Dosa Besar Dalam Islam: Pembagian dan Contohnya

Dosa Besar Dalam Islam: Pembagian dan Contohnya

PeciHitam.org – Kata dosa dalam bahasa Arab disebut dengan ungkapan جرم- ذنب ذنوب معصيّة-اثم اثام . Keempat term tersebut secara lughawi mengandung arti mengerjakan sesuatu yang tidak dibolehkan ( مالايحّل له ان يعمل ) dan keempat term tersebut digunakan semuanya dalam al-Qur’an. Selain itu, al-Qur’an menyebut jenis perbuatan dosa dengan term lain, yaitu فاحشة فحشاء yang mengandung arti perbuatan keji.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sedangkan menurut terminologi, dosa ialah segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah, baik yang berkaitan dengan melakukan sesuatu ataupun meninggalkannya. TM Hasbi Ash Shiddieqy merumuskan dosa adalah pelanggaran terhadap sesuatu ketentuan Tuhan (perkara yang wajib dikerjakan atau wajib ditinggalkan). Jadi bukan ketentuan Tuhan yang hukumnya hanya Sunat, Makruh atau Mubah.

Dosa itu dalam ajaran Islam dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu:

  1. Dosa besar yang tidak terampuni
  2. Dosa besar yang masih bisa diampuni
  3. Dosa kecil yang terhapus karena rajin ibadah atau karena banyak berbuat kebajikan

Pada kesempatan kali ini, kita fokus ke dosa besar. Dosa besar diartikan sebagai kesalahan besar terhadap Allah karena melanggar aturan pokok yang diancam dengan hukuman berat, dunia dan akhirat, contohnya dosa syirik, zina dan durhaka kepada kedua ibu-bapak.

Baca Juga:  Membaca Alquran Adalah Cara Hamba Berkomunikasi dengan Allah

Al-Ghazali dan Al-Razy mengemukakan bahwa dosa besar ialah setiap sesuatu perbuatan yang ada unsur penghinaannya terhadap agama dan ketiadaan mempedulikan larangan dan suruhan agama serta tidak menghormati taklif agama.

Sebagian ulama lain mengatakan, jika ingin mengetahui perbedaan antara dosa besar dengan dosa-dosa kecil, maka bandingkanlah kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh dosa-dosa tersebut dengan dosa besar yang sudah ada nash-nya. Apabila pada kenyataannya kerusakan yang ditimbulkan itu hanya sedikit, maka yang demikian itu adalah dosa kecil. Tetapi apabila kerusakan yang ditimbulkannya itu seimbang atau lebih besar, maka yang demikian itu adalah dosa besar.

Pengertian dosa besar dan dosa kecil yang terakhir ini ditekankan pada kerusakan yang ditimbulkannya, dibandingkan dengan dosa yang telah ada nash-nya dalam Islam. Dari uraian tentang pengertian dosa di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa para ulama pada umumnya menyetujui pembagian dosa itu atas dasar besar dan kecil. Dosa besar mengandung bahaya dan mudarat yang lebih besar, dan dosa kecil mendatangkan bahaya dan mudarat yang lebih ringan.

Baca Juga:  Bermakmum dengan Imam Lain Madzhab, Bagaimanakah Hukumnya?

Adapun mengenai jumlah dosa besar para ulama berbeda pendapat. Ada di antara mereka yang mengatakan jumlahnya 7, 17, 70 dan ada pula yang mengatakan jumlahnya 700. Semua pendapat ini ada argumennya, baik argumen akal maupun naqal. Adz-Dzahabi, pengarang kitab al-Kaba’ir menyebutkan tujuh buah dosa besar:

  1. Menyekutukan Allah dan riya dalam amal perbuatan;
  2. Sengaja menghilangkan nyawa seseorang mukmin;
  3. Mengamalkan sihir;
  4. Meninggalkan salat;
  5. Enggan mengeluarkan zakat;
  6. Sengaja berbuka di hari bulan Ramadhan;
  7. Tidak menunaikan ibadah haji, padahal mempunyai kesanggupan menunaikannya;

Pelaku dosa besar dianjurkan untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama atau melakukan dosa besar lainnya. Mereka tidak perlu berkecil hati karena pintu tobat dan anugerah Allah masih terbuka. Hal ini juga disinggung oleh Ibnu Athaillah:

 ولا كبيرة إذا واجهك فضله

Artinya: Tak ada dosa besar ketika kau disambut dengan kemurahan-Nya.

Orang yang melakukan dosa besar masih mendapat kesempatan untuk menerima kasih sayang Allah berupa ampunan-Nya. Mereka tidak boleh berputus asa dan harus senantiasa mendekatkan dari kepada Allah.

Baca Juga:  Konsep Dan Landasan Pluralisme Ala Gus Dur

Hikmah ini bukan anjuran bagi manusia untuk melakukan dosa besar dalam islam karena kita tidak tahu apakah dosa besar kita akan diampuni dan disambut dengan kemurahan rahmat-Nya atau dihadapkan pada keadilan dan kebesaran-Nya. Hikmah ini lebih merupakan kabar gembira bagi mereka yang terlanjur berdosa besar agar bertobat serta tidak berputus asa dari rahmat Allah dan tidak mengulangi dosa besarnya. Hikmah ini menunjukkan besarnya rahmat dan karunia Allah.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.