Tasawuf Ibn Arabi dan Al Hallaj Sebagai Sarana Revolusi Mental di Era Milenial

Tasawuf Ibn Arabi dan Al Hallaj Sebagai Sarana Revolusi Mental di Era Milenial

Pecihitam.org – Ibn Arabi adalah sang sufi sejati yang berasal dari Andalusia, sebagai salah satu sufi yang memiliki popularitas dalam bidang tasawuf pengetahuannya ditransfer oleh guru-guru sebelumnya seperti Al-Hallaj.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pemikiranya sangat kompleks mengenai Wahdah al-wujud, nur Muhammad, Wahdat al-Adyan, dan Insan Kamil. Pemikiran mengenai cerminan Tuhan dalam diri Insan Kamil menjadi daya tarik tersendiri untuk dibahas terutama dalam menyikapi perkembangan zaman di era milenial.

Insan Kamil sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan, dia dipandang sebagai cerminan Tuhan yang sempurna baik dari segi wujud maupun pengetahuan. Secara wujudiah, Insan Kamil terlihat sebagai manifestasi dari citra Tuhan sebab dari dirinya tercermin nama-nama dan sifat-sifat Tuhan.

Begitu juga keberadaan manusia di muka bumi ini seharusnya selalu menebarkan kebaikan baik pada alam maupun sesama makhluk ciptaan Tuhan. Secara pengetahuan, Insan Kamil sebenarnya telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi berupa kesatuan dengan esensi Tuhan yang disebut makrifat.

Insan Kamil sebagai Tajalli (cerminan) Tuhan memberikan perspektif dalam diri setiap manusia bahwa kebaikan seharusnya tertanam dalam diri hingga ajal menjelang. Al-Hallaj sebagai guru dari Ibn Arabi menurunkan pengetahuannya bahwa dalam diri manusia terdiri dari dua unsur yakni: karakter kemanusiaan (nasut) dan karakter ketuhanan (lahut). Jadi di dalam diri mansia terdapat jiwa manusia yang masih terkadang tergoda oleh hawa nafsu seperti sifat iri, dengki dan serakah.

Baca Juga:  Titik Temu Ajaran Tasawuf dan Mistik Kejawen

Selain itu, dalam diri manusia juga terdapat jiwa ketuhanan yang selalu mengutamakan kebaikan dan kemaslahatan bersama seperti adanya gotong royong dan musyawarah mufakat yang sudah tertanam dalam jati diri Indonesia yang kemudian terangkum dan digali dalam bentuk ideologi Pancasila oleh Ir. Soekarno dan para pendiri bangsa.

Kehidupan di dalam sebuah negara tak terlepas dari agama yang dipeluk oleh sebagian besar masyarakat di dalamnya. Salah satu agama yang ada dan dipeluk oleh masyarakat Indonesia adalah agama Islam. Islam menjadi agama yang fundamen dan menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia, nilai-nilai Islam juga terkandung pada semua sila dalam Pancasila.

Keberadaan Islam dapat dilihat dari sudut pandang tasawuf seperti Ibn Arabi yang membahas mengenai manusia sempurna “Insan Kamil” sebagai manifestasi pertama dari Zat yang Tunggal yakni Tuhan Maha pencipta.

Pada zaman Milenal seperti saat ini perubahan dan perkembangan yang pesat menjadi faktor utama dalam meletakkan akar-akar nilai pada generasi yang bisa disebut “Milenal”. Indonesia yang meletakkan hukum selain pada Al-Qur’an dan As-sunnah juga pada para ulama Islam maupun para ahli di bidang agama Islam.

Baca Juga:  Tazkiyatun Nafs, Penjernihan Hati Agar Mendapat Pancaran Nur Ilahi

Salah satu konflik yang sedang marak di media sosial adalah mengenai Ustadz Abdul Somad (UAS) yang menyuarakan opininya dalam ceramahnya. Pernyataan yang dilontarkan dalam ceramahnya mengenai salib dan kafir justru menimbulkan konflik berkepanjangan dan melebar ke segala lapisan masyarakat.

Sebenarnya persoalan menyangkut sensitifitas masyarakat Indonesia terhadap hal-hal yang berhubungan dengan agama pernah juga terjadi pada kasus mantan Gubernur Jakarta yakni Basuku Tjahya Purnama (Ahok). Ahok pada saat berpidato di Kepulauan Seribu untuk memenuhi tugasnya saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI mengundang opini negatif di tengah publik.

Hal-hal seperti itu membuktikan bahwa masyarakat masih perlu memperbaiki diri dengan melakukan pendekatan intens terhadap Tuhan pencipta alam semesta dengan bertawakal pada-Nya, seperti Ibn Arabi yang berkta bahwa “tangan Tuhan tidak seperti tangan manusia”. Pernyataan itu mengibaratkan bahwa Tuhan sebagai pencetus dan hakim yang memutuskan segala sesuatu menjadi Ada.

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa untuk memenuhi lahut dan nasut supaya tercipta kehidupan yang harmonis dan selaras. Dengan begitu revolusi mental yang digadang oleh para pendiri bangsa dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya dengan membangun jiwa kemanusiaan dan jiwa ketuhanan, sehingga dari keduanya akan tercipta keharmonisan dan saling toleransi dalam membedakan mana yang hak dan kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia.

Baca Juga:  Hubungan Suluk dan Tasawuf, Dua Sisi yang Tidak Bisa Terpisahkan

Hal seperti itu penting dilakukan terutama dalam memperingati 1 Muharram 1441 H supaya terlahir kembali jiwa-jiwa manusia sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan. Seperti yang tertuang dalam dasar negara Pancasila terutama pada sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang melandasi sila-sila lainnya. Sila-sila dalam Pancasila seharusnya dapat menjadi landasan dalam melakukan kontrol terhadap diri bagi setiap warga negara Indonesia untuk mendekati apa yang disebut oleh Ibn Arabi sebagai Insan Kamil.

Sila-sila dalam Pancasila seharusnya dapat menjadi landasan dalam melakukan kontrol terhadap diri bagi setiap warga negara Indonesia untuk mendekati apa yang disebut oleh Ibn Arabi sebagai Insan Kamil.

Indriani Pratami
Latest posts by Indriani Pratami (see all)

1 Comment

  1. Rendy NF Reply

    Menarik, dan Al Hallaj kalau di Nusantara dulu itu Syekh Siti Jenar, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *