Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram Ternyata Tradisi Ulama Sejak Dulu

Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram

Pecihitam.org – Salah satu amalan sunnah yang pahalanya luar biasa di Bulan Muharram adalah menyantuni dan memuliakan anak yatim. Disebutkan dalam kitab Faidul Qadir, bahwa menjamu anak yatim dan keluarganya pada tanggal 10 Muharram merupakan sunnah Nabi SAW. dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.

Hal ini didasarkan sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat menyayangi anak-anak yatim. Dan beliau lebih menyayangi lagi pada hari Asyura (10 Muharram). Pada hari Asyura, Beliau Saw menjamu dan bersedekah bukan hanya kepada anak yatim, namun juga keluarganya.

Tradisi menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram (Asyura) kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dan para ulama sesudahnya. Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M), seorang ahli hadits Madzhab Hanbali, menjelaskan kebiasaan para ulama pada hari Asyura:

فَوَائِدُ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ. اَلْفَائِدَةُ اْلأُوْلَى: يَنْبَغِيْ أَنْ تَغْسِلَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَقَدْ ذُكِرَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَخْرِقُ فِيْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ زَمْزَمَ إِلىَ سَائِرِ الْمِيَاهِ، فَمَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَئِذٍ أَمِنَ مِنَ الْمَرَضِ فِيْ جَمِيْعِ السَّنَةِ، وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيْثٍ، بَلْ يُرْوَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. اْلفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ: الصَّدَقَةُ عَلىَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ. اْلفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَمْسَحَ رَأْسَ الْيَتِيْمِ. اَلْفَائِدَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يُفَطِّرَ صَائِمَا. اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةُ أَنْ يُسْقِيَ الْمَاءَ. اَلْفَائِدَةُ السَّادِسَةُ أَنْ يَزُوْرَ اْلإِخْوَانَ. اَلْفَائِدَةُ السَّابِعَةُ: أَنْ يَعُوْدَ الْمَرِيْضَ. اَلْفَائِدَةُ الثَّامِنَةُ أَنْ يُكْرِمَ وَالِدَيْهِ وَيَبُرَّهُمَا. الْفَائِدَةُ التَّاسِعَةُ أَنْ يَكْظِمَ غَيْظَهُ. اَلْفَائِدَةُ الْعَاشِرَةُ أَنْ يَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَهُ. اَلْفَائِدَةُ الْحَادِيَةَ عَشَرَةَ: أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنَ الصَّلاَةِ وَالدُّعَاءِ وَاْلاِسْتِغْفَارِ. اَلْفَائِدَةُ الثَّانِيَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ. اَلْفَائِدَةُ الثَّالِثَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُمِيْطَ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ. اَلْفَائِدَةُ الرَّابِعَةَ عَشَرَةَ أَنْ يُصَافِحَ إِخْوَانَهُ إِذَا لَقِيَهُمْ. اَلْفَائِدَةُ الْخَامِسَةَ عَشَرَةَ: أَنْ يُكْثِرَ فِيْهِ مِنْ قِرَاءَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنْ قَرَأَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَلْفَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ نَظَرَ اللهُ إِلَيْهِ وَمَنْ نَظَرَ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا

Baca Juga:  Wabah Corona, Lebih Penting Menjaga IMAN atau IMUN?

Faidah-faidah hari Asyura :

  1. Mandi pada hari Asyura. Telah disebutkan bahwa Allah SWT membedah komunikasi air Zam-zam dengan seluruh air pada malam Asyura’. Karena itu, siapa yang mandi pada hari tersebut, maka akan aman dari penyakit selama setahun. Ini bukan hadits, namun diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a.
  2. Bersedekah kepada fakir miskin.
  3. Menyantuni dan mengusap kepala anak yatim.
  4. Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa.
  5. Memberi minuman kepada orang lain.
  6. Mengunjungi saudara seagama (silaturrahim).
  7. Menjenguk orang sakit.
  8. Memuliakan dan berbakti kepada kedua orang tua.
  9. Menahan amarah dan emosi.
  10. Memaafkan orang yang berbuat dzalim.
  11. Memperbanyak ibadah seperti shalat, doa, dan istighfar.
  12. Memperbanyak zikir kepada Allah.
  13. Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan.
  14. Berjabat tangan dengan orang yang dijumpai.
  15. Memperbanyak membaca surat al-Ikhlash, sampai seribu kali. Karena ada atsar yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a.: Barangsiapa membaca surah al-Ikhlash 1000 kali pada hari Asyura, maka Allah akan “memandangnya”. Barangsiapa “dipandang” oleh Allah, maka Dia tidak akan mengazab selamanya. (Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi al-Hanbali, al-Majalis, hal. 73-74, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).
Baca Juga:  Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Hukum Merayakan Tahun Baru

Dari keterangan di atas dapat kita ketahui bahwa hari Asyura merupakan hari yang istimewa. Banyak amalan dan tradisi yang dianjurkan untuk dikerjakan termasuk tradisi menyantuni anak yatim yang memang sudah ada sejak lama, dan dilakukan oleh masyarakat umum maupun para ulama.

Dari tradisi tersebut kemudian muncul istilah Idul Yatama (hari raya anak yatim). Yang dimaksud Idul Yatama bukanlah hari raya seperti Idul Fitri atau Idul Adha, melainkan momen untuk membahagiakan hati anak yatim. Sekaligus waktu dimana mengingatkan mata hati kita untuk selalu memperhatikan nasib anak-anak yatim.

Momen 10 Muharram juga bukan hanya dimaksudkan bahwa santunan kepada anak yatim hanya berlangsung pada hari itu saja. Tidak berhenti situ karena menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Wallahua’lam bisshawab.

Baca Juga:  Tidak Tercantum di Asmaul Husna, Inilah Nama Allah yang Ke 100
Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG