Tokoh-Tokoh Aliran Mu’tazilah dan Pemikirannya

tokoh aliran mu'tazilah

Pecihitam.org – Aliran mu’tazilah merupakan salah satu aliran teologi yang dapat dikelompokkan sebagai kaum rasionalis dalam islam,aliran ini muncul pada abad pertama hijriyah. Sejarah munculnya aliran mu’tazilah dan pemikirannya bisa dibaca pada artikel “Firqoh Mu’tazilah dan Doktrin-doktrin Rasionalitas Mereka”.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Aliran mu’tazilah muncul dikota Bashrah, pada abad ke 2 hijriyah, tahun 105-110 H,tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisam Bin Abdul Malik.

Tokoh pelopor munculnya aliran mu’tazilah yaitu seorang pemuda mantan murid Al-Hasan Al-Basri yang bernama Washil bin Atha’ yang tidak setuju dengan gurunya tentang masalah dosa besar.

Washil berpendapat bahwa manusia yang melakukan dosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula dianggap kafir, namun berada diantaranya keduanya atau istilahnya al manzilah baina al manzilataini.

Tokoh-Tokoh Aliran Mu’tazilah

  • Wasil Bin Atha.

Wasil Bin Atha merupakan pelopor ajaran mu’tazilah. Ada tiga ajaran pokok yang dicetuskan oleh Wasil bin Atha, yaitu paham al-manzilah bain al-manzilatain, paham qadariyah (yang diambilnya dari ma’bad dan gailan, dua tokoh aliran qadariyah), dan paham peniadaan sifat-sifat Tuhan. Dua dari tiga ajaran itu kemudian menjadi doktrin ajaran Mu’tazilah, yaitu al manzilah bain al-manzilatain dan peniadaan sifat-sifat Tuhan.

  • Abu Huzail al-Allaf
Baca Juga:  Tragedi Mihnah, Catatan Kelam Kekejaman Mu'tazilah dalam Sejarah Islam

Abu Huzail al-‘Allaf (wafat. 235 H), seorang pengikut aliran Wasil bin Atha, mendirikan sekolah Mu’tazilah pertama dikota Bashrah (Iraq). Melalui sekolah ini, pemikiran Mu’tazilah sempat menjadi madzhab resmi Negara. Abu Huzail al-Allaf adalah seorang filosof islam.

Ia banyak mengetahui falsafah Yunani dan itu memudahkannya untuk menyusun ajaran-ajaran Mu’tazilah yang bercorak filsafat dan rasionalitas. Diantaranya ia membuat uraian mengenai pengertian Nafy as-sifat.

Ia menjelaskan bahwa” Tuhan Maha Mengetahui” dengan pengetahuannya dan pengetahuannya itu adalah dzat-Nya bukan sifatnya, Tuhan Maha Kuasa dengan kekuasaannya dan kekasaannya itu juga dzat-Nya bukan sifatnya dan begitu seterusnya.

Penjelasan dimaksudkan oleh Abu Huzail untuk menghindari adanya yang qadim selain Tuhan, karena menurutnya jika dikatakan ada sifat (dalam arti sesuatu yang melekat di luar dzat Tuhan), berarti sifatnya itu qadim ini akan membawa kepada kemusyrikan.

  • Al-Jubba’i

Al-Jubba’I ialah guru Abu Hasan al- Asy’ari pendiri aliran Asy’ariah. Pendapatnya yang masyhur adalah mengenai kalam Allah, sifat Allah, kewajiban manusia, dan daya akal. Ia mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai sifat.

  • An-Nazzam

Pendapatnya yang terpenting adalah mengenai keadilan Tuhan. Karena Tuhan itu Maha adil, maka ia tidak berkuasa untuk berlaku dzalim. Pendapatnya ini lebih ekstrim jauh dari gurunya, Al-Allaf.

Baca Juga:  Firqoh Mu'tazilah dan Doktrin-doktrin Rasionalitas Mereka

Jika Al-Allaf mengatakan bahwa Tuhan mustahil berbuat dzalim kepada hambanya, maka An-Nazzam menegaskan bahwa hal itu bukanlah hal yang mustahil, bahkan Tuhan tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat dzalim.

Ia berpendapat bahwa perbuatan dzalim hanya dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak sempurna, sedangkan Tuhan jauh dari keadaan yang demikian.

  • Al-Jahiz

Al- Jahiz Abu Usman bin Bahar mengemukakan paham kepercayaan akan hukum alam (naturalism) yang oleh aliran Mu’tazilah disebut Sunatullah. Ia menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan manusia tidaklah sepenuhnya diwujudkan oleh manusia itu sendiri, melainkan ada pengaruh hukum alam.

  • Mu’amar bin Abbad

Pendapatnya tentang kepercayan pada hukum alam dan pendapatnya ini sama dengan pendapat Al-Jahiz. Ia mengatakan bahwa Tuhan hanya menciptakan benda-benda materi.

Adapun sesuatu yang datang pada benda-benda itu adalah hasil dari hukum alam. Contohnya, jika sebuah batu dilontarkan ke air maka gelombang air yang dihasilkan oleh batu yang dilempar merupakan hasil dari kreasi batu itu sendiri bukan hasil ciptaan atau kehendak Tuhan.

  • Bisyr al- Mu’tamir

Ajarannya yang penting menyangkut pertanggungjawaban perbuatan manusia. Seorang yang berdosa besar kemudian bertobat, lalu mengulangi lagi perbuatan dosa besar, akan mendapan siksa ganda, meskipun ia telah bertobat atas dosa besarnya yang terdahulu.

  • Abu Musa al-Mudrar
Baca Juga:  Sekilas Mengenali Pokok Ajaran Mu’tazilah dalam al-Ushul al-Khamsah

Al- Mudrar dianggap sebagai pemimpin Mu’tazilah yang sangat ekstrim, karena pendapatnya yang mudah mengkafirkan orang lain. Menurut Asy Syahrastani, Al-Mudrar menuduh semua orang kafir yang mempercayai keqadiman Al-qur’an. Al Mudrar juga mengatakan bahwa di akhirat Allah tidak dapat dilihat.

Ajaran Mu’tazilah pada dasarnya adalah lebih mengedepankan akal dari pada wahyu, sehingga mereka mengandalkan rasionalitas. Dan pada faktanya didalam diri aliran mereka sendiri banyak sekali perbedaan pandangan pokok. Dan itu salah satu bukti bahwa dokktrin dan pandangan mereka bisa dikatakan sesat dan menyesatkan. Seperti pandangan bahwa semua perbuatan manusia tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan.

*Diolah dari berbagai sumber

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *