Tasawwuf, Jalan Sunyi menuju Tuhan dengan Penekanan 4 Substansi

Tasawwuf, Jalan Sunyi menuju Tuhan dengan Penekanan 4 Substansi

Pecihitam.org – Tahannuts yang dilakukan Nabi Muhammad di dalam Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama bagi tasawwuf. Atau, itulah benih pertama bagi kehidupan rohaniyah yang disebut dengan ilham atau renungan rohaniyah.

Arti tasawwuf dan asal katanya menjadi pertikaian ahli ahli bahasa. Setengahnya berkata bahwa perkataan ini diambil dari perkatan صفاء (shafa‘) yang bermkna suci, bersih, ibarat kilat kaca.

Kata setengahnya berasal dari perkataan صوف (shuf) yang artinya bulu kambing. Sebab, orang-orang yang memasuki tasawuf ini memakai baju dari bulu kambing atau pakaian kasar layaknya buku kambing. Mereka benci pakaian yang mewah dan glamor.

Dan kata setengahnya diambil dari kaum صفة (shuffah) yakni segolongan sahabat-sahabat Nabi yang mengasingkan diri di suatu tempat terpencil di samping Masjid Nabi.

Kata setengahnya pula dari perkatan صوفنة (shufanah), sejenis kayu yang mersik tumbuh di padang pasir tanah Arab. Tetapi setengah ahli bahasa dan riwayat, terutama era belakangan mengatakan bahwa perkataan “sufi” itu bukanlah bahasa Arab, tetapi bahasa Yunani Kuno yang telah di-Arab-kan (متعربة).

Menurut pandangan ini, tasawwuf berasal dari kata “theosofie” yag mempunyai arti “Ilmu ke-Tuhanan”, kemudian di Arab-kan dan diucapkan dengan lidah orang Arab sehingga berubah menjadi “tasawuf”.

Terlepas dari semua itu, dari bahasa Arab kah atau bahasa Yunani. Namun, yang pasti adalah bahwa yang dimaksud dengan kaum tasawuf, atau kaum sufi itu ialah mereka yang telah merumuskan suatu metode, menempuh jalan sunyi untuk menuju Tuhan.

Baca Juga:  Ingin Menyemir Rambut Yang Beruban? Pahami Dulu Ketentuannya

Umumnya mereka adalah orang dengan tipikal menjalani pola hidup ‘uzlah atau mengasingkan diri dari keramaian, walaupun tidak semua kaum sufi demikian. Karena tidak sedikit dari mereka yang juga hidup bergaul dengan masyarakat di mana mereka tinggal.

Tujuan mengasingkan diri dari orang banyak adalah untuk membersihkan hati, laksana kilatkaca untuk sampai terhadap Tuhan. Atau ada juga yang dengan berpenampilan memakai pakaian yang sederhana, tidak menyerupai pakaian orang dunia, biar hidup kelihatan kurus-kering bagai kayu di padang pasir.

Atau tak sedikit pula yang memperdalam penyelidikan tentang hubungan makhluk dengan khaliqnya, sebagaimana yang di maksud perkataan Yunani itu.

Tasawwuf adalah salah satu filsafat Islam, yang maksud awalnya hendak zuhud dari dunia yang fana. Tetapi lantaran juga berinteraksi dengan negeri dan bangsa lain, sedikit banyak, masuk jugalah unsur ajaran agama dari bangsa lain itu kedalamnya.

Karenanya, tasawuf bukanlah agama, melainkan suatu ikhtiar yang setengahnya diizinkan oleh agama dan setengahnya pula dengan tidak sadar telah tergelincir dari agama.

Ibnu Khaldun berkata “Tasawuf itu adalah semacam ilmu syari’ah yang timbul kemudian di dalam agama. Asalnya ialah bertekun beribadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah, hanya menghadap Allah semata.

Menolak hiasan-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta-benda, dan kemegahan. Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah!”.

Demikianlah kalau kita dengarkan kupasan Ibnu Khaldun, yang meneropong suatu perkara dari segi ilmu pengetahuan. Akan tetapi ahli-ahli tasawuf yang terbesar mempunyai pula kaidah sendiri-sendiri tentang arti tasawuf itu.

Baca Juga:  Pengertian Tasawuf dan Dasar-dasarnya dalam Islam

Ada yang berkata, tasawuf ialah putus perhubungan dengan makhluk dan kuatnya perhubungan dengan khalik.”

Lebih lanjut, apabila membahas tasawwuf secara ilmiah, maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa tasawuf itu berakar pada ilmu Tauhid dan berisikan 4 substansi

  • Metafisika: pengetahuan tentang alam yang tidak nyata (ghaib). Dalam tasawuf banyak sekali terdapat hal-hal yang menyangkut metafisika yang tidak dihadapi dengan kaca  mata rasio dan rumusan-rumusan fisika. Dalam pembahasannya banyak dihadapkan kepada masalah rasa (dzauq) dan kepercayaan (iman) akan adanya yang ghaib, misalnya tentang Tuhan, malaikat, alam arwah dan sebagainya. Kedudukan metafisika ini dipandang diatas ilmu fisika.
  • Etika (akhlak): ilmu tentang tingkah laku, kesopanan, kesusilaan, budi pekerti dan sebagainya. Sudah jelas tasawuf berintikan ilmu akhlak, karena di dalamnya dibahas tentang sifat mazmumah yang wajib ditinggalkan dan sifat mahmudah yang perlu dimiliki dalam bentuk lahir dan bathin. Kitab tasawuf pun merupakan taburan daripada akhlak.
  • Psikologi: ilmu tentang jiwa, tetapi berbeda dengan ilmu jiwa umum. Psikologi tasawuf mempunyai karakteristik tersendiri yang selain menyelidiki gerak-gerik jiwa dan faktor-faktor yang mempengaruhi, juga berisi teori-teori perawatan dan pengawasan agar selalu berjalan pada rel yang benar menuju ridha Ilahi.
  • Estetika: ilmu keindahan yang melahirkan seni. Dalam diri manusia ada gairah seni, suka kepada keindahan. Allah sendiri Maha Indah dan menyukai keindahan, sebagaimana masyhur dalam hadis. Estetika tasawuf mendorong manusia mengembangkan gairah seni dan mempertinggi rasa, untuk dijadikan sebagai sarana ma’rifah, wasilah mengenal kebenaran. Orang yang tumpul hatinya dari keindahan, berarti tumpul perasaannya dalam mengenali keindahan Tuhan. Cinta adalah merupakan puncak dari rasa keindahan yang bersemi dalam lubuk jiwa. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, bertaburan hikmah tentang keindahan, misalnya, keindahan Allah dan kenikmatan memandang kepada-Nya di hari akhirat nanti, keindahan akhlak, keindahan alam ciptaan Tuhan, keindahan surga dan keindahan iman.
Baca Juga:  Pemikiran Mbah Hasyim Tentang Pendidikan
Muhammad Nur Faizi
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG