Benarkah Menghormati dan Memuliakan Ulama Adalah Pintu Menuju Syirik?

Menghormati dan Memuliakan Ulama

Pecihitam.org – Di kalangan pesantren, sering kita melihat para santri sangat takzim dengan ulama (kyai atau guru). Sikap takzim mereka biasanya dengan mencium tangan guru, membungkuk ketika dihadapannya, dll. Itu semua adalah wujud akhlak seorang santri yaitu menghormati dan memuliakan ulama sebagai gurunya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun, sikap tersebut kadang disalah artikan oleh orang-orang tertentu yang katanya itu adalah perbuatan syirik karena dianggap mengkultuskan ulama. Lantas benarkah menghormati dan memuliakan ulama adalah perbuatan syirik?

Daftar Pembahasan:

Beda Menghormati dan Mengkultuskan

Memang, terlalu memuja-muja ulama, wali atau orang shaleh tidaklah baik dan juga tidak benar. Akan tetapi, menghormati atau mendoakan para ulama merupakan adab yang sangat dianjurkan oleh Islam. Disini harus dibedakan antara menghormati dan mengkultuskan, antara memuliakan dan menganggapnya suci.

Kultus dapat diartikan sebagai pensucian atau penafian kesalahan atau dosa pada diri sesorang. Maka, jika seseorang menganggap para ulama itu tidak pernah salah atau berdosa, itu namanya mengkultuskan dan tentu saja ini tidak benar serta dilarang oleh Islam.

Sedangkan menghormati dan memuliakan kedudukan para ulama yang tinggi di sisi Allah, itu adalah sebuah keharusan. Mengagumi, menghormati, mencintai, mendokan orang-orang shaleh adalah adab yang baik dalam Islam.

Ketika kita menghormati, memuliakan, dan mengagumi seorang ulama karena ketinggian ilmu dan karomahnya, maka perbuatan tersebut tidak termasuk syirik. Begitu pula jika kita mendoakan guru-guru kita, baik mendoakan setelah shalat atau saat berziarah ke makamnya.

Hal ini tidak bisa dianggap musyrik karena kita tidak menyamakan para guru kita dengan Allah Swt. Sebab, kita tidak menganggap mereka adalah Tuhan. Mereka adalah hamba Allah yang shaleh.

Adapun jika sebagian pihak menganggap bahwa penghormatan kepada ulama atau doa ziarah kubur di makam ulama merupakan pintu menuju kemusyrikan, itu adalah tuduhan yang berlebihan.

Baca Juga:  Dimanakah Wilayah Najd, Tempat Lahirnya Muhammad bin Abdul Wahab Itu Berada?

Apalagi ditambah tuduhan sebagai penyembah kuburan, penyembah wali, atau upaya mencari pesugihan. Karena memang faktanya tidak demikian, kita sama sekali tidak menyembah mereka.

Mengapa Harus Menghormati Ulama?

Sebagaimana yang dijelaskan dalam al Quran, bahwa para ulama memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan juga di hadapan manusia. Semua ini merupakan anugerah dari Allah Swt:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat. (Al-Mujadilah: 11)

Bahkan karena tingginya kedudukan ulama, hingga merekalah yang dijadikan pewaris para Nabi. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. al-Imam at-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169)

Dalam al-Quran juga disebutkan bahwa orang yang berilmu menjadi standar kemuliaannya. Allah Swt berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَاب

Tidaklah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9)

Allah Swt juga menempatkan orang-orang yang berilmu pada posisi ketiga setelah ZatNya dan Malaikat, yang bersaksi atas keesaanNya:

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). (QS. Ali Imran: 18).

Dan puncaknya, Allah menegaskan bahwa yang paling bertakwa kepada-Nya adalah orang-orang alim:

Baca Juga:  Al-Ghazali, Kesalahan Kutib dan Kitab Perdukunan

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama). (QS. Fathir: 28)

Itulah sebabnya Rasulullah Saw menyamakan kedudukan para ulama seperti kedudukan Beliau atas umatnya.

فضل العالم على العابد كفضلي على أمتي

Keutamaan orang alim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku (Nabi Muhammad SAW) di atas umatku. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ketika masih hidup, umat Islam dianjurkan shalat (bermakmum) kepada para ulama, karena itu diibaratkan seperti shalat dibelakang Nabi Saw. Qadli Husain menukil sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَلَّى خَلْفَ عَالِمٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى خَلْفَ نَبِيٍّ, وَمَنْ صَلَّى خَلْفَ نَبِيٍّ فَقَدْ غُفِرَ لَهُ

Barang siapa salat (bermakmum) di belakang orang alim, maka ia laksana shalat di belakang Nabi. Dan barang siapa salat di belakang Nabi, maka dosa-dosanya akan diampuni.

Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari dalam Adab al-Alim wa al-Muta’allim mengutip sebuah hadis dari mukadimah kitab Nadzm al-Dlurar, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

من عظم العالم فإنما يعظم الله تعالي ومن تهاون بالعالم فإنما ذلك استخفاف بالله تعالي وبرسوله

“Barangsiapa memuliakan ulama, dia laksana memuliakan Allah Swt. Barangsiapa merendahkan ulama, maka ia seperti merendahkan Allah Swt dan utusan-Nya.”

Benang Merah

Memuliakan, mengagumi ketinggian ilmu para ulama atau wali yang dekat dengan Allah, menghormati dan mendoakan mereka, bukanlah perbuatan syirik. Justru hal itu adalah wujud ketaatan kita kepada Rasulullah Saw. Sebab dalam sebuah hadits riwayat al-Bazzar, Rasulullah Saw memerintahkan umatnya untuk mencintai para ulama.

اغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا، وَلاَ تَكُنِ الْخَامِسَ فَتَهْلَكَ

Jadilah orang yang alim (ulama), atau pelajar, atau pendengar, atau (minimal) mencintai mereka. Janganlah menjadi orang kelima (benci kepada mereka), karena kamu akan binasa. (HR. Al-Bazzar)

Itulah sebabnya Rasulullah Saw menyatakan bahwa matinya seorang ulama laksana bintang yang redup. Nabi Saw bersabda:

Baca Juga:  Rafidhi dan Nashibi Menurut Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيْبَةٌ لاَ تُجْبَرُ وَثِلْمَةٌ لاَ تُسَدُّ ، وَهُوَ نَجْمٌ طَمَسٌ

“Kematian seorang alim adalah musibah yang tidak dapat ditangkal; kebocoran yang tidak bisa ditambal. (Kematiannya) itu laksana bintang yang punah. (HR. Baihaqi).”

مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

Kematian satu kabilah (komunitas) jauh lebih ringan daripada kematian satu orang alim. (HR. Baihaqi).

Dengan demikian, menghormati dan memuliakan ulama jelas bukan perbuatan syirik, karena itu semua sejatinya merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Juga tradisi ziarah ke makam ulama yang sebenarya merupakan salah satu wujud kesedihan kita atas wafatnya, sekaligus bentuk penghormatan kita atas jasa-jasa mereka.

Ziarah kubur yang diisi dengan bacaan al-Qur’an, tahlil, dzikir, mengingat mati, mendoakan para wali dan ulama, atau berdoa agar bisa meneladani perilaku dan akhlak mereka, merupakan perbuatan yang sangat baik dan terpuji.

Yang jelas salah dan sangat dilarang dalam Islam adalah, jika ziarah kubur diniati untuk mencari kesaktian, mendapat kedudukan, atau bahkan pesugihan untuk menambah kekayaan dengan perantara para wali atau ulama. Inilah bentuk pintu musyrik yang sebenarnya.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik