Begini Konsep Zuhud di Mata Sang Sufi, Rabiah Al Adawiyah

Begini Konsep Zuhud di Mata Sang Sufi, Rabiah Al Adawiyah

Pecihitam.org – Zuhud, satu kata yang mengartikan dirinya sebagai bentuk kecintaan terhadap Allah, manakala kita mengedepankan Akhirat ketimbang Dunia, serta Ridha atas segala musibah ataupun ujian guna mendapatkan pahala dan kecintaan dari Allah Swt.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun dalam pengertian diatas tidak serta merta kata zuhud itu diiringi dengan kemiskinan. Karena jika kita tinjau tokoh-tokoh pada masa sahabat misalnya, kita akan menemukan nama Ustman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang merupakan seorang konglomerat namun tetap Zuhud dengan apa yang dimilikinya.

Perlu diketahui bahwa hasil dari sebuah Kuzuhudan ialah dengan menjadikan jiwa seseorang menjadi kuat. mereka tidak terbujuk dengan harta dan kedudukan.

Seperti riwayat Umar Bin Khattab yang telah dihadapkan perbendaharaan Kaisar terhadapnya, namun ia malah menatapnya dan berkata “ Ya Allah, aku mengetahui bahwa engkau telah berfirman dalam KitabMu: Nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur angsur (Ke arah Kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui. (QS. Al A’raf [7]: 182), dan memerintahkan Harta agar harta tersebut diletakkan di baitul Mall.

Jikalau kita kembali membahas tentang konsep Kezuhudan dalam Islam tentu kita akan kembali menemukan nama Rabiah al Adawiyah, seperti pada salah satu perkataannya tentang kezuhudan yang diriwayatkan oleh Hujuwairi dalam Kasful Mahjub bahwa salah seorang laki laki pemuja dunia berkata pada Rabiah:

Baca Juga:  Kisah Perempuan yang Ingin Membakar Surga dan Memadamkan Neraka

Mintalah kebutuhanmu KepadaKu” maka Rabiah al Adawiyah berkata “Jika aku merasa malu meminta dunia kepada Dzat yang memilikinya, bagaimana mungkin aku memintanya kepada orang yang tidak memilikinya?”

Selain Rabiah juga melarang seseorang meneliti kekurangan kekurangan orang lain. Sebab seorang yang berjalan menuju Allah, harus konsentrasi untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dirinya sendiri. Ibn abi Hadid menyebutkan dalam Syarah Nahj Balaghh, bahwa Rabiah al Adawiyah berkata:

Jika seorang memberi nasehat karena Allah, maka Allah akan memperlihatkan kepadanya kejelekan-kejelekan amal perbuatannya. Sehingga ia akan sibuk mengurusi kejelekannya sendiri, dan tak menggubris kejelekan-kejelekan ciptaanNya.

Tentu pada Perkataan tersebut mengingatkan kita dengan apa yang telah dikatakan oleh Ibn Athaillah dalam salah satu hikmah yang ada dalam kitab Hikamnya “Perhatianmu terhadap kejelekan yang tersembunyi pada dirimu, lebih baik daripada perhatianmu terhadap kejelekan yang telah menjadi penghalang bagimu.” (Syarakh Randi, Jilid I, hlm.34-35)

Dijelaskan pula bahwasanya Rabiah al Adawiyah senantiasa menangis dan berduka. Kondisinya seperti itu sama halnya dengan para ahli zuhud pendahulunya.

Sya’rani menyebutkannya dalam Thabaqat Kubra, bahwa Rabiah sering kali menangis dan berduka. Jika ia mendengar perkataan tentang neraka, ia selalu linglung selang beberapa waktu. Tempat sujudnya bagaikan tempat air karena banyaknya air mata yang menetes ke tempat tersebut.

Baca Juga:  Rabi'ah Al-'Adawiyah, Kisah Waliyullah; Karomah dan Kalam Hikmahnya

Tidak hanya itu, diceritakan pula bahwa di suatu hari Sufyan Tsauri berkata kepadanya: “Pada tiap-tiap akidah terdapat sebuah syarat, dan pada tiap-tiap keimanan terdapat sebuah hakikat. Oleh karena itu, apa hakikat keimananmu?.” Maka Rabiah berkata: “Aku menyembahNya bukan karena takut akan api nerakaNya, dan juga bukan karena suka akan Syurga-Nya sehingga aku bagika seorang pedagang yang takut kerugian. Aku menyembah-Nya tidak lain karena kecintaan dan kerinduanku terhadapNya.

Sehingga dari beberapa gambaran di atas seolah memberitahu kita bahwa betapa Zuhudnya Seorang Rabiah, maka tak heran jikalau Sebagian pengkaji tasawuf dari kalangan orientalis seperti Nicholson menganggap bahwa urgensi Rabiah adalah kemampuannya memberikan warna baru dalam kezuhudan Islam yang sebelumnya identik dengan ketakutan sebagaimana zuhud dalam perspektif Hasan Basri.

Rabiah telah menambahkan unsur baru di dalam kezuhudan yang berupa “cinta” yang digunakan oleh manusia sebagai perantara untuk melihat keindahan Allah yang azali.

Qusyairi menyebutkan salah satu munajat Rabiah dalam Risalahnya: “Wahai Tuhanku! Apakah engkau akan membakar dengan api, hati yang penuh kecintaan terhadapMu! Padamkanlah api tersebut dengan kecintaan itu. Aku tak pernah melakukan hal itu, sehingga jangankh Engkau berprasangka buruk kepadaku.”

Sehingga dari berbagai Syair Syair dan perbuatan Rabiah yang menggambarkan nilai Kezuhudan yang luar biasa mendorong kita berkesimpulan bahwa Rabiah Al Adwiyah adalah simbol Kezuhudan yang berlandaskan pada kecintaan terhadap Allah pada kurun 22 H, dimana pada saat itu pula Hasan Basri menjadi Simbol Kezuhudan yang berlandaskan pada ketakutan.

Baca Juga:  Mengenal Tarekat Khalwatiyah, Menyendiri Ditempat Sepi

Oleh karena itu, Rabiah al Adawiyah merupakan titik peralihan dalam kezuhudan Islam menuju kemunculan tasawuf dan para sufi. Oleh karena itu, ia sangat populer pada masanya sebagaimana yang dilukiskan oleh Ibn Khalka “Rabiah Adawiyah senantiasa ada dalam pandangan mata orang orang semasanya. Cerita cerita tentang kesalehan dan Ibadahnya, sangatlah terkenal”


Sumber: Tasawuf Islam (Telaah Historis dan perkembangannya) oleh Abu Wafa’ Al Ghanimi Al Taftazani

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.