Beda Lora Fadil dan Kiai Sepuh, Antara Poligami dan Cukup Satu Istri

lora fadhil

Pecihitam.org – Sosok Ahmad Fadil Muzakki Syah atau Lora Fadil beberapa hari terakhir mencuri perhatian publik. Ada pemandangan tak biasa yang ia suguhkan pada momen pelantikan anggota DPR RI periode 2019-2024 di Senayan Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019.

Kala itu, Lora Fadil membawa serta ketiga istrinya untuk mendampinginya dilantik sebagai wakil rakyat. Politisi asal Jember ini sebelumnya memang sudah menghiasi media massa sejak diumumkan memperoleh suara terbanyak di Dapil III Jawa Timur dalam Pemilu Mei 2019 lalu.

Framing yang dibuat sejumlah media menggambarkan bahwa Lora Fadil berhasil maju ke Senayan berkat doa tiga istri cantik. Mereka adalah Siti Aminah, Yeni Kurnia, dan Novita Kusumaningrum.

Lora Fadil sendiri sepertinya tak merasa terganggu kehidupan keluarganya menjadi sorotan. Kepada media, Lora Fadil bahkan berbagi cerita bagaimana ia mengarungi rumah tangga bersama tiga perempuan dalam satu atap. Tak terkecuali, mengajak mereka untuk melakukan aktivitas bersama-sama.

“Kami selalu terbuka. Jadi kalau datang satu, ya datang semua. Open management. Saya menikah tidak sembunyi-sembunyi, saya menikah secara legal, sesuai hukum dan negara ketiga-tiganya. Sah semua, resmi,” kata Fadil.

Baca Juga:  Gelar Harlah Kopri dan Maulid Nabi, Ini Pesan Ketua Kopri PMII KKR

Selain mengedepankan sikap terbuka, sebelum mulai poligami dengan menikahi istri kedua, Lora Fadil meminta izin pada istri pertama. Meski awalnya sempat alot memberi lampu hijau pada sang suami, akhirnya Siti Aminah merestui juga dan bersedia dimadu.

Poligami tak dilarang Islam

Dalam Islam, poligami memang tidak melanggar syariat. Jika melihat latar belakang Lora Fadil sebagai seorang kiai dan pengasuh pondok pesantren besar di Jember, sudah tentu ia adalah sosok yang tak jauh dari nilai-nilai Islam.

Namun demikian, poligami sendiri merupakan hal yang cukup sensitif, tak hanya dari perspektif keagamaan tapi juga soal perasaan istri. Idiom yang berbunyi: ‘perempuan mana yang mau dimadu’, tak berlebihan rasanya, mengingat keturunan Ibu Hawa memang memiliki porsi cemburu yang besar. Di samping umumnya perempuan memiliki hasrat untuk menjadi satu-satunya ‘ratu’ di mata sang suami.

Akan tetapi jika melihat Lora Fadil yang berhasil membuat para istri hidup rukun berdampingan, kesan yang tertangkap oleh publik bisa jadi tentang kesuksesan ia berpoligami. Sehingga dari sisi ini, setidaknya momok poligami yang membuat bahtera rumah tangga ‘penuh drama’ dan ‘kecemburuan’ menjadi terbantahkan.

Baca Juga:  Polres Soppeng Gandeng Banser Jaga Keamanan Gereja Saat Natal

Poligami sendiri mewajibkan pelakunya untuk adil dan mampu secara lahir dan batin. Lora Fadil boleh jadi memenuhi aspek itu. Latar belakang sebagai anak kiai yang memiliki pondok pesantren, membuatnya tak diragukan memiliki kematangan nilai keagamaan sekaligus kemapanan finansial. Tentu saja hal ini tak berlaku secara general. Dengan kata lain, tak semua pria yang mantab secara agama dan harta akan sukses mendidik istri lebih dari satu.

Mbah Kiai Abdul Mannan

Terlepas dari Lora Fadil, ada pula kiai yang boleh jadi mampu berpoligami, bahkan diminta istri untuk melakukannya, tetapi memilih tidak.

Kiai itu adalah Mbah Kiai Abdul Mannan dari Solo. Kisah pendiri pondok pesantren Al Muayyad Mangkyudan Surakarta yang menolak poligami itu dituliskan di NU Online. Ponpes tersebut berdiri pada tahun 1930.

Ceritanya, Mbah Nyai Muslihah, istri Mbah Kiai Abdul Mannan minta supaya dicarikan madu. Alasannya, beliau merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajiban sebagai istri karena menopause.

Namun, Mbah Kiai Abdul Mannan tidak memenuhi permintaan istri ketiganya itu. Beliau pernah menikah tiga kali, tetapi tidak pernah poligami.

Baca Juga:  Ketua Umum DMI: Syekh Yusuf Ulama Sekaligus Panglima Perang Dua Negara

Singkat cerita, alasan Mbah Kiai Abdul Mannan tidak menduakan Mbah Nyai Muslihah adalah karena pada dasarnya beliau tak menginginkan poligami.

Meski kebutuhan biologis pada laki-laki tetap ada sepanjang hayat, dan Mbah Nyai Muslihah sudah uzur, Mbah Kiai Abdul Mannan lebih memilih puasa untuk mengendalikan hasratnya.

Berpuasa, menurut Mbah Kiai Abdul Mannan adalah cara terbaik meredam persoalan syahwat. Rasulullah SAW sendiri menyatakan dalam hadis: “Puasa adalah perisai (peredam) syahwat.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Mbah Kiai Abdul Mannan akhirnya langgeng bersama Mbah Nyai Muslihah. Mbah Kiai tutup usia pada tahun 1964 dan Mbah Nyai Muslihah wafat pada tahun 1981.

Leave a Reply

Your email address will not be published.