Penjelasan Gus Baha’ dan KH. Anwar Zahid Tentang Keabsahan Dzikir “Hu” dalam Thariqah Syattariyah

Dzikir Hu dalam Thariqah Syattariyah

Pecihitam.org – Dalam uanggahan video di Youtube terdapat tanggapan Ustadz Adi Hidayat dan Khalid Basalamah yang meragukan keabsahan Dzikir “Hu” dalam Thariqah Syattariyah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jika protes itu datang dari Khalid Basalamah wajar. Karena selama ini, ia oleh masyarakat luas memang dikenal sebagai tokoh salafi yang sering menyerang faham dan amaliah Aswaja, termasuk tasawwuf. Artinya tidak perlu kaget jika kritik itu datang dari Khalid Basalamah.

Yang agak mengherankan kalau keraguan itu timbul dari Ustadz Adi Hidayat. Memang secara umum, corak pemikirannya condong ke Muhammadiyah. Tapi kita juga tahu, dibandingkan dengan tokoh salafi lain, ia dikenal cukup moderat. Jadi, mengherankan kalau ustadz yang oleh jamaaahnya dikenal sebagai pakar hadis ini, kemudian meragukan Dzikir “Hu” dalam Thariqah Syattariyah, mengingat dzikir ini mempunyai dalil kuat.

Sebelum menyampaikan bantahan terhadap protes Khalid Basalamah dan keraguan Adi Hidayat yang dikemukakan oleh KH. Anwar Zahid dan Gus Baha’, penulis merasa perlu untuk menyampaikan tentang Thariqah Syattariyah.

Sekilas Tentang Thariqah Syattariyah

Thariqah Syattaryiyah termasuk thariqah yang cukup besar. Di Indonesia, thariqah ini cukup berkembang terutama di Pulau Sumatera. Salah satu mursyidnya yang terkenal adalah Syaikh Abdurrauf as-Sinkli asal daerah Singkil, Aceh.

Nama Syattariyah dinisbatkan kepada pendirinya, Abdullah As-Syattari yang wafat pada tahun 890 H / 1485 M. Dalam dunia tasawwuf, thariqah ini diakui sebagai bagian dari thariqah mu’tabarah karena sanadnya bersambung hingga ke Rasulullah.

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Sosok KH Anwar Zahid Bojonegoro

Allah adalah Huwa atau Hu (jika dibaca waqaf)

Dalam pandangan Thariqah Syattariyah, Tuhan adalah Satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dzat Wajibul Wujud, yakni Dzat yang hakekat-Nya nyata wujud-Nya, jelas wujud-Nya. Bahkan sebenarnya Dia yang ada dan maujud, Esa. Allah asma-Nya, namun ghaib atau Huwa atau Hu (ketika dibaca waqaf)

Allah adalah Satu yang disenangi dan juga hanya Dia yang Maha Satu yang dituju di dalam hidup. Allah adalah Tuhan yang tidak lain adalah Hu, yakni Dzat yang sebenarnya wujud.

Tentang Keabsahan Dzkikir “Hu”
Dalam Thariqah Syattariyah, ada Dzikir Sang Huwa yang dibaca Hu. Hu ini diucapkan dengan sirri, yakni dengan mulut dikatupkan dan mata dipejamkan. Hu ini adalah isim ghaib yaitu wujudnya Tuhan.

Dasarnya adalah Surat Al-Ikhlas yang menyebut Allah dengan dlamir sya’n atau isim ghaib, yaitu Huwa.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

Dalam pandangan Thariqah Syattariyah, Allah tidak mempunyai sifat, tetapi mempunyai asma. Asma Allah berjumlah 99 seperti yang tertera dalam al-Qur’an. Selain itu ada lagi asma Allah yang ghaib (isim ghaib) yaitu Huwa.

Hal ini sebagaimana bisa dipahami dari doa Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut

Baca Juga:  Sampaikan Pesan Buat Fans K-Pop, Gus Baha: Jangan Berlebihan, Tidak Baik

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ

Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.

Penjelasan Gus Baha’ dan KH. Anwar Zahid

Menurut Gus Baha’, dzikir “Hu” diambil dari “Hu“-nya kalimat annahu / أنه, seperti yang dicontohkan oleh beliau dengan menyitir ayat فاعلم أنه لا إله إلا الله

Baca Juga:  Inilah Amalan dan Doa yang Dianjurkan Ketika Ziarah Kubur

Menurut beliau, “Hu” itu adalah isim dlamir yang rujuk (kembali) pada Allah.

Menurut KH. Anwar Zahid, dalam dzikir la ilaha illalah, lafadz la ilaha adalah negatif (nafi) sedangkan illallah adalah positif (tsabit). Semakin khusyuk, maka yang terdengar dari orang yang berdzikir hanya kalimat positifnya saja, yakni illallah.

Semakin khusyuk lagi, maka yang terdengar hanya lafadz Allah. Makin khusyuk lagi, maka yang terucap dari mulut orang yang sedang asyik tenggelam dalam kekhusyuk-an, hanya “Hu“.

Baik Gus Baha’ maupun KH. Anwar Zahid menguatkan penjelasannya dengan mengutip mukaddimah nadzam Imrithy
فَاُشْرِبَتْ مَعْنَى ضَمِيْرِ الشَّانِ  ||   فَأُعْرِبَتْ فِى اْلحَانِ بِاْلاَلْحَانِ 

Makna dlamir sya’n (Hu) dimasukkan ke dalam hatinya

Lalu hati khusyuk laksana mendengar musik dibuatnya 

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published.