Ibadah Qurban, Taqarrub kepada Allah dan Wujud Keshalihan Sosial

Ibadah Qurban

Pecihitam.orgIbadah qurban memberikan banyak hikmah bagi umat Islam yang menjalankan. Di antaranya bisa adalah hikmah Vertikal dan hikmah Horizontal. Disebut hikmah Vertikal sebab ibadah ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan apa yang dimaksud dengan hikmah Horizontal adalah karena hasil daging hewan qurban dapat dinikmati oleh mereka yang membutuhkan. Rasa solidaritas dalam kehidupan sosial pun timbul dan menguat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Selain itu, ibadah qurban juga menimbulkan hikmah Sosial, Moral, dan Spiritual. Mengapa hikmah sosial? Sebab, ia mampu membangun keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Hikmah Moral juga tercipta sebab perintah berqurban mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya apa pun yang kita miliki di dunia hanyalah titipan Allah.

Islam membimbing kita untuk sadar bahwa harta yang dimilikinya ada hak orang lain, dan harus ditunaikan dengan cara mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah, wakaf, termasuk qurban. Sedangkan Hikmah Spiritual muncul disebabkan oleh kata “qurban” yang berasal dari kata: qaraba-yaqrobu-qurbaanan, yang berarti “dekat”. Qurban di sini diartikan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia melalui ibadah qurban.

Penjelasan tentang penyembelihan hewan qurban sebagai simbol dari penghilangan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia, seperti sifat rakus, tamak, serakah, dan mau menang sendiri pernah dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali. Beliau menjelaskan bahwa dengan berqurban, manusia diharapkan mamu membuang sifat-sifat kebinatangan yang dapat menimbulkan musibah dan bencana. Ibadah qurban mengandung 7 (tujuh) pesan moral yang berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Baca Juga:  Ibadah Kurban dan Solidaritas Kemanusiaan

Pertama, Kepada para Pemimpin.

Pesan ini ditujukan pada para pemimpin yang semestinya berqurban lebih dulu. Para pemimpin bisa berqurban disertai dengan menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada mereka. Harapannya, ibadah qurban mampu mengingatkan kepada para pemimpin bahwa hanya dengan menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri sendiri, maka seorang manusia akan bermartabat di hadapan Allah dan terhormat di mata manusia.

Kedua, Kepada Para Pengusaha dan Pedagang.

Qurban bagi para pedagang bertujuan untuk menyembelih sifat-sifat curang dan tidak jujur. Sebagai misal, perilaku seperti mengurangi timbangan, curang dalam takaran, menipu dan memperdaya pembeli. Dengan berqurban, para pengusaha dan pedagang diharapkan agar bisa jujur sehingga mampu menjadi tiang tegaknya ekonomi Islam. Selain itu, para pengusaha dan pedagang juga dilarang meminjamkan uang dengan maksud mengambil bunganya sebab termasuk perbuatan riba yang dilarang Allah.

Baca Juga:  Ketentuan Pembagian Daging Kurban Menurut Kitab Bidayah al-Mujtahid

Ketiga, Kepada Para Aparat Penegak Hukum (Hakim, Jaksa, Pengacara, dan Polisi).

Para penegak hukum berqurban dengan menyembelih keinginan untuk menjual-belikan hukum, hindari mafia peradilan dan mafia kasus. Qurban para penegak hukum bertujuan untuk menjauhkan diri dari perilaku menyuap dan disuap. Menjunjung tinggi keadilan, menjadikan hukum sebagai pertimbangan yang sehat. Selain itu, mereka harus mampu mengasah kejujuran terus-menerus.

Keempat, Kepada Para Dosen, Guru, dan Para Pendidik lainnya.

Kesungguhan melahirkan generasi yang cerdas merupakan tujuan qurban para pendidik. Integrasi antara kecerdasan akal dan kecerdasan hati mesti diciptakan para pendidik dengan cara yang benar. Cara-cara mendidik yang tidak disukai Allah sudah semestinya hilang ketika berqurban. Ilmu yang bermanfaat selalu diperoleh dalam kebaikan.

Kelima, Kepada Orang Tua.

Khusus kepada Orang Tua, dalam berqurban harus menjadikan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar sebagai suri tauladan dalam pengorbanan anak semata wayangnya, Ismail AS yang dia rindukan bertahun-tahun kehadirannya, dia qurbankan karena kecintaan dan keta’atan kepada Allah SWT di atas segala-galanya. Maka dari itu, orang tua harus memberikan anak-anaknya pendidikan agama dan pergaulan terbaik, ajarkan kepada mereka mengenal Allah dan mencintai Allah.

Baca Juga:  Hukum Panitia Qurban Mengambil Jatah Daging, Bolehkah?


Keenam, Kepada Anak-anak.

Qurban kepada anak-anak mesti menjadikan Nabi Ismail AS sebagai teladan dalam keta’atan kepada perintah Allah serta penghormatan kepada kedua orang tua. Saat Nabi Ibrahim meminta pendapat putranya, Ismail AS, bahwa Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengurbankan Ismail, Ismail menjawab: Ya Abatif’al maa tu’mar satajidunii insya Allah min al-shabirin, Wahai ayahku sayang, kerjakan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau mendapati-ku termasuk anak yang sabar.

Ketujuh, Kepada Kita Semua.

Umat Islam di seluruh penjuru dunia harus melakukan qurban nikmatnya tidur di malam hari dengan sholat malam dan shalat subuh berjamaah serta manisnya harta dengan mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah, dan memotong hewan qurban. Selain itu, qurbankan juga empuknya jabatan dengan melayani umat. Qurban mesti bisa membuat kita menjadikan semua yang kita miliki sebagai alat mendekat kepada Allah SWT.

Ibadah qurban tak hanya sekadar menyembelih hewan. Sebagai umat Islam yang baik, hikmah dalam berqurban akan sangat rugi jika tidak kita praktikkan setelah ibadah qurban selesai dilaksanakan.

Habib Mucharror

Leave a Reply

Your email address will not be published.