Inilah 9 Tradisi dan Amaliyah NU yang Umum di Masyarakat

tradisi amaliyah NU

Pecihitam.org – NU (Nahdlatul Ulama) memang ormas Islam yang terkenal dengan berbagai amalan yang sering dilakukan secara berjamaah. Tradisi pewarisannya bisa dibilang cukup panjang yaitu dari generasi ke gemerasi. Kadangkala banyak juga yang mempertanyakan keabsahan tradisi dan amaliyah NU ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pesan KH Jamaluddin Ahmad, pengasuh PP Tambak Beras Jombang menanggapi santernya tuduhan dari berbagai kalangan yang menanyakan tentang keabsahan amaliyah yang selama ini kental dilakukan oleh para Nahdliyyin. “Kita amalkan saja,yang penting kita punya pegangan.Tidak usah kita dengarkan mereka”. Kata beliau.

Berikut setidaknya ringkas sembilan tradisi NU yang umum dilakukan dimasyarakat Nadhiyin:

1. Tahlilan

Tahlilan adalah salah satu cirikhas kaum NU. Bahkan banyak yang bilang untuk mengetahui seseorang NU atau bukan, cukup dilihat dari apakah seseorang itu ikut kegiatan tahlilan apa tidak.

Tahlilan sendiri merupakan sebuah kegitan yang dilakukan oleh kalangan NU secara berjamaah, walaupun juga bisa dilakukan sendirian. Tahlilan sendiri berisi pembacaan dzikir, tasbih, ayat Quran tahlil, tahmid dan lain sebagainya. Biasanya acara ini diselenggarakan dalam berbagai momentum kalangan NU. Yang paling banyak adalah ketika mendoakan seseorang yang sudah meninggal. Biasanya dilakukan pada malam hari pertama sampai malam ke-40 berlanjut terus hari ke 100,1000 dan haul tiap tahunnya. Ada juga yang dilakukan secara rutinan di masyarakat setiap malam jumat.

Baca Juga:  Tadarus, Tradisi Membaca Al-Quran Secara Bergantian Selama Bulan Ramadhan

2. Ziarah Kubur

Warga NU akrab sekali dengan budaya ziarah kubur. Mendatangi makam para auliya, ulama atau leluhur sembari membaca berbagai doa disana. Dan jangan dimaknai kaum NU berdoa kepada kuburan. Tapi melalui para orang-orang shalih yang telah meninggal, mereka merasa lebih dekat dengan yang Maha Kuasa dan mengingatkan mereka bahwa kehidupan pada hakikatnya adalah fana dan tidak kekal.

Khusus ziarah makam para wali sudah menjadi tradisi dan bahkan sekarang sangat ramai sekali pengunjungnya. Biasanya ini dilakukan secara rombongan. Ziarah ke makam para leluhur hampir tiap hari raya Idhul Fitri dan hari-hari tertentu yang menjadi budaya mapan dikalangan warga NU.

3. Maulid Nabi

Untuk menunjukan kecintaannya pada Nabi Muhammad SAW, paling tidak pada bulan kelahiran Nabi yaitu bulan Robiul Awwal banyak sekali kegiatan bernuansa keagamaan dalam berbagai bentuk. Ada Maulid Diba’, Barzanji, pengajian dan lain sebagainya dalam rangka merayakan Maulid Nabi.

Oleh kelompok-kelompok tertentu, kegiatan ini banyak dihujat karena dianggap tidak memiliki dassar yang kukuh atau tidak pernah nabi laksankan semasa hidupnya.

4. Istighotsah

Istighotsah memiliki arti memohon pertolongan kepada Allah SWT. Oleh warga NU biasanya dilaksanakan bersama-sama dalam satu majlis. PBNU juga pernah melaksanakan istighosah dalam skala besar atau istilahnya istighosah kubro baik tingkat daerah maupun tingkat Nasional.

Baca Juga:  Inilah Jenis-Jenis Sekolah Islam yang Dibangun Oleh Para Pembaharu Islam

5. Qunut

Cobalah anda shalat subuh disuatu tempat. Bila jamaah dalam tempat tersebut membaca doa qunut dapat dipastikan itu adalah warga NU. Namun sebenarnya Qunut itu dibagi menjadi 3:

  1. Qunut Shubuh: Imam Syafii menyatakan bahwa qunut subuh dibaca berdasarkan hadits dari Anas bin Malik.
  2. Qunut Nazilah: Qunut ini dibaca warga ketika sedang menghadapi kesudahan baik wabah penyakit, tantangan, bencana dan lain sebagainya.
  3. Quntut Witir : Qunut ini baca pada rakaat terakhir dalam shalat witir pada malam ke 16-30 pada bulan Romadhon.

6. Talqin Mayit

Talqin mayit adalah tradisi amaliyah NU disaat ada saudaranya yang meninggal dunia.Talqin berasal dari Bahasa Arab yang artinya memahamkan atau mengingatkan. Talqin biasnya dibacakan dalam bahasa arab tapi sering juga dibacakan dalam Bahasa Jawa.

Adapun tatacaranya orang yang menalqin berposisis duduk dihadapan kepala mayit. Sedangkan para hadirin hendaknya berdiri, lalu salah seorang yang biasanya menjadi pemua agama mulai membacakan talqin bagi si mayit.

7. Adzan 2 Kali dalam Shalat Jumat

Setiap menjelang sholat Jumat dimasjid-masjid NU, ada seorang laki-laki yang berdiri sambil memegang tongkat. Setelah membacakan hadits Nabi yang berisi anjuran kepada para Jama’ah dan kemudian dilakukan adzan yang kedua kalinya.
Praktek semcam ini meniru pada zaman Sahabat Utsman dan praktik semacam ini sama dengan yang dipraktikan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

8. Tingkepan (Doa tujuh bulan kehamilan)

Acara ini berbentuk pembacaan doa dan pemberian sedekah dalam rangka tujuh bulan masa kehamilan seorang wanita. Dan biasanya disela-sela acara dibacakan surat Yusuf dan surat Maryam, dengan harapan agar anaknya akan lahir seganteng Nabi Yusuf dan secantik Siti Maryam.

Baca Juga:  Imam Ibnu Muflih; Tradisi dalam Masyarakat Bukan Bid'ah, Ini Contoh dan Penjelasannya

9. Merujuk Kitab Kuning

Dan ini tradisi amaliyah NU yang paling penting, selain pada Al-Quran dan Hadits, warga NU selalu berpegangan pada ulama salaf baik melalui kyai maupun merujuk pada kitab kuning yang dianggap standard oleh para Ulama NU. Kitab kuning ini biasanya ditulis dalam bahasa arab dan biasanya berbentuk tulisan arab tanpa harakat (gundul).

Ini tidak lain karena tradisi para intelektual NU yang selalu berpegangan pada sanad yang jelas serta kehati-hatian yang tinggi. Semua itu supaya pemahaman agamanya tidak melenceng dari apa yang telah digariskan oleh para salafus shalih yang sanadnya jelas tersambung hingga Nabi Muhammad SAW.

Itulah tradisi amalan NU yang umum dilakukan dimasyarakat. Bagi kita warga Nahdliyin jangan pernah ragu jangan pernah gentar untuk mengaku sebagai warga NU. Selain dibimbing oleh kyai-kyai yang mumpuni, panutan kita ulama-ulama NU memiliki sanad yang jelas tersambung sampai Rasulullah SAW sehingga amaliyah kita terjaga kemurniannya. Wallahu’alam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.