Al-Sanusi, Peletak Dasar Sifat Wajib Bagi Allah Sebagai Pegangan Umat Islam

Al-Sanusi, Peletak Dasar Sifat Wajib Bagi Allah Sebagai Pegangan Umat Islam

PeciHitam.org – Al-Sanusi, memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf Umar bin Syua’ib dari suku Sanus. Dilahirkan di kota Tilimsan, Aljazair pada tahun 832 H. dan wafat pada hari Ahad tanggal 18 Jumadil Akhir tahun 895 H, yang bertepatan dengan tanggal 9 Mei 1490 M dalam usia 63 tahun. Dalam hal pendidikan, ia pada mulanya belajar pada ayahnya sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Disamping itu, ia juga belajar kepada beberapa ulama terkemuka di tempat kelahirannya, Tilimsan. Kemudian ia melanjutkan belajar ke kota Aljazair. Disini ia berguru kepada salah seorang ulama terkemuka bernama ‘Abd Al-Tsabit.

Karyanya dalam aspek teologi yang terkenal adalah Aqidah Ahl al-Tauhid dan Ummul Barahim atau disebut Al-Risalah al-Sanusiyah, Kitab yang kedua inilah yang banyak mendapat perhatian ulama pengikut Al-Sanusi.

Para penulis teologi Islam pada umumnya memasukkan Al-Sanusi ke dalam aliran Asy’ariyah yaitu dalam masalah menetapkan sifat-sifat Allah. Akan tetapi bila diamati dengan membandingkan pendapatnya mengenai sifat Tuhan dengan pendapat kalangan Asy’ariyah, kelihatannya Al-Sanusi memunculkan Dalam hal pendapat sendiri mengenai sifat-sifat Allah.

Baca Juga:  Inilah Jalur Sanad Keilmuan dalam Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah

Al-Sanusi menetapkan sifat-sifat wajib bagi Allah sebanyak 20 sifat, dan membaginya sifat yang berjumlah 20 menjadi 4 macam, yaitu sifat nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan ma’nawiyah. Menetapkan pula sifat mustahil sebanyak 20 sifat sebagai lawan dari sifat wajib dan menetapkan pula 1 sifat ja’iz bagi Allah.

Sifat wajib bagi Allah berjumlah 20 sifat itu ialah wujud, qidam, baqa, mukhalafah li al-hawadist, qiyam bi nafsih, wahdaniyah, qudrah, iradah, ‘ilm, hayah, sama’, bashar, kalam, qadir, murid, alim, hayy, sami’, bashir, dan mutakallim.

Sifat wajib bagi Allah yang 20 ini dibagi menjadi 4 macam, yaitu:

Pertama disebut sifat nafsiyah, yang termasuk sifat nafsiyah yaitu wujud.

Kedua disebut sifat salbiyah, yang termasuk sifat salbiyah yaitu qidam, baqa, mukhalafah li al-hawdist, qiyam bi nafsih, wahdaniyah.

Ketiga sifat ma’ani, termasuk sifat ma’ani yaitu qudrah, iradah, ‘ilm, hayah, sama’, bashar, kalam.

Keempat ma’nawiyah, termasuk sifat ma’nawiyah yaitu qadir, murid, alim, hayy, sami’, bashir, dan mutakallim.

Kemudian Al-Sanusi menetapkan sifat mustahil bagi Allah sebanyak 20 sifat sebagai lawan dari 20 sifat wajib bagi Tuhan. Sifat-sifat mustahil bagi Allah itu ialah adam, huduts, thuruw al-‘adam, mumatsalah li al-hawadits, an la yakuna qa’iman bi nafsih, an la yakuna wahidan, ‘ajz, karahah, jahl, maut, shamam, ‘ama, bakam, ajiz, karih, jahil, mayyit, ashamm, a‘ma, dan abkam.

Selanjutnya, Al-Sanusi menetapkan pula yang jaiz bagi Tuhan. Yang jaiz bagi Allah ialah memperbuat sesuatu yang mungkin atau meninggalkannya. Maksudnya, menurut akal pikiran, boleh bagi Allah berbuat apa saja maupun tidak memperbuatnya.

Baca Juga:  Siapakah Sebenarnya Kelompok Asy'ariyyah? Ini Penjelasannya

Pemikiran mengenai sifat-sifat dan perbuatannya seperti ini nampaknya merupakan hasil dari pemikiran Al-Sanusi sendiri. Sebab, penetapan mengenai sifat-sifat dan perbuatannya seperti ini belum pernah ada sebelum Al-Sanusi. Dengan demikian penetapan sifat-sifat Allah menjadi 20 yang wajib dan 20 yang mustahil dan 1 yang jaiz bagi Allah adalah pendapat atau hasil pemikiran Al-Sanusi sendiri.

Tokoh-tokoh ulama pengikut Al-Sanusi yang memberikan syarah (komentar) dari kitab Ummul Barahim, yang tertuang dalam karya mereka, antara lain:

  1. Tahqiqul Maqam ala Kifayati Awam oleh Muhammad Fudhali.
  2. Syarah Hudhudi ala Ummil Barahim oleh Muhammad bin Mansyur Al-Hudhudi.
  3. Aqidatun Naajin fi Ulumi Ushuliddin oleh Zainal Abidin Al-Fatani (1308 H).
  4. Tanwirul Qulub fi Mu’amalati ‘Allamil Ghuyub oleh Salaman Al-Azami (1376 H).
Baca Juga:  Bagaimana NU Dimata Dunia? Begini Cerita dari Para Ahli

Demikian penjelasan singkat mengenai pemikiran Al-Sanusi tentang sifat wajib bagi Allah, sifat mustahil bagi Allah, dan sifat ja’iz bagi Allah. Dari pemikiran Al-Sanusi inilah akhirnya hingga saat ini kita mengenal sifat-sifat tersebut.

Mohammad Mufid Muwaffaq