Kisah Seorang Majusi yang Meninggal Husnul Khotimah Berkat Sifat Murah Hati

Kisah Seorang Majusi yang Meninggal Husnul Khotimah Berkat Sifat Murah Hati

PECIHITAM.ORG – Sifat murah hati merupakan salah satu sifat mahmudah atau sifat terpuji yang sangat dianjurkan dan menempati derajat yang sangat istimewa di dalam Islam. Berikut kami kutipkan kisah Abdullah bin Mubarak dengan seorang Majusi bernama Bahram yang mana dia meninggal husnul khotimah berkat kemurahan hatinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kisah ini disebutkan oleh Syekh Al-Ushfuri dalam kitab Al-Mawa’idz Al-Ushfuriyah, kitab yang memuat 40 hadis beserta kisah-kisah penuh hikmah yang menarik itu.

Bersumber dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

السخي قريب من الناس وقريب من الجنة بعيد من النار والبخيل بعيد من الله بعيد من الخلق بعيد من الجنة قريب من النار والجاهل السخي أحب إلى الله تعالى من عالم بخيل

“Orang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang bodoh yang murah hati lebih disukai Allah Swt. daripada orang alim tapi kikir.”

Berikut selengkapnya kisah yang kami Sebutkan di bagian awal tadi.

Abdullah Ibnul Mubarak berkata, “Aku pergi haji pada suatu tahun. Ketika berada di Hijir Ismail, aku tertidur, kulihat dalam mimpi Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila engkau pulang ke Baghdad, mampirlah di tempat begini dan begini, carilah Bahram orang Majusi, sampaikanlah salamku, dan katakan bahwa Allah ridha kepadanya.”

Baca Juga:  Kisah Abu Nawas Mencari Neraka

Aku terbangun dan mengucapkan, “Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Suci dan Agung. Ini adalah mimpi setan.” Aku berwudhu, shalat, lalu bertawaf keliling Ka’bah. Aku tertidur dan kulihat lagi kejadian itu dalam tidur hingga tiga kali.

Seusai mengerjakan haji dan kembali ke Baghdad, kucari tempat dan rumah itu, kutemukan seorang tua lalu kukatakan, “Apakah engkau Bahram orang Majusi?” Ia menjawab, “Benar.”

“Apakah engkau punya kebaikan di sisi Allah?” Bahram menjawab, “Ya. Aku mempunyai empat putri dan empat putra, kukawinkan putri-putriku dengan putra-putraku. Aku berkata, “Ini adalah haram, apa engkau punya kebaikan selain itu?”

Bahram menjawab, “Ya. Aku mengadakan walimah bagi orang Majusi di waktu menganwinkan putri-putriku.” Aku berkata, “Ini juga haram, apa engkau punya selain itu?” Bahram menjawab, “Ya. Aku mempunyai seorang putri yang paling baik dan cantik dan aku tidak mendapatkan jodoh yang sepadan dengannya, kukawinkan dia dengan diriku dan kuadakan walimah pada malam itu dengan undangan lebih dari seribu orang Majusi.

Itu malam pertama aku bersetubuh dengan putriku.” Aku berkata, “Ini juga haram. Apakah engkau punya selain itu?” Bahram menjawab, “Ya.”

“Pada malam aku bersetubuh dengan putriku, datang seorang perempuan muslimah yang minta lampu dariku, kuberikan lampu kepadanya. Ia pulang dan memadamkannya.”

Baca Juga:  Salahudin Al-Ayyubi; Jenderal Perang dari Kerajaan Seljuk

“Perempuan itu datang hinga tiga kali, kunyalakan lampu, kemudian dipadamkannya.” Aku berkata dalam hatiku, “Barangkali ini mata-mata pencuri. Aku keluar mengikuti, ia masuk ke rumah menemui putri-putrinya.

Ketika masuk, anak-anaknya bertanya, “Wahai ibu, apakah engkau membawa makanan bagi kami, kami tidak tahan lapar.” Berlinanglah air mata ibu dan berkata, “Aku malu kepada Tuhanku untuk memeinta kepada seseorang selain daripada-Nya, khususnya dari musuh Allah, yaitu orang Majusi.”

Bahram berkata, “Tatkala mendengar percakapannya, aku pulang ke rumah mengambil piring serta mengisinya dengan macam-macam makanan. Aku pergi sendiri ke rumahnya.”

Abdullah Ibnul Mubarak berkata, “Ini adalah kebaikan dan ada kabar gembira bagimu.”

“Kuberitakan kepadanya tentang mimpi berjumpa dengan Rasulullah, kuceritakan kepadanya mimpi itu.”

Bahram mengucapkan dua kalimat syahadat lalu ia pun rebah dan mati seketika itu. Aku tidak meninggalkan Bahram, hingga aku memandikan, mengafani, menyalati, dan menguburkannya.

Setelah melihat keajaiaban itu, Abdullah Ibnu Mubarak berkaata, “Hai hamba-hamba Allah, bermurah hatilah terhadap makhluk Allah dengan sebaik-baiknya, karena ia bisa mengubah musuh menjadi kekasih.”

Demikianlah kisah Bahram, seorang Majusi yang merupakan musuh Allah, siapa sangka kemudian ia menjadi Kekasih Allah dan meninggal Husnul Khotimah? Jawabannya, karena ia memiliki sifat murah hati.

Karena hakikatnya murah hati itu adalah bagian dari surga yang diturunkan oleh Allah ke bumi. Karena murah hati ini berasal dari surga, maka ia akan menuntun orang yang memiliki sifat murah hati untuk menuju ke surga, sebagaimana sabda Nabi dalam salah satu hadisnya.

Baca Juga:  Ketika Tongkat Nabi Musa Berubah Menjadi Ular di Hadapan Fir'aun dan Tukang Sihir

السخاء شجرة في الجنة أغصانها متدليات في الدنيا من أخذ بغصن منها قاده إلى الجنة والبخل شجرة في النار أغصانها متدليات في الدنيا فمن أخذ بغصن منها قاده إلى النار

Murah hati adalah pohon yang ada di dalam surga yang ranting-rantingnya bergelayutan di dunia. Barangsiapa mengambil satu ranting darinya, maka ranting itu akan menuntunnya ke surga. Adapun kikir adalah pohon yang berada di neraka yang ranting-rantingnya bergelayutan di dunia. Barangsiapa yang mengambil satu ranting darinya, maka ranting itu akan menuntunnya ke neraka.

Faisol Abdurrahman