Kisah Wali Allah yang Gemar Minuman Keras dan Pelacur

kisah wali Allah

Pecihitam.org – Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhary dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV. Di dalam buku hariannya, Sultan Turki Murad IV menceritakan, bahwa suatu malam dia merasakan kegalauan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sultan berkata kepada kepala pengawal: “Mari kita keluar sejenak.”

Salah satu kebiasaan Sultan Murad adalah keluar istana di malam hari untuk melihat rakyatnya dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit.

Tiba-tiba, sang Sultan dan pengawalnya melihat seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Setelah mengeceknya dengan seksama, ternyata laki-laki itu telah meninggal. Namun orang-orang yang berjalan lalu lalang di sekitarnya tak satupun yang mempedulikannya.

Sultan lalu memanggil orang-orang. Mereka tak menyadari jika yang memanggil itu adalah Sultan. Mereka bertanya,
“Apa yang kau inginkan?

Sultan menjawab: “Kenapa laki-laki ini meninggal namun tak ada satu pun dari kalian yang mau mengurus jenazahnya?
Siapa dia? Di mana keluarganya?”

Baca Juga:  Cara Tokoh NU Dalam Mendidik Anaknya - Kisah KH Wahid Hasyim

Ora-orang berkata: “Orang ini Zindiq, ia gemar minum-minuman keras dan berzina.!”

Sultan menimpali, “Namun, bukankah ia juga termasuk umat Rasulullah SAW? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya”

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Mereka yang mengangkat jenazahnya langsung pergi begitu saja, tinggallah Sultan Murad dan pengawalnya.

Sambil menangis sang istri berucap kepada jenazah sang suami, “Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah. Aku istrimu bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang shalih.”

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget. “Bagaimana bisa dia seorang wali Allah sedangkan orang-orang membicarakan tentangnya begini dan begitu, hinnga mereka tidak peduli akan kematiannya.?”

Sang istri menjawab: “Sudah kuduga pasti akan begini…”

“Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Lalu minuman-minuman tersebut ia bawa ke rumah dan ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil ia berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin.”

Baca Juga:  Penuh Makna, Ini Nasihat Seorang Kyai Sepuh Kepada Para Santri

“Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”

“Setelah itu ia kembali ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.”

“Mereka orang-orang hanya melihatnya bahwa ia selalu membeli minuman keras dan menemui pelacur, kemudian mereka menuduhnya dengan tuduhan buruk dan menjadikannya buah bibir.”

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku, “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”

Ia hanya tertawa, dan berkata, “Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Wali.”

Mendengar itu semua, sang Sultan seketika menangis, dan berkata: “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatkannya dan menguburkannya.”

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para Ulama, para Wali Allah dan seluruh masyarakat.

Baca Juga:  Kisah Abu Nawas Dan Teras Reotnya Yang Bisa Bertasbih

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah jangan suka menilai orang lain dari sisi lahiriahnya saja atau menilainya berdasarkan ucapan orang lain. Sebab terlalu banyak yang tidak kita ketahui tentang seseorang, apalagi hal-hal yang tersimpan di dalam lubuk hatinya.

Kedepankan prasangka baik terhadap saudaramu. Boleh jadi orang yang selama ini kita anggap sebagai calon penduduk neraka, ternyata adalah penghuni Surga. Berhentilah berprasangka buruk, dan menggunjing seseorang sekalipun orang itu terlihat tidak baik. Sebab kita belum tentu lebih baik dari orang yang kita sangka hina.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.