HTI dan PKI Mana yang Lebih Berbahaya?

HTI dan PKI

Pecihitam.org – Komunisme atau Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah dibubarkan, dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah hukum Indonesia. Namun beberapa tahun belakangan, isu-isu mengenai kebangkitan PKI kembali mengemuka bahkan isu ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Isu ini kebanyakan datang dari kelompok-kelompok yang mengatas namakan Islam salah satunya adalah HTI.

Isu PKI ini dihembuskan sebagai upaya agar pemerintah dianggap lemah dan masyarakat Islam tidak percaya kepada Negara. Hal ini karena, PKI bagi sebagian masyarakat adalah momok dengan rentetan peristiwa berdarah antara lain pemberontakan Madiun 1948, pembunuhan dan pembantaian Kiai, ulama dan santri.

Padahal HTI dan PKI ini sebetulnya sama-sama membahayakan, karena berhasrat mengubah ideologi negara, yakni Pancasila yang sudah disepakati oleh para “The Founding Fathers” kita dahulu.

Bedanya adalah, HTI mengusung simbol Islam atau slogan-slogan Islam, sehingga akan begitu mudahnya tumbuh dan berkembang di Indonesia, yang mayoritas berpenduduk Muslim. Sedangkan PKI menggunakan Ideologi komunis yang kebanyakan adalah atheis.

Baca Juga:  Selain Ubudiyah, Kajian Fikih Lingkungan Hidup Juga Harus Jadi Perhatian Umat

Dengan menggunakan merek Islam, masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam akan lebih mudah mendekat ke HTI, dibandingkan ke PKI. Secara tidak sadar, umat Muslim di Indonesia akan dengan mudah tergiur dan teracuni oleh ideologi HTI yang mengusung konsep Khilafah itu.

Pada dasarnya PKI ini sudah selesai karena sejak dibekukan pemerintah sejak 1948. Adapun isu kebangkitan PKI saat ini hanya dimanfaatkan demi kepentingan politik.

Mengutip hasil survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkait isu kebangkitan PKI pada 29/9/2017, dikatakan bahwa data 86,8 persen masyarakat tidak memercayai bahwa PKI sedang bangkit kembali. Hanya sekitar 12,6 saja masyarakat yang percaya.

Lebih jauh, survei SMRC juga menyebut lebih detil tentang profil warga yang percaya pada “sedang terjadi kebangkitan PKI” itu. Data-data menunjukkan bahwa opini tentang adanya kebangkitan PKI lebih banyak terdapat pada warga yang intens mengikuti berita di media massa, terutama internet dan koran.

Baca Juga:  Pesantren dan Masa Depan Moderasi Beragama di Indonesia

Mereka ini mayoritas adalah warga perkotaan dan berusia muda (di bawah 21 tahun hingga 25 tahun). Mereka juga mayoritas adalah berpendidikan tinggi, sejahtera. Sementara wilayah provinsi yang paling banyak terdapat opini kebangkitan PKI adalah di DKI Jakarta dan Banten.

Menilik hasil ini Syamsuddin Haris, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, berkomentar, “Isu kebangkitan PKI ini adalah isu dunia maya, bukan di dunia nyata. Ini sesuatu yang diada-adakan untuk kepentingan politik tertentu.”

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa opini kebangkitan PKI di masyarakat tidak terjadi secara alamiah, melainkan hasil mobilisasi opini kekuatan politik tertentu. Karena, bila keyakinan adanya kebangkitan PKI itu alamiah maka keyakinan itu akan ditemukan secara proporsional di antara semua eksponen politik.

Atas temuan survei SMRC tersebut Salim Said, guru besar ilmu politik Universitas Pertahanan, berkomentar, “Tidak ada perubahan sosial politik di Indonesia tanpa mobilisasi. Ini tentu saja dimobilisasi oleh elite. Pada akhirnya ini adalah permainan elite.” Salim Said sendiri dalam banyak kesempatan berulangkali menegaskan bahwa PKI dan ideologinya sudah bangkrut.

Baca Juga:  Sejauh Mana Hak Perempuan di Bidang Politik dalam Islam?

Kesimpulannya, HTI dan PKI keduanya sama-sama berbahaya karena mengusung ideologi yang mengancam persatuan bangsa. Bedanya, HTI juga menjanjikan surga dan mengancam neraka bagi yang menolak.

Keduanya sudah dibubarkan oleh pemerintah. Meski demikian, kita tetap harus waspada karena meski mereka sudah dibubarkan, orang-orangnya masih tetap eksis bahkan ada yang menjadi benalu dan menikmati fasilitas di Indonesia terutama HTI.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG