saja, dan menjaga hubungan baik dengan mereka.

Baca Juga:  Surah Al-Mujadalah Ayat 12-13; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Orang-orang munafik itu juga tidak termasuk golongan Yahudi yang benar. Mereka mengaku Yahudi semata-mata untuk mengambil hati orang-orang Yahudi, sehingga memperoleh perlindungan dari mereka. Dengan cara bermuka dua itu, mereka menduga akan dapat menghindarkan diri dari peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir, termasuk di dalamnya orang Yahudi.

Allah berfirman: Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak termasuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang kafir). Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (an-Nisa’/4: 143)

Diterangkan bahwa orang-orang munafik itu tidak segan-segan bersumpah dengan menyebut nama Allah untuk meyakinkan orang-orang yang beriman dan menyatakan bahwa mereka benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Demikian pula bila mereka bertemu dengan orang-orang Yahudi, mereka bersumpah pula bahwa mereka adalah teman setia dan berjanji akan saling membantu dalam menghadapi orang-orang Islam. Orang-orang munafik itu mengetahui benar bahwa perbuatan mereka itu adalah tidak baik dan terlarang.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai Rasulullah, apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang munafik yang menjadikan bangsa yang dimurkai Allah sebagai teman? Mereka yang menjadikan teman itu bukan bagian dari kalian dan bukan pula bagian dari mereka yang dijadikan teman. Mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongannya, padahal mereka benar-benar tahu bahwa mereka adalah pembohong.

Surah Al-Mujadalah Ayat 15
أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُمۡ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Terjemahan: “Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

Tafsir Jalalain: أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُمۡ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan) dari perbuatan-perbuatan maksiat.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian firman Allah: أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُمۡ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (“Allah telah menyediakan bagi mereka adzab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”) maksudnya Allah swt. telah menyediakan bagi mereka adzab yang pedih atas berbagai perbuatan buruk yang telah mereka kerjakan, berupa pengangkatan orang-orang kafir sebagai pemimpin dan penasehat mereka serta manjadikan orang-orang yang beriman sebagai musuh mereka.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini diterangkan bahwa karena kemunafikan itu, Allah menyediakan bagi mereka azab yang sangat berat. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kemunafikan itu termasuk perbuatan buruk, membahayakan masyarakat, dan dosa besar.

Orang-orang munafik itu menipu dan membeberkan rahasia-rahasia kaum Muslimin kepada musuh-musuh mereka, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik Mekah. Tindakan itu dapat mengakibatkan kehancuran agama Islam dan kaum Muslimin. Allah menyediakan bagi mereka di akhirat nanti azab neraka sebagai hukuman atas perbuatan mereka di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Allah menyediakan untuk orang-orang munafik itu suatu siksa yang sangat keras. Kemunafikan dan sumpah bohong yang pernah mereka lakukan itu benar-benar sangat buruk.

Surah Al-Mujadalah Ayat 16
ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةً فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ فَلَهُمۡ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Terjemahan: “Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan.

Tafsir Jalalain: ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةً (Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai) untuk melindungi jiwa dan harta mereka فَصَدُّواْ (lalu mereka halangi) dengan sumpah mereka itu orang-orang mukmin عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ (dari jalan Allah) untuk berjihad melawan mereka yang musuh dalam selimut itu, dengan cara membunuh mereka dan merampas harta benda mereka فَلَهُمۡ عَذَابٌ مُّهِينٌ (karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan) siksaan yang membuat mereka hina.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Allah berfirman: ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةً فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ (“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai lalu mereka halangi [manusia] dari jalan Allah.”) maksudnya mereka telah memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran.

Mereka berlindung di belakang sumpah-sumpah palsu, sehingga orang-orang yang tidak mengetahui hakekat mereka itu akan tertipu, hingga akhirnya dengan taktik seperti itu tujuan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah akan tercapai bagi sebagian orang.

فَلَهُمۡ عَذَابٌ مُّهِينٌ (“karena itu mereka mendapatkan adzab yang menghinakan.”) sebagai balasan atas sikap mereka yang telah meremehkan sumpah dengan mengatasnamakan Allah Yang mahaagung pada sumpah-sumpah mereka yang penuh dengan kedustaan dan pengkhianatan.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan tujuan mereka melakukan kemunafikan itu. Dengan berdusta yang dikuatkan dengan sumpah, banyak kaum Muslimin yang mempercayai mereka. Karena disangka orang yang benar-benar beriman, sehingga terhindar dari pembalasan atau pengusiran oleh kaum Muslimin.

Dengan tindakan itu, mereka mendapat keuntungan dari kaum Muslimin, yang mempercayai perkataan mereka, sehingga membela mereka. Dengan jalan demikian, mereka dapat menghalang-halangi orang lain memeluk agama Islam dengan cara menjelek-jelekkan Islam dan kaum Muslimin. Bahkan mereka dapat menimbulkan ketakutan dan keengganan pada hati kaum Muslimin untuk ikut berperang bersama Rasulullah.

Dalam salah satu firman-Nya, Allah menjelaskan sikap dari orang-orang munafik: Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah (Muhammad), “Api neraka Jahanam lebih panas,” jika mereka mengetahui. (at-Taubah/9: 81) Karena dosa besar yang telah mereka lakukan, maka sudah sepantasnya orang-orang munafik menerima siksa yang menghinakan di dunia dan di akhirat, sebagai balasan perbuatan mereka itu.

Baca Juga:  Surah Al-Mujadalah Ayat 11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai untuk menghindari pembunuhan, penawanan anak dan perampasan harta mereka. Dengan begitu mereka telah menghalangi jalan Allah. Karenanya mereka akan mendapatkan siksa yang sangat menghinakan.

Surah Al-Mujadalah Ayat 17
لَّن تُغۡنِىَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Terjemahan: “Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya.

Tafsir Jalalain: لَّن تُغۡنِىَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ (Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna untuk menolong mereka dari Allah) dari azab-Nya شَيۡـًٔا (barang sedikit pun) yakni tiada berguna sama sekali. أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ (Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian firman Allah: لَّن تُغۡنِىَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا (“Harta benda dan anak-anakmereka tidak berguna sedikitpun [untuk menolong] mereka dari adzab Allah.”) maksudnya semua itu sama sekali tidak dapat mencegah siksaan jika sudah mendatangi mereka. أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ (“Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini ditegaskan bahwa harta dan anak-anak orang munafik tidak dapat membantu menyelamatkan dan menghindarkan diri mereka dari azab Allah. Ayat ini menggambarkan bahwa watak dan sifat orang-orang munafik adalah merasa bangga mempunyai anak-anak dan harta yang banyak, seakan-akan apa yang mereka miliki itu dapat membela dan melepaskan mereka dari malapetaka yang mengancam mereka.

Allah berfirman: Dan mereka berkata, “Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab.” (Saba’/34: 35) Karena mendapat nikmat yang besar di dunia, maka orang-orang munafik itu merasa bahwa mereka adalah orang yang dikasihi Allah dan tidak akan diazab di akhirat.

Menurut mereka, gambaran kehidupan akhirat bagi seseorang adalah kehidupan dunianya. Jika seseorang berbahagia dalam kehidupan dunia, tentu mereka berbahagia pula dalam kehidupan akhirat. Sebaliknya jika mereka sengsara dalam kehidupan dunia, tentu akan sengsara pula dalam kehidupan akhirat. Dugaan mereka itu keliru, karena tujuan hidup yang utama ialah mencari keridaan Allah.

Selama seorang mencari keridaan Allah dalam kehidupannya, selama itu pula ia dilindungi-Nya, baik ia terlihat hidup berkecukupan atau tidak. Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang yang menyatakan harta dan anak-anak mereka dapat digunakan untuk menghindarkan diri dari azab Allah akan menjadi penghuni neraka di akhirat. Mereka kelak hidup di dalamnya dengan penuh penderitaan.

Tafsir Quraish Shihab: Harta dan anak mereka tidak akan dapat menghalangi mereka dari siksa Allah sedikit pun. Mereka adalah penghuni neraka yang kekal di dalamnya.

Surah Al-Mujadalah Ayat 18
يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا فَيَحۡلِفُونَ لَهُۥ كَمَا يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَىۡءٍ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ

Terjemahan: “(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.

Tafsir Jalalain: Ingatlah يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا فَيَحۡلِفُونَ لَهُۥ (hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu mereka bersumpah kepada-Nya) bahwasanya mereka adalah orang-orang yang beriman كَمَا يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَىۡءٍ (sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh sesuatu) manfaat dari sumpah mereka di akhirat itu sebagaimana sumpah mereka di dunia. أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ (Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta).

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu, Dia berfirman: يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا (“Pada hari ketika mereka semua dibangkitkan Allah.”) maksudnya, Dia mengumpulkan mereka pada hari kiamat kelak dari manusia sampai manusia terakhir sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal.

فَيَحۡلِفُونَ لَهُۥ كَمَا يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَىۡءٍ (“Lalu mereka bersumpah kepada-Nya [bahwa mereka bukan orang musyrik] sebagaimana mereka bersumpah kepadamu, dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh sesuatu [manfaat].”) maksudnya mereka bersumpah atas nama Allah bahwa mereka berada di atas petunjuk dan istiqamah, sebagaimana mereka dulu pernah bersumpah kepada orang-orang ketika di dunia, karena orang yang hidup di atas satu jalan, maka dia akan mati di jalan yang sama dan akan dibangkitkan di atas jalan yang sama juga.

Dan mereka berkeyakinan bahwa sumpah itu akan mendatangkan manfaat bagi mereka di sisi Allah sebagaimana manfaat yang telah mereka peroleh di sisi manusia, sehingga mereka pun diperlakukan sesuai dengan hukum-hukum yang tampak saja.

Oleh karena itu Allah berfirman: wa yahsabuuna annaHum ‘alaa syai-in (“Dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh sesuatu [manfaat].”) maksudnya mereka ucapkan sumpah mereka itu di hadapan Rabb mereka.

Setelah itu Allah berfirman: أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ (“Ketahuilah bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang yang pendusta.”) dengan demikian Allah Ta’ala mempertegas berita tentang kedustaan mereka.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 54-58; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Orang-orang yang menyatakan bahwa harta dan anak-anak mereka dapat dipergunakan untuk menghindarkan diri dari azab Allah di akhirat, mereka juga berdusta di hadapan Allah ketika hari perhitungan nanti.

Mereka bersumpah bahwa mereka benar-benar termasuk orang-orang beriman, sebagaimana mereka telah bersumpah sewaktu mereka hidup di dunia, seakan-akan mereka dapat mengelabui Allah dengan pengakuan tersebut. Mereka mengira bahwa dengan berdusta seperti itu, mereka akan dapat menghindarkan diri dari azab yang akan ditimpakan kepada mereka.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa watak dan sifat seorang manusia selama hidup di dunia akan diperlihatkan Allah di akhirat. Jika watak, sifat, dan tabiat mereka baik selama hidup di dunia, maka hal itu akan tampak baik di akhirat. Sebaliknya jika watak, sifat, dan tabiat mereka jelek selama hidup di dunia, hal itu akan tampak jelek di akhirat. Di dunia mereka masih dapat mengelabui mata manusia, sedangkan di akhirat, mereka langsung berhadapan dengan Allah yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

Dalam ayat-ayat yang lain, Allah menerangkan sikap orang-orang munafik di akhirat, yaitu: Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (al-Baqarah/2: 11-12) .

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari ketika Allah membangkitkan mereka semua dari kubur, dan mereka bersumpah bahwa dulu mereka beriman sebagaimana sekarang ini bersumpah di depan kalian. Mereka mengira bahwa, dengan sumpah itu, mereka telah melakukan suatu kelicikan yang menguntungkan mereka. Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka adalah golongan yang mencapai puncak kebohongan.

Surah Al-Mujadalah Ayat 19
ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَأَنسَىٰهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

Terjemahan: “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.

Tafsir Jalalain: (Telah berkuasa) maksudnya telah berhasil mempengaruhi (atas mereka setan) karena ternyata mereka menaatinya (lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan) yakni pengikut-pengikutnya. (Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: istahwadza ‘alaiHimusy syaithaanu fa ansaaHum dzikrallaaHi (“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.”) maksudnya syaitan-syaitan itu telah telah memperdayai hati-hati mereka sehingga berhasil menjadikan mereka lupa berdzikir kepada Allah swt.

Demikianlah syaitan berbuat terhadap orang yang hatinya telah dikuasainya. Oleh karena itu, Abu Dawud meriwayatkan dari Abud Darda’, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada tiga orang dari suatu perkampungan dan tidak pula pedalaman desa yang tidak mendirikan shalat di dalamnya melainkan mereka semua telah dikuasai syaitan. Oleh karena itu hendaklah kalian mendirikan shalat berjama’ah, karena yang dimakan srigala itu adalah domba yang tinggal sendirian.” Za-idah berkata: “As-Sa-ib mengatakan: ‘Yakni shalat jama’ah’”

Kemudian Allah berfirman: ulaa-ika hizbusy syaithaan (“Mereka itulah golongan syaitan.”) yakni orang-orang yang telah dikuasai syaitan sehingga mereka lupa berdzikir kepada Allah. Selanjutnya Allah berfirman: alaa inna hizbasy syaithaani Humul khaasiruun (“Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaithan itulah golongan yang merugi.”)

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan sebab-sebab orang-orang munafik di atas dimasukkan ke dalam api neraka adalah karena hati dan pikiran mereka telah dipengaruhi oleh bisikan-bisikan setan, sehingga mereka tidak dapat lagi mengingat Allah, mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya. Yang baik menurut pikiran mereka ialah apa yang menurut nafsu dan keinginan mereka baik.

Oleh karena itu, mereka bersumpah untuk menarik simpati orang lain, seakan-akan yang mereka ucapkan itu adalah suatu kebenaran. Firman Allah: Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan. (al-An’am/6: 112)

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang munafik yang diterangkan di atas adalah tentara dan pesuruh setan. Mereka berkumpul dan mengadakan perundingan rahasia untuk mengerjakan perbuatan dosa dan menimbulkan permusuhan di kalangan kaum Muslimin.

Tujuan mereka melakukan usaha yang demikian adalah untuk menuruti hawa nafsu mereka. Tentara dan pesuruh setan itu adalah orang-orang yang durhaka kepada Allah. Orang-orang yang durhaka kepada Allah pasti akan binasa dan hancur, serta di akhirat akan dimasukkan ke dalam neraka.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka dikuasai oleh setan hingga lupa berzikir kepada Allah dan merenungi keagungan-Nya. Mereka adalah kelompok setan. Dan kelompok setan adalah orang-orang yang mencapai puncak kerugian.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mujadalah Ayat 14-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S