Gagasan Mistik dan Filsafat dalam Pemikiran Ibn Arabi

Gagasan Mistik dan Filsafat dalam Pemikiran Ibn Arabi

Pecihitam.org – Ibn Arabi (560-638 H) adalah tokoh mistik yang menuliskan pengalaman ruhaninya lewat cara berpikir filsafat. Mistik (sufisme) adalah sebuah pencarian kebenaran lewat jalan penghayatan dengan dasar cinta.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perbedaan sufisme dan filsafat, menurut Khudori Sholeh (2012), terdiri dari tiga macam, di antaranya; pertama, filsafat memijakkan argumentasi pada postulat-postulatnya, sementara mistik mendasarkan argumentasinya pada visi dan intuisi serta kemungkinan mengemukakan berbagai teorinya secara teoritis.

Kedua, tujuan dalam filsafat adalah memahami alam semesta. Para filosof ingin mendapatkan gambaran tentang alam semesta yang benar, sempurna, dan menyeluruh. di mata filsafat, capaian tertinggi manusia adalah mampu memahami dunia sedemikian rupa, sehingga eksistensi dunia ini pun tegak dan dia sendiri menjadi dunia.

Sementara itu, dalam mistik, persoalan intelek atau rasio tidak begitu menarik. Seorang mistik ingin menjangkau hakikat eksitensi, yakni Allah. Ia ingin berjumpa dengan hakikat ini dan mengamatinya.

Menurut kaum mistik, capaian tertinggi manusia adalah kembali kepada asal-usulnya guna menghindari jarak antara dirinya dengan Tuhan serta menghilangkan sifat kemanusian untuk berusaha hidup abadi dalam Diri Tuhan.

Baca Juga:  Tasawuf Pamoring Kawulo Gusti dalam Wirid Hidayat Jati Ronggowarsito

Ketiga, dalam mencapai tujuannya, filsafat menggunakan rasio dan intelektualnya, sementara mistik menggunakan kalbu dan jiwa suci serta upaya spiritual terus-menerus. Ini dilakukan karena rasio atau intelek dianggap kurang memadai untuk menggapai kebenaran hakiki.

Dalam pandangan Ibn Arabi, kebenaran terdiri dari tiga bagian; indera, rasio, dan intuisi. Ibn Arabi mengakui bahwa indera dan rasio adalah sarana penting untuk mencapai kebenaran.

Akan tetapi, apa yang dicapai oleh indera dan rasio masih sangata terbatas. Indrera hanya mampu mengkaji sejauh apa yang tampak, yang kasat mata, sangat rentan terhadap kesalahan.

Begitu pula dengan rasio, meski dengan kekuatannya mampu menjangkau rahasia yang ada di balik alam indera, ia masih belum mampu menjangkau yang transenden. Kekuatan indera maupun rasio baru berada pada tahap mendekati yang hakiki, belum mencapai yang hakiki.

Bagi Ibn Arabi, indera dan rasio baru berada pada tahap ‘pengetahuan mengenai’ dan belum sampai pada ‘pengetahuan tentang’. ‘pengetahuan mengenai’ adalah pengetahuan diskursif, pengetahuan simbol yang diperoleh lewat perantara indera dan rasio. Sedangkan ‘pengetahuan tentang’ adalah pengetahuan langsung, pengetahuan intuitif yang diperoleh secara langsung.

Baca Juga:  Kritik Imam al Ghazali Terhadap Pemikiran Para Filsuf (Part 1)

Karena itulah, bagi Ibn Arabi, tidak ada jalan lain untuk bisa memahami realitas wujud yang hakiki kecuali menyelami langsung lewat penghayatan dalam mistik.

Pengetahuan intuitif yang diperoleh lewat penghayatan inilah pengetahuan yang sebenarnya, pengetahuan yang paling unggul dan pengetahuan yang terpercaya.

Untuk mampu menangkap, menyelami serta memahami rahasia dan hakikat wujud di atas, sebelumnya, seorang sufistik harus membersihkan jiwanya untuk kemudian menghadap kepada Tuhan dengan penuh cinta dan rindu.

Ibn Arabi memetakan lima tahapan secara gradual untuk membersihkan hati;

Pertama, membersihkan jiwa dengan menjauhkan diri dari segala perilaku dosa dan kemaksiatan di samping semakin rajin dalam melakukan kebajikan.

Kedua, meninggalkan seluruh pengaruh dunia, penghentikan pandangan terhadap aspek fenomena dunia dan kesadaran terhadap aspek nyata yang menjadi dasar fenomena dunia.

Baca Juga:  KH. Hamdani Mu’in dan Urgensi Thariqah di Kalangan Mahasiswa Indonesia

Ketiga, menjauhkan diri dari atribut-atribut wujud yang kontingen (berubah-ubah) dengan kesadaran bahwa semua itu adalah kepunyaan Allah semata.

Keempat, menghilangkan semua hal yang ‘selain Allah’, tetapi tidak ‘menghilangkan’ tindakan itu sendiri. Di sini sang mistik menghilangkan kesadaran dirinya sendiri sebagai orang yang memandang.

Kelima, melepaskan atribut-atribut Tuhan serta ‘hubungan-hubungan’ dari atribut-atribut tersebut. Memandang Tuhan lebih sebagai esensi daripada ‘Sebab Pertama’ dari realitas alam semesta.

Bila seseorang telah sampai pada makam ittihad, yakni kesatuan diri dengan Tuhan, ia akan menerima ilmu langsung secara vertikal, dalam bentuk ilham. Pengetahuannya datang langsung lewat pancaran Tuhan yang tampak dalam batinnya.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *