Belajar Dari Kisah Gusdur Menyikapi Bendera Bintang Kejora

gusdur menyikapi bendera bintang kejora

Pecihitam.org – Bicara Papua, apalagi setelah insiden kerusuhan yang terjadi beberapa waktu ini, provokasi makar dan pengibaran bendera Bintang Kejora yang dianggap simbol separatisme. Mari kita ingat kembali dengan sosok seorang guru bangsa, mantan presiden RI ke-4, seorang tokoh pluralisme dan juga mantan ketua umum PBNU yakni KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ada kisah lucu tentang bagaimana Gusdur menyikapi Bendera Bintang Kejora yang katanya bendera separatis itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, beliau pernah membolehkan bendera Bintang Kejora berkibar di tanah Papua yaitu ketika peringatan 1 Desember. Perlu diketahui bahwa 1 Desember itu diperingati sebagai hari ulang tahun kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Gusdur menyikapi bendera Bintang Kejora itu hanya sekedar umbul-umbul, sehingga dianggap seperti yang ada ketika pertandingan sepak bola. Kala itu Gus Dur meminta TNI tidak terlalu risau dengan pengibaran bendera tersebut, karena ketika itu diantara bendera tersebut masih ada bendera sang saka merah putih yang berkibar lebih tinggi di atas bendera Bintang Kejora.

Diceritakan Suatu hari Jendral Wiranto yang kala itu sebagai Menko Polkam melapor kepada Presiden Abdurrohman Wahid atau Gus Dur

Wiranto : “Bapak Presiden, ijin melaporkan di Papua sedang ada pengibaran Bendera Bintang Kejora”
Gus Dur: “Apa masih ada bendera Merah Putihnya?”
Wiranto : “Ada, hanya satu, tinggi.”
Gus Dur : “Ya sudah, anggap saja Bintang Kejora itu umbul-umbul.”
Wiranto : “Tapi Bapak Presiden, ini sangat berbahaya.”
Gus Dur : “Pikiran Bapak yang harus berubah, apa susahnya menganggap Bintang Kejora itu sebagai umbul-umbul! Sepak bola saja banyak benderanya!” sambil Marah
Kemudian Pak Jendral Wiranto keluar sambil bingung luar biasa.

Baca Juga:  Urgensi Teologi Lingkungan di Masa Pandemi Corona

Gus Dur adalah sosok yang sangat di hormati di Papua, karena beliau jugalah yang mengabulkan permintaan masyarakat Irian Jaya (waktu itu) untuk kembali menggunakan sebutan nama Papua. Pengembalian nama Papua dari Irian Jaya dan pemberian izin pengibaran bendera Bintang Kejora bukan berarti tanda Gus Dur menganggap remeh terhadap Indonesia. Justru sebaliknya, hal itu karena Gus Dur ingin membantu masyarakat Papua agar bisa lebih menghayati makna Ke-Indonesiaan lebih dalam. Gus Dur sangat percaya pada Orang Papua dan Gus Dur tahu bahwa itulah cara yang baik untuk merebut hati masyarakat yang berpuluh tahun merasa terasing, tidak dihormati, dan bahkan dihina. Itulah mengapa masyarakat Papua sampai sekarang sangat mencintai Gus Dur hingga mereka menyebut Gus Dur sebagai Bapaknya orang Papua.

Baca Juga:  Kontesasi Wacana Keislaman di Tengah Pandemi Corona

Sekitar tahun 2007 setelah Gus Dur sudah tidak lagi menjadi presiden RI beliau kembali menjelaskan alasan mengapa memperbolehkan bendera Bintang Kejora berkibar. Gus Dur menganggap bendera Bintang Kejora hanya bendera kultural warga Papua.

“Bendera Bintang kejora itu hanya bendera kultural. Kalau kita menganggap sebagai bendera politik, ya salah kita sendiri!” kata Gus Dur kala itu di Kantor PBNU, Jakarta.

Saat masih jadi Presiden, Gus Dur pernah berkata kepada rakyat Papua; “Kalian boleh minta apa saja, akan saya berikan. Asal jangan untuk berpisah. Saya akan datang ke Jayapura pada 1 Januari 2000, dan saya kembalikan nama Irian Jaya menjadi Papua. Saya juga amanatkan Bendera Papua boleh dikibarkan, sebagai lambang kultural, asal ukurannya lebih kecil dari Bendera Merah Putih, dan berkibar di bawah Bendera Merah Putih.”

Kata Gus Dur, “Di Indonesia itu hanya ada satu bendera. Yang lainnya adalah umbul umbul.” Beliau mengakhiri pesannya dengan mengatakan, “Gitu saja ko repot!”

Sosok Gus Dur memang aneh tapi nyata. Pemikirannya sangat maju seakan melampaui batas zaman. Karena pemikirannya yang sangat maju sering kali Gus Dur memecahkan suatu masalah dengan mudah bahkan dianggap remeh-temeh, yang orang lain saja kadang sampai kerepotan dan tidak mengerti. Sehingga tak sedikit yang salah paham akan ucapan dan tindakan beliau sampai memicu kontra. Bahkan kadang kontra itu datang dari pendukungnya, dari kalangan kyai dan internal NU. Tetapi semua ucapan dan tindakannya banyak yang terbukti kebenarannya setelah beberapa tahun kemudian.

Baca Juga:  Beethoven Symphony 9 dan Cita Rasa Musik Gus Dur

Mungkin saja pemikiran Gus Dur masih jauh lebih luas dari sekedar pemikiran kita semua. Karena kadang apa yang kita yakini sebagai kebenaran belum tentu itu sebuah kebenaran sempurna untuk lainnya.

Gus, engkau sering berkata “Gitu aja kok repot!”,, yang membuat lawan bicara menjadi semakin repot.
Kini, setelah engkau meninggalkan kami, semua jadi semakin repot Gus.,

Khususon ila ruuhi al maghfurlah KH Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) … Al Fatihah

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *