Walaupun Ayahnya Seorang Nabi, Tapi Anaknya Durhaka, Inilah Kisah Kan’an!

Walaupun Ayahnya Seorang Nabi, Tapi Anaknya Durhaka, Inilah Kisah Kan'an

Pecihitam.org – Tulisan ini akan mengungkap kisah Kan’an. Walaupun anak Nabi Nuh yang seorang rasul pilihan Allah, ternyata ia durhaka dan tidak mau menyembah Allah. Kan’an adalah anak pertama dari empat bersaudara. Adik-adiknya bernama Yafith, Sam dan Ham.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam Sirah Nabawiyah, diceritakan Nabi Nuh merupakan keturunan ke-10 dari Nabi Adam alaihissalam yang berasal dari wilayah Armenia. Beliau tergolong salah satu utusan Allah SWT yang dikatagorikan dalam kelompok Ulul Azmi.

Kemudian Nuh diutus untuk menyadarkan umatnya yang durhaka dan menyekutukan Allah. Pada zaman Nabi Nuh, banyak manusia yang tidak mau taat kepada Allah, justru berpaling dari-Nya. Mereka terbiasa dengan menyembah patung-patung berhala yang mereka ciptakan sendiri.

Akan tetapi dengan modal keyakinan, dan kewajiban Nabi Nuh tetap berkeinginan untuk menyadarkan kaumnya yang telah tersesat jauh dari kebenaran.

Malangnya, mereka tidak mau menerima ajakan baik Nabi Nuh. Malah yang terjadi, Nabi Nuh dicaci maki, diejek dan ditertawakan.

Setiap kali Nabi Nuh menyampaikan peringatan dari Allah, mereka pura-pura tidak mendengar, menutup telinga rapat-rapat, bahkan, mereka tidak segan-segan menantang Allah dengan meminta datangnya azab kalau memang ajakan Nabi Nuh tersebut benar.

Dari ajakan tersebut, hanya dapat sedikit orang yang mau mendengarkan seruannya. Alangkah malangnya istri yanga ia cintai dan anak yang ia sayangi yang bernama Kan’an malah mendustakan ajaran yang dibawanya.

Nabi Nuh pun merasa lelah untuk menyadarkan kaumnya, tetapi mereka tetap tidak mau mendengarkannya. Kemudian, Nabi Nuh meminta kepada Allah untuk menurunkan azab kepada mereka.

Baca Juga:  Pengaruh Ilmu Shalahuddin Al Ayyubi Hingga ke Nusantara dan Seluruh Dunia Islam


وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS. Hud ayat 40)

Kisah Nabi Nuh dengan Kan’an serta orang-orang ingkar lainnya berlanjut. Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk membuat sebuah kapal besar di atas gunung. Justru kaum nya mengaggap Nabi Nuh gila, karena membuat kapal di atas gunung. Padahal saat itu adalah waktu musim panas.

Setelah kapal itu dikerjakan pada akhirnya selesai dibuat selama 40 tahun lamanya. Pada saat itupun Nabi Nuh memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menaiki kapal tersebut.

 وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Nuh berkata,”Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Hud ayat 40)

Orang-orang yang beriman segera menaiki perahu tersebut, tidak ketinggalan pula burung-burung dan binatang-binatang berpasang-pasangan. Mulailah air keluar dengan deras dari celah-celah bumi.

Sementara dari langit turun hujan yang sangat deras. Nabi Nuh bersama orang-orang yang beriman di dalam perahu hanya bisa pasrah kepada Allah melihat dan menunggu detik-detik tenggelamnya bumi.

Orang-orang kafir mulai kebingungan mencari tempat perlindungan dari air yang semakin lama-semakin dalam, sebagian mereka tewas terseret arus, sebagian lain tenggelam akibat tingginya air.

Di saat perahu mulai berlayar, Kan’an, terlihat oleh Nabi Nuh. Ia ingin menyelamatkan diri dengan berenang menuju puncak sebuah gunung yang belum terjamah air. Kan’an yakin air tidak mungkin sampai puncak gunung.

Baca Juga:  Kemaksuman Nabi Muhammad: Kisah Nabi Muhammad yang Terjaga dari Kemaksiatan

Setelah air sudah menutupi bumi, naluri kasih sayang seorang ayah membuat Nabi Nuh berusaha keras membujuk dan merayu anaknya agar mau naik perahu bersamanya.
Lalu memanggilnya,

يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Kan’an anakku! Naiklah ke perahu bersama kami! Janganlah kau mati bersama-sama orang yang kafir!”. (QS. Hud ayat 42)

Kan’an menjawab,

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ

“Tidak Ayah, Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah Yang Maha Penyayang”. (QS. Hud ayat 43)

Belum selesai pembicaraan antara ayah dan anaknya, tiba-tiba datang gelombang besar yang menjadi penghalang antara keduanya. Kan’an hilang dari pandangan Nabi Nuh. Sungguh akhir kisah Kan’an sangat tragis.

Sebagai seorang ayah meskipun anaknya telah ingkar dengan ajarannya, namun Nabi Nuh tetap berusaha mencarinya. Akan tetapi beliau tidak menemukan selain ombak yang semakin tinggi.

Sehingga beliau merasa sedih atas kehilangan anak yang dicintainya. Seluruh permukaan bumi tenggelam, semua manusia mati kecuali yang tersisa dalam perahu.

Kemudian perahu mengapung di atas permukaan air yang tidak kunjung surut. Hingga akhirnya datanglah perintah Allah agar bumi dan langit tidak mengeluarkan air lagi.

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Baca Juga:  Kisah Cinta Sayyidina Ali Dan Fatimah Az Zahra (Cinta Dalam Diam)

“Dan difirmankan, “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. (QS. Hud ayat 44)

Begitulah kisah singkat Kan’an. Walaupun ayahnya seorang nabi, ia ingkar kepadanya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini bahwa masalah hidayah itu adalah mutlak kehendak Allah.

Walaupun terhadap orang yang kita sayangi, jika Allah tidak menghendaki, maka ia tidak akan mendapatkan petunjuk. Ini pulalah yang terjadi pada sosok Abu Lahab, salah seorang paman nabi.

Subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (AS. Al Qashash ayat 56)

Faisol Abdurrahman