Bagaimana Cara Menghilangkan Najis Anjing Agar Bisa Suci dan Bersih?

cara menghilangkan najis anjing

Pecihitam.org – Setiap benda atau pakaian yang terkena najis harus dibersihkan atau disucikan. Terlebih, apabila benda atau pakaian tersebut digunakan untuk beribadah. Biasanya, najis sudah bersih bila dibilas dengan air. Tapi khusus untuk najis babi dan anjing, tidak cukup satu atau tiga kali basuhan. Apabila ada jilatan anjing atau babi menempel pada pakaian atau benda, maka pakaian atau benda tersebut mesti disucikan dengan cara khusus. Lantas, bagaimanakah cara menghilangkan najis anjing tersebut?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Rasulullah SAW pernah menyinggung status kenajisan anjing. Beliau bersabda:

طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucinya wadah salah satu di antara kalian ketika dijilat anjing adalah dengan cara dicuci sebanyak tujuh kali. Salah satunya dicampuri dengan debu.” (HR Muslim, Ahmad) 

Berdasarkan hadits di atas, maka cara menghilangkan najis anjing atau babi ialah membasuhnya sebanyak tujuh kali, dan salah satunya harus menggunakan tanah, pasir atau debu.

Hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Dâru Quthni dan al-Hâkim mengisahkan bahwa Rasulullah pernah diundang untuk mendatangi satu rumah di sebuah kompleks masyarakat, beliau datang. Kemudian pada waktu lain, beliau diundang lagi di rumah yang lain, tapi Rasulullah tidak mendatangi undangan tersebut. Rasulullah berkata, “Rumahnya si Fulan ada anjingnya.” Lalu ada sahabat yang berkata pada Nabi, “Di rumahnya si Fulan yang ini ada kucingnya, Ya Rasul.” Rasul pun menjawab, “Sesungguhnya kucing tidak najis.”

Baca Juga:  Pengertian dan Cara Menghitung Zakat Profesi

Cerita di atas memberikan pemahaman bahwa anjing secara keseluruhan adalah najis. Air liur, daging, kencing dan lain sebagainya mempunyai tingkatan najis yang sama yaitu najis mughalladhah. 

Madzhab Syafi’i dan Hanbali menilai anjing termasuk dalam golongan najis mugholladzoh (najis yang berat) yang mengakibatkan najis tidak hanya sebatas air liurnya saja tapi mencakup juga keringatnya dan setiap anggota tubuhnya. Namun, berbeda dengan ulama Madzhab Maliki yang menganggap yang najis hanya liurnya saja, sehingga apabila misalkan hanya terkena kulit saja maka tidak diharuskan mandi atau membasuh 7 basuhan. Tata cara menghilangkan najisnya pun disyaratkan memakai debu satu diantara tujuh kali basuhan.

Cara menghilangkan najis anjing yakni dengan dibasuh tujuh kali salah satunya dengan debu. Keringatnya dan seluruh anggota tubuhnya hukumnya sama seperti air liurnya. Sebagaimana keterangan dalam kitab Fikih Islami wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Zuhaili Allahu yarham juz 1 halaman 288, yang berbunyi sebagai berikut:

وقال الشافعية والحنابلة: ما نجس بملاقاة شيء ( من لعاب أو بول، وسائر الرطوبات، والأجزاء الجافة إذا لاقت رطباً) من كلب أو خنزير، وما تولد منهما، أو من أحدهما من حيوان طاهر، يغسل سبع مرات إحداهن بالتراب الطاهر، ولو غبار رمل، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «يغسل الإناء إذا ولغ فيه الكلب سبع مرات، أولاهن أو أخراهن بالتراب» وفي حديث عبد الله بن المغفل: «إذا ولغ الكلب في الإناء، فاغسلوه سبع مرات، وعفروه الثامنة بالتراب» .

Baca Juga:  Shalat Khusuf: Dalil dan Tata Cara Pelaksanaannya

Masyarakat Indonesia yang mayoritas menganut Madzhab Syafi’i tentunya menggunakan pendapat yang ada dalam madzhab tersebut, yaitu seluruh bagian dari anjing dan babi adalah najis mugholadzoh, najis berat, sehingga harus membasuhnya 7 basuhan salah satunya dengan debu.

Apabila baju yang terkena najis anjing, maka baju tersebut yang harus dibasuh. Begitu juga jika yang terkena adalah kulit, baju, sepatu, atau bahkan rambut, harus dibasuh 7 kali satu kalinya dengan debu.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan shalat yang dikerjakan di rumah yang terkena najis anjing?

Berdasarkan madzhab Syafiiyah, tidaklah sah sehingga wajib diulangi (i‘âdah) dengan menggunakan pakaian yang suci, di tempat dan badan yang jelas dipastikan sucinya dari najis tersebut. Solusinya adalah bila rumah dan perangkat alat shalat yang digunakan di dalamnya belum dipastikan kesuciannya, maka bisa melaksanakan shalat di masjid, mushala atau tempat lain menggunakan pakaian yang suci. Bisa dengan meminjam teman atau tetangga. Rumah tersebut wajib dibersihkan dan disucikan sebisa mungkin, dengan cara yang tidak memberatkan, dengan cara bertahap, agar bisa digunakan shalat dengan baik.

Baca Juga:  Hukum Tahlilan Bagi Mayit Menurut Ibnu Taimiyah

Berkaitan dengan ketentuan sucinya pakaian dan tempat shalat, Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan sebagai berikut:

وقال الشافعية:… وإن كانت الأرض صغيرة كبيت، لم يجز أن يصلي فيه حتى يغسله، كما في حالة الشك بنجاسة جزء من الثوب؛ لأن البيت ونحوه يمكن غسله وحفظه من النجاسة، فإذا نجس أمكن غسله،…. 

Artinya, “Madzhab Syafiiyah berkata bahwa jika sebidang tanah itu kecil seperti rumah, maka seseorang tidak boleh shalat di dalamnya sehingga ia menyucikannya, sebagaimana keadaan ragu-ragu terhadap bagian pakaian yang terkena najis; sebab rumah dan semacamnya dapat disucikan dan dijaga dari najis, ketika terkena najis yang dapat disucikan,” (Lihat Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islâmi wa Adillatuh, [Damaskus, Dârul Fikr: 2009], juz I, halaman 627-632).

Demikian artikel tentang cara menghilangkan najis anjing. Semoga bermanfaat.

Ayu Alfiah

Leave a Reply

Your email address will not be published.