Wajib Tahu! Ini Perbedaan Tauhid, Aqidah dan Manhaj

tauhid aqidah dan manhaj

Pecihitam.org – Dalam bidang keilmuan agama, istilah-istilah tauhid, aqidah dan manhaj seringkali disebut-sebut, dan memiliki makna yang berbeda apabila dirinci satu persatu. Cara belajar yang baik adalah memulai dari dasar, berarti ketika seseorang memulainya dari dasar dia sudah menunjukkan adalah seseorang yang sungguh-sungguh dalam belajar. Namun apabila ditelaah lagi antara satu istilah dengan istilah yang lain memiliki kaitan satu sama lain.

Secara umum antara manhaj dan aqidah memiliki kaitan satu sama lain, begitupiun aqidah dengan tauhid, dimana manhaj lebih luas dari aqidah, aqidah lebih luas dari tauhid. Manhaj adalah sebuah metodologi beragama, meliputi aqidah, akhlak, muamalah dan lainnya. Kemudian aqidah lebih luas dari tauhid, karena didalam aqidah terdapat tauhid seperti aqidah terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Manhaj adalah jalan yang terang, dalam artian adalah jalan yang dianut yang akan membimbing bagaimana seseorang beribadah, manhaj juga bisa dikatakan sebagai kaidah dan ketentuan yang digunakan bagi setiap pelajaran ilmiah. Namun secara singkat manhaj adalah cara beragama dimana yang akan mengarahkan dan membentuk cara beragama seseorang, aqidahnya, ibadahnya dan lainnya.

Sehingga manhaj memang lebih luas dari aqidah, ketika manhaj seseorang melanceng dan sesat, maka akan terbawa pada aqidah serta ibadahnya. Misalkan manhaj yang dianut adalah Ahlussunah waljamaah maka aqidah dan ibadahnya juga akan mengikuti ahlussunah. Jadi manhaj itulah yang akan menuntun beragama seseorang apakah akan moderat atau radikal. Sehingga ketika bermanhaj selektiflah dan jangan mudah terpengaruh.

Baca Juga:  Ilmu Tauhid Dasar Ahlussunnah wal Jama'ah; Baqa, Sifat Wajib Ketiga Bagi Allah SWT

Aqidah adalah bagian dari bermanhaj, aqidah berarti ikatan, kepercayaan yang kuat dalam arti mengokohkan dan mengikat dengan kuat. Aqidah adalah iman yang kuat dan teguh serta tidak ada keraguan sedikitpun dalam hatinya.

Aqidah bersifat pasti dengan apa yang diyakini salah satunya aqidah terhadap ke-Esaan Allah tidak ada keraguan untuk mempercayainya. Aqidah adalah perkara wajid yang dibenarkan oleh hati dan jiwa yang tentram, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh tidak ada kebimbangan dan keraguan sedikitpun.

Aqidah juga bisa diartikan sebagai al Iman, karena aqidah membahas ketauhidan rukun iman dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Jadi secara garis besar aqidah meliputi semua rukun iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada Rasul, iman kepada kiamat dan juga iman kepada Qadha serta qodhar.

Baca Juga:  Begini Proses Terbentuknya Iman dalam Diri, Keturunan BUKAN Salah Satunya!

Ruang lingkup aqidah yang pertama adalah Illahiyah atau pembahasan yang berkenaan dengan masalah ketuhanan. Secara gampangnya dikhususkan membahas mengenai Allah SWT. Lalu tentang Nubuwwat, yaitu pembahasan tentang para utusan-utusan Allah yaitu nabi dan rasul. Kemudian Ruhaniyat yaitu pembahasan tentang hal-hal gaib seperti malaikat, jin dan iblis.

Dan yang terakhir adalah Sam’iyat yaitu pembahasan tentang alam gaib, surga, neraka alam kubur dan lainnya. Tujuannya adalah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, semakin tenang jiwanya, menegakkan agama dan semakin kuat apa yang menjadi pegangannya. Sehingga aqidah adalah segala hal yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bisa dikatakan bahwa aqidah lebih luas dari tauhid, karena tauhid adalah bagian kecil dari aqidah namun ketauhidanlah yang juga perlu diutamakan. Aqidah juga bisa dinamakan tauhid, karena aqidah membahas tentang tauhid atau pengEsaan Allah jadi tauhid merupakan kajian ilmu aqidah. Pembagian Tauhid dalam Al-Qur’an yaitu;

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65).

Dalam Aqidah Ahlussunnah Wal-Jamaah kita mengenal yang namanya I’tiqad lima puluh, yang mana terdiri dari gabungan 20 sifat wajib bagi Allah, 20 mustahil bagi-Nya, 4 sifat wajib bagi Nabi, 4 mustahil bagi Nabi, 1 sifat yang jaiz bagi Allah dan 1 sifat yang jaiz pada diri Nabi. Sehingga jika jumlahkan maka semuanya 50.

Baca Juga:  Agungnya Kalimat Tauhid, Kafir 70 Tahun Dihapus dengan "Laa Ilaaha Illallah"

I’tiqad lima puluh tersebut disusun Imam Abu Hasan Al-Asy’ari sebagai salah seorang Imam besar Ahlussunnah Wal-jama’ah berdasarkan Al-Quran dan Hadits Nabi SAW. Semua itu supaya umat islam benar benar dapat ma’rifah (mengenal) kepada Allah SWT, sehingga kita tidak jatuh ke dalam jurang kesesatan yang dapat membahayakan Iman. Rasulullah SAW bersabda:

اَوَّلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَةُ اللهِ

“Awal mula agama adalah berma’rifah/mengenal Allah”

Walllahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG