Ini Penjelasan Tentang Maksud Niat Menyertai Setiap Ibadah

Ini Penjelasan Tentang Maksud Niat Menyertai Setiap Ibadah

PeciHitam.org – Niat, merupakan sesuatu yang harus ada dalam setiap tindakan manusia, terutama dalam hal Ibadah. Untuk itu, tidak heran jika Islam juga mensyariatkan melakukan niat untuk menyertai sebuah ibadah. Maksud utama disyariatkannya niat menyertai setiap ibadah, adalah, Pertama : Untuk membedakan antara ibadah dan pekerjaan/perbuatan biasa, misalnya antara mandi biasa yang kita lakukan setiap hari, dengan mandi junub. Yang membedakannya adalah niat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Karena itu, amalan ibadah yang tidak serupa dengan amalan biasa, tidak disyaratkan niat, seperti : Iman; Untuk Iman ini tidak perlu harus niat, sebab tidak ada perbuatan sehari-hari yang menyerupainya. Begitu pula, ibadah yang berupa meninggalkan perbuatan yang dilarang, seperti meninggalkan zina, meninggalkan minum arak dan sebagainya, menurut sebagian Ulama tidak diwajibkan niat, sedangkan sebagian ulama lain, tetap mewajibkannya, namun mereka sepakat tentang Sunnahnya niat dalam hal ini,

Kedua : Untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain, Niat sajalah yang membedakan antara mandi untuk menghadiri Jumatan dengan mandi karena akan ihram. (Moh. Adib Bisri, terjemah al-Fara Idul Bahiyyah, Menara Kudus, 1977 M, hal. 5).

Baca Juga:  Penting! Inilah 3 Rukun Puasa yang Harus Kamu Ketahui

Dalam pada itu, niat pada setiap ibadah mempunyai maksud-maksud tertentu sesuai dengan ibadah yang diniatinya, misalnya :

  1. Wudhu: maksud niat adalah untuk menghilangkan hadas, yakni sesuatu yang menjadi sebab haramnya melakukan shalat dan sebagainya.
  2. Shalat: niat dimaksudkan untuk memasuki amalan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
  3. Haji: niat berarti memasuki suasana, di mana hal-hal yang sebelumnya dihalalkan, setelah niat menjadi haram.
  4. Puasa: niat dimaksudkan untuk imsak di waktu siang hari.
  5. Zakat: niat untuk mengeluarkan sebagian daripada harta kekayaan.

Lafaz qashd dalam bahasa arabnya mempunyai arti, keinginan, maksud, arah, tujuan, dapat berarti jalan yang lurus atau berpegang dengan arah dan tujuan ( Umar Sulaiman al-Asyqar, Fiqih Niat. hlm. 1). Niat adalah tujuan seseorang dengan hatinya terhadap sesuatu yang dia kehendaki untuk dikerjakannya. Tujuan dan keinginan merupakan bagian dari niat. Imam Haramain mengkhususkan penggunaan al-A‟zm (keinginan), bahwa keinginan hanya bisa diterapkan untuk suatu pekerjaan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang, sedangkan tujuan untuk pekerjaan yang sedang benar-benar dikerjakan.

Niat wajib diiringi dengan suatu perbuatan dan tidak boleh mendahului perbuatan tersebut, sedangkan keinginan (al-A‟zm) terkadang beriringan dengan perbuatan terkadang mendahului perbuatan tersebut.

Baca Juga:  Puasa Syaban, Dalil Kesunnahan dan Niatnya

Salah satu perkara yang menunjukan akan pentingnya niat dalam pelaksanaan ibadah dan perbuatan adalah bahwa perbuatan-perbuatan yang bersifat ikhtiyari tidak akan dilakukan oleh manusia tanpa didahului dengan keinginan untuk melakukan perbuatan tersebut.

Ibnu Hamma mengatakan bahwa setiap perbuatan yang bersifat ikhtiyari haruslah dilakukan dengan niat. Sementara Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa, “Berniat untuk suatu perbuatan adalah sesuatu yang sangat penting bagi jiwa, seandainya setiap hamba dibebani untuk melaksanakan suatu perbuatan tanpa niat, sesungguhnya mereka telah dibebani dengan sesuatu yang tidak akan dapat mereka kerjakan” (Umar Sulaiman al-Asyqar, Fiqih Niat. hlm. 45).

Niat sangat berpengaruh terhadap suatu perbuatan, suatu perbuatan yang bentuknya terkadang menjadi haram dengan niat, dan dapat pula menjadi halal dengan niat. Seperti menyembelih binatang ternak, jika penyembelihannya dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka hukumnya halal, akan tetapi bila dilakukan untuk selain Allah SWT maka hukumnya haram. Dengan demikian berdasarkan hadis Niat bahwa diterima atau tidaknya suatu amal ibadah sangat bergantung pada niatnya.

Baca Juga:  Shalat Tarawih dan Melerai Perbedaan Jumlah Rakaatnya

Kedudukan niat sangat menentukan kualitas ibadah dan hasil yang akan diperolehnya dari ibadah tersebut, karena niat itu ibarat jiwa perbuatan, pedoman, dan kemudinya. Melihat pentingnya arti sebuah niat, mayoritas ulama mewajibkan adanya niat dalam beribadah. Adapun dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan juga diharuskan memakai niat jika dimaksudkan untuk mendapat keridaan Allah SWT atau untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Begitulah pentingnya Niat Menyertai Setiap Ibadah bagi kita semua. Karena tanpa niat, tentu saja kita tidak akan dengan sukarela dan sadar menjalaninya bukan.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.