Tri Tauhid ala Wahabi Adalah Bid’ah yang Sesat Menyesatkan! Yuk Telusuri Motifnya

Tri Tauhid ala Wahabi Adalah Bid'ah yang Sesat Mennyesatkan! Yuk Telusuri Motifnya

Pecihitam.org – Bukan Wahabi namanya kalau tidak membuat sensasi di tengah-tengah umat. Sejak dari pendirinya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab itu, faham Wahabi memang selalu membuat gaduh dan mengeluarkan fatwa-fatwa ganjil di tengah masyarakat muslim. Di antara ajaran mereka yang ditolak oleh mayoritas kaum muslimin adalah konsep Tri Tauhid ala Wahabi.

Lucu memang, ketika tauhid yang berarti peng-Esa-an Allah, oleh Wahabi ternyata masih dibagi lagi menjadi tiga, tak ubahnya Trimurti dalam agama Buddha atau Trinitas dalam keyakinan Kristiani.

Tri tauhid ala Wahabi atau pembagian tauhid mereka itu adalah Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Pembagian semacam ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan sahabat, pun tidak pernah ditemukan para ulama Salafus Sholeh yang mengeluarkan konsep demikian.

Karena dalam Islam tauhid itu, ya tauhid. Tauhid itu adalah mengesakan Allah. Tanpa perlu lagi dibagi uluhiyah rububiyah maupun asma wa sifat.

Ketika orang sudah mengucapkan Lailahaillallah dan Muhammadur Rasulullah, maka otomatis orang itu sudah bertauhid, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari

أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darang-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari)

Jadi, dengan demikian konsep Tri Tauhid ala Wahabi ini adalah bid’ah yang sesat menyesatkan. Aneh memang kaum Wahabi ini. Mereka ke mana-mana mengklaim paling nyunnah, berteriak kofar-kafir dan bidngah.

Namun, nyatanya mereka adalah pembuat bid’ah yang sesungguhnya. Bagaimana tidak, mereka melakukan pembagian tiga tauhid, padahal konsep Tri Tauhid ala Wahabi ini tidak termuat dalam Al-Qur’an maupun hadis?

Cukuplah hadis riwayat Imam Bukhari di atas menjadi bantahan keras akan kesesatan konsep Tri Tauhid ala Wahabi. Karena dalam hadits di atas, Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian. Nabi tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan la ilaha illallah saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam jika tidak mengucapkan la rabba illallah.

Tetapi makna hadits di atas adalah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi mengucapkan la ilaha illallah, dan bersaksi Muhammad Rasulullah, maka orang ini telah masuk dalam agama Islam.

Baca Juga:  Syeikh bin Baz: Perayaan Maulid Muhammad bin Abdul Wahab Itu Sunnah

Dan sungguh hadis ini sangat valid. Derajatanya mutawatir dan diriwayatkan oleh sejumlah sahabat, termasuk di antaranya sepuluh sahabat yang telah medapat kabar gembira dijamin masuk surga.

Dan jika demikian, lalu apa motif kaum musyabbihah Wahabi ini membuat konsep Tri tauhid? Tidak lain motif mereka dalam hal ini adalah untuk menolak orang yang melakukan tawassul dengan para wali maupun hamba sholeh.

Dari sinilah, kemudian mereka membuat konsep yang bernama tauhid uluhiyah. Konsep ini menyatakan bahwa orang yang mengakui atau bersaksi Allah sebagai satu-satunya tuhan yang menciptakan, tidaklah cukup untuk dikatakan sebagai ahli tauhid jika orang itu masih bertawasul.

Karena dalam pandangan kaum Wahabi, orang yang bertawassul itu mempercayai ada kekuatan lain selain kekuatan Allah, atau mereka meminta tolong kepada selain Allah. Picik sekali cara berpikir mereka!

Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid Al-Asma wa Ash-Sifat. Ada motif dibalik itu. Tentu saja motif itu untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyabihat.

Mujassimah Wahabi ini tidak paham bahwa uluhiyyah itu sama saja dengan rububiyyah, bahwa Ilah itu sama saja artinya dengan Rabb.

Bukankah sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits, di antara pertanyaan dua Malaikat; Munkar dan Nakir yang ditugaskan untuk bertanya kepada ahli kubur adalah: ”Man Rabbuka?”. Tidak bertanya dengan ”Man Rabbuka?” lalu diikutkan dengan ”Man Ilahuka?”.

Lalu seorang mukmin ketika menjawab pertanyaan dua Malaikat tersebut, cukup dengan hanya berkata ”Allah Rabbi”, tidak harus diikutkan dengan ”Allah Ilahi”. Malaikat Munkar dan Nakir tidak membantah jawaban orang mukmin tersebut dengan mengatakan: ”Kamu hanya bertauhidkan Rububiyyah saja, kamu tidak bertauhidkan tauhid Uluhiyyah!”.

Dalam kitab Mishbah al-Anam, pada pasal kedua, karya al-Imam Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:

”Tauhid Uluhiyyah masuk dalam pengertian tauhid Rububiyyah dengan dalil bahwa Allah telah mengambil janji (al-Mitsaq) dari seluruh manusia anak cucu Adam dengan firman-Nya ”Alastu Bi Rabbikum?”.

Ayat ini tidak kemudian diikutkan dengan ”Alastu Bi Ilahikum?”. Artinya; Allah mencukupkannya dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhya sudah secara otomatis bahwa seorang yang mengakui ”Rubbbiyyah” bagi Allah maka berarti ia juga mengakui ”Uluhiyyah” bagi-Nya. Karena makna ”Rabb” itu sama dengan makna ”Ilâh”.

Di antara yang sangat mengherankan dan sangat aneh adalah perkataan mereka seperti ini, “Tauhid Rububiyyah adalah tauhid yang telah diakui oleh oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara tauhid Uluhiyyah adalah adalah tauhid murni yang diakui oleh orang-orang Islam. Tauhid Uluhiyyah inilah yang menjadikan dirimu masuk di dalam agama Islam. Adapun tauhid Rububiyyah saja tidak cukup”.

Ini adalah perkataan orang sesat yang dan menyesatkan. Bagaimana ia mengatakan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagai ahli tauhid?!

Baca Juga:  Semua Hadits Tawassul Didhaifkan Wahabi, Kecuali Ini

Jika benar mereka sebagai ahli tauhid, tentunya mereka akan dikeluarkan dari neraka kelak, tidak akan menetap di sana selamanya, karena tidak ada seorangpun ahli tauhid yang akan menetap di daam neraka tersebut sebagaimana telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih.

Adakah kalian pernah mendengar di dalam hadits atau dalam riwayat perjalanan hidup Rasulullah bahwa apabila datang kepada beliau orang-orang kafir Arab yang hendak masuk Islam, lalu Rasulullah merinci dan menjelaskan kepada mereka pembagian tauhid kepada tauhid Uluhiyyah dan tauhid Rububiyyah?!

Dari mana mereka mendatangkan dusta dan bohong besar terhadap Allah dan Rasul-Nya ini?! Padalah sesungguhnya seorang yang telah mentauhidkan ”Rabb” maka berarti ia telah mentauhidkan ”Ilah”, dan seorang yang telah memusyrikan ”Rabb” maka ia juga berarti telah memusyrikan ”Ilah”.

Para ahli bid’ah dari kaum Musyabbihah Wahabi ini biasanya berdalih dengan firman Allah dalam Surat Luqman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka (orang-orang kafir), siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)

Menurut mereka ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir mempunyai tauhid rububiyah, yaitu tauhid yang mempercayai bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta langit dan bumi. Tetapi dalam pandangan mereka orang kafir tidak mempunyai Tauhid Uluhiyah, karena mereka tidak mau menyembah dan tunduk kepada Allah.

Baca Juga:  Salafi Wahhabi Menvonis Sesat & Kafir Imam Abu Hanifah Rahimahullah

Sungguh perkataan orang-orang Wahabi suatu lebaran dan wujud nyata dari kebodohan. Bagaimana mereka berkata bahwa seluruh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama dengan orang-orang mukmin dalam tauhid Rububiyyah?!

Padahal maksud ayat di atas adalah orang-orang kafir mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi adalah pengakuan yang hanya di lidah saja, bukan bukan berarti mereka sebagai orang-orang ahli tauhid; yang mengesakan Allah.

Terbukti bahwa mereka menyekutukan Allah, mengakui adanya tuhan yang berhak disembah selain Allah. Mana logikanya jika orang-orang musyrik disebut sebagai ahli tauhid?!

Terakhir, kami nukil sebagian kutipan kritik yang telah ditulis oleh asy-Syaikh al-Azhar al-‘Allamâh Yusuf ad-Dajwi al-Azhari (w 1365 H) dalam Majalah Nur al-Islam, majalah ilmiah bulanan yang diterbitkan oleh para Masyayikh al-Azhar asy-Syarif Cairo Mesir, terbitan tahun 1352 H

“Sesungguhnya pembagian tauhid kepada Uluhiyyah dan Rububiyyah adalah pembagian yang tidak pernah dikenal oleh siapapun sebelum Ibn Taimiyah. Artinya, ini adalah bid’ah sesat yang telah ia munculkan.

Di samping perkara bid’ah, pembagian ini juga sangat tidak masuk akal; sebagaimana engkau akan lihat dalam tulisan ini. Dahulu, bila ada seseorang yang hendak masuk Islam, Rasulullah tidak mengatakan kepadanya bahwa tauhid ada dua macam.

Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa engkau tidak menjadi muslim hingga bertauhid dengan tauhid Ulûhiyyah (selain Rubûbiyyah), bahkan memberikan isyarat tentang pembagian tauhid ini, walau dengan hanya satu kata saja, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Demikian pula hal ini tidak pernah didengar dari pernyataan ulama Salaf; yang padahal kaum Musyabbihah sekarang yang membagi-bagi tauhid kepada Uluhiyyah dan Rububiyyah tersebut mengaku sebagai pengikut ulama Salaf. Sama sekali pembagian tauhid ini tidak memiliki arti. …” Wallahu a’lam bisshawab!

Faisol Abdurrahman
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG