Ibnu Batutah Penjelajah Muslim Terhebat Sepanjang Masa

penjelajah muslim

Pecihitam.org – Selama ini kita hanya mengenal penjelajah-penjelajah dari negeri barat seperti Marcopolo, Vasco da Gamma, hingga Bartolomeus Diaz. Selain penjelajah dari barat, kita juga mengenal sangat baik salah satu penjelajah besar dari Tiongkok bernama Laksamana Chengho yang sempat mendarat di Indonesia selama beberapa saat untuk menjalin kerja sama dengan penduduk lokal terutama di kawasan utara Jawa.

Nah, selain penjelajah di atas, ternyata masih ada lagi satu penjelajah hebat yang berasal dari Timur Tengah dan dia seorang Muslim. Dia adalah Ibnu Batutah yang berhasil mengelilingi puluhan negara pada abad ke-13 M untuk menjalankan misi syiar agama dan juga perdagangan.

Kisah dari Ibnu Batutah yang patut kita teladani, dimana masa mudanya dia habiskan dalam perjalanan mengelilingi dunia bahkan dari benua satu ke benua yang lain. Belum ada yang bisa menandingi kehebatan penjelajah muslim yang satu ini, bahkan penjelajah barat sekalipun. Karena ketika digabungkan jumlah perjalanan Ibnu Batutah kurang lebih 120.000 Kilometer.

Ibnu Batutah lahir di Tanger, Maroko 24 Februari 1304 M atau 703 H. Pada asa itu Maroko sedang dikuasai oleh Dinasti Mariniah. Nama lengkapnya ialah Muhammad Abu Abdullah bin Muhammad Al Lawati Al- Tanjawi yang kemudian dikenal dengan Ibnu Batutah. Ibnu Batutah lahir dari keturunan Bangsa Barbar, ia besar dilingkungan keluarga yag taat memelihara tradisi Islam.

Baca Juga:  Cak Nun; Cendekiawan dan Budayawan yang Aktif Berdakwah Lewat Buku

Ibnu Batutah adalah seseorang yang giat belajar Fiqih, dia belajar dari pakarnya langsung yang kebanyakan dari mereka adalah Qadhi atau Hakim, beliau juga mempelajari sastra dan Syair Arab. Saat muda Ibnu Batutah mendapatkan pendidikan terbaik karena memiliki ayah seorang hakim.

Dari sini, dia belajar banyak hal baru sehingga rasa penasarannya akan kebudayaan baru di seluruh dunia mulai tumbuh. Saat dirinya mulai yakin dan merasa mampu melakukan perjalanan, Ibnu Batutah mulai melakukan penjelajahan meski harus meninggalkan keluarga termasuk anak dan istrinya.

Pada saat usianya mencapai 20 tahun, dia mulai terobsesi untuk mengelilingi dunia. Dengan kemampuan yang dimiliki, Ibnu Batutah melangsungkan perjalanannya untuk naik haji di Mekah. Dari sanalah dimulai perjalanan ke wilayah-wilayah yang tidak pernah dibayangkannya.

Beliau telah menjelajahi daratan dan mengarungi samudra demi tugas yang mulia sampai kemudian beliau melintasi sekitar 44 negara selama kurang lebih 30 tahun. Yaitu dari tahun 1325 hingga 1354. Dari beberapa catatan sejarah, Ibnu Batutah melakukan perjalanan di 44 negara di seluruh dunia.

Baca Juga:  Jabir bin Hayyan, Ahli Kimia yang Pertama Kali Mendapat Gelar Sufi

Di kawasan itu, dia melakukan pendekatan baik secara budaya maupun agama untuk mempelajari apa saja yang ada. Ibnu Batutah menginginkan sesuatu yang baru sehingga mengunjungi negeri yang baru adalah impiannya.

Negara yang pernah dijelajahi oleh Ibnu Batutah meliputi Tiongkok, India, Rusia, Suriah, Tanzania, Turki, Negara Jazirah Arab, dan Indonesia khususnya kawasan Samudra Pasai sekarang Aceh yang kala itu sudah memeluk Islam. Di Samudra Pasai (Ibnu Batutah pernah salah menyebutnya Jawa pada catatannya), Ibnu Batutah melakukan perdagangan terutama rempah-rempah yang sangat berharga dan bernilai jual tinggi.

Selama melakukan perjalanan ke 44 negara di dunia, Ibnu banyak melakukan siar agama Islam. Di negara-negara yang penduduknya masih belum beragama Islam, dia melakukan perdagangan atau kerja sama di bidang lain dengan memasukkan unsur Islam meski tidak secara langsung.

Ibnu Batutah ingin apa yang dia miliki dipelajari oleh kawasan yang disinggahi dan dia ingin mempelajari juga budaya di daerah tersebut yang sesuai dengan keyakinannya. Kisah Perjalanan Ibnu Batutah sang penjelajah Muslim ini akhirnya banyak jadi rujukan para penjelajah Eropa.

Baca Juga:  Biografi Syekh Zainuddin Al Malibari Pengarang Fathul Muin

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 30 tahun, Ibnu Batutah akhirnya kembali lagi ke Maroko. Mengetahui ada salah satu warganya yang melakukan perjalanan panjang, Sultan Fez memerintahkan juru tulis bernama Ibnu Juzai untuk menulis kisahnya. Ibnu Batutah diminta menceritakan apa yang dilakukan selama penjelajahan untuk dibuatkan laporan penjelajahan.

Kisah perjalanan Ibnu Batutah dibuat buku dan menjadi buku legendaris yang berjudul Tuhfat al Nuzzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ‘Aja’ib al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-kota Asing dan perjalanan yang mengagumkan).

*Diolah dari berbagai sumber

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG