Ismail al Jazari, Imuwan Muslim Ahli Robotika Abad Pertengahan

ismail al-jazari

Pecihitam.org – Tidak banyak yang tahu, ilmuwan muslim ternyata punya peran penting dalam perkembangan teknologi robotika dan mekanika modern. Meski sejarah mencatat Leonardo da Vinci dari Italia, sebagai penemu alat-alat mekanika yang cemerlang dan maju di era 1500-an.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun, sesungguhnya, penemuan Leonardo tidak bisa lepas dari karya seorang muslim yang lebih dulu mengenalkan pada dunia mengenai mekanika modern. Sosok ini sudah berkarya di bidang yang sama pada 350 tahun sebelum lahirnya Leonardo.

Ilmuwan ini bernama Ismail Al-Jazari. Pria asal Anatolia (kawasan Asia Timur) dikenal berkat penemuan canggihnya di bidang science, termasuk menjadi pelopor sekaligus pengembang robotika pada abad pertengahan.

Daftar Pembahasan:

Ismail al-Jazari dan Karyanya

Ismail al-Jazari lahir pada tahun 1136 Masehi di sebuah wilayah di antara Sungai Tigris dan Eufrat, atau dulu dikenal dengan nama Mesopotamia (Irak), dan wafat pada 1206 Masehi. Hidupnya bertepatan dengan era keemasan Islam dan ia salah satu penyumbang kejayaan yang kerap dibangga-banggakan umat muslim tersebut.

Hanya sedikit catatan mengenai kehidupan Ismail al-Jazari. Ia menjalani karier pada abad ke-12 dan 13 sebagai kepala insinyur di Istana Artuku di daerah Diyarbakir (kekuasaan Dinasti Artuqid), penguasa timur Anatolia dan Jazira yang kini menjadi wilayah Turki.

Seorang Insinyur asal Inggris, Donald Routledge Hill, menggambarkan sosok Ismail al-Jazari dalam “Dictionary of Scientific Biography” sebagai bagian dalam tradisi perajin sehingga lebih tepat dikategorikan insinyur praktis ketimbang penemu orisinal.”

Menurut Hill, al-Jazari muncul sebagai orang yang tertarik pada pekerjaan tangan yang dibutuhkan untuk membangun perangkat dibanding berkutat secara teoritis atas teknologi seperti apa yang ada di dalamnya..

Sejumlah perangkat yang diciptakan pada awal kariernya terinspirasi dari penemuan sebelumnya. Misalnya, saat al Jazari memperoleh inspirasi jam air dari teori Archimedes. Al Jazari juga menyebutkan karya air mancurnya terpengaruh oleh tiga ilmuwan muslim lain yang tinggal di Baghdad bernama Banu Musa Bersaudara.

Baca Juga:  Ahmad Amin, Ulama dan Sastrawan Mesir dengan Pemikiran Kontroversinya

Kemudian jam lilinnya terpengaruh temuan akademisi keturunan Persia, al-Saghani. Sedangkan alat musik automata-nya terinspirasi dari karya Habitullah ibn al-Husayn.

Meski demikian, Ismail al-Jazari mampu menyulap setiap inspirasi dari para pendahulunya menjadi beragam alat yang secara prinsip mendasari bidang mekanika modern dan terus dikaji serta dikembangkan oleh para akademisi dan insinyur lain hingga 800 tahun setelah kematiannya.

Sebagaimana kisah-kisah sang penemu, perangkat mekanika yang diciptakan al-Jaziri lahir dari proses trial error yang terus-menerus. Konsistensi dan usahanya terbilang sangat tinggi. Karena di akhir hayatnya ia berhassil menciptakan kurang lebih 174 gambar perangkat mekanis (ashkal) dan 80 di antaranya terdiri beragam jenis rancangan mesin sekaligus instruksi pembuatannya (blue print).

Semua rancangan tersebut tertuang dalam karya buku al-Jaziri paling masyhur berjudul Kitab Fimarifat al-Hiyal al-Handasiyya yang ia rampungkan pada 1206 M.

Pada tahun 1974 Donald R. Hill kemudian menterjemahkan buku tersebut dengan judul The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices.

Judul asli buku itu adalah al-Jamibayn al-ilm wa ‘l-amal al-nafifi sinaat al-hiyal atau “A Compendium on the Theory and Useful Practice of the Mechanical Arts”.

50-an jenis rancangan perangkat yang lahir dari tangan al-Jaziri dijelaskan secara lengkap dalam buku tersebut. Al Jazari membaginya dalam enam kategori:

  • 10 jam air dan lilin.
  • 10 bejana air dan bagian khusus untuk minum.
  • 10 kendi dan baskom untuk prosedur operasi darah dan berwudu sebelum shalat.
  • 10 air mancur yang bisa berubah bentuknya secara periodik dan mesin untuk seruling angin abadi.
  • 5 mesin pengangkat sekaligus pemeliharaan air, dan perangkat mekanik lain-lain.

Masing-masing gambar perangkat tersebut diberi deskripsi dalam bahasa Arab yang mudah dimengerti. Hal ini al Jazari niatkan agar si pembaca mampu membangun perangkat rancangannya dengan mudah. Perangkatnya pun merentang dalam jenis dan fungsi yang luas.

Baca Juga:  Karomah Habib Sholeh bin Muchsin Al-Hamid Laksana Matahari di Siang Hari

Pompa Air

Melansir laman Okezone.com salah satu penemuan canggih Ismail al Jazari yang masih sangat relevan sampai saat ini adlah pompa air yang digunakan untuk mendistribusikan air ke rumah dan pertanian warga.

Di mesin yang ia namai Saqiya, penggunaan poros engkol adalah yang pertama kalinya diciptakan. Fungsinya untuk memaksimalkan kerja mesin dalam mengangkut air di bawah sumur.

Metode yang digunakan Jazari adalah memanfaatkan hydropower dan bantuan elephant clocks (alat pengatur waktu). Alat tersebut nantinya akan bekerja sesuai dengan jumlah jam yang telah disesuaikan.

Secara rinci, alat ini beroperasi dengan bantuan sinar matahari. Ketika matahari terbit, permukaan berwarna hitam di atas jam akan bereaksi dengan menggunakan model juru tulis (scribes pen).

Selain itu, pergerakan jam juga diatur oleh perforated floating bowel, atau sebuah mekanisme yang dibuat dengan hati-hati dan diletakkan di dalam tangki pompa yang dia sebut elephant’s body. Kombinasi mekanisme inilah yang kemudian menciptakan metode katrol atau otomatisasi.

Bagi banyak ilmuwan sesudahnya, penemuan Ismail al Jazari menawarkan banyak intruksi dan inspirasi dalam teknik mesin yang tidak pernah ditemukan sebelumnya.

Donald R. Hill mengatakan, “Dampak dari penemuan ini dapat dilihat dalam perancangan mesin uap dan mesin pembakaran internal. Penemuan Jazari membuka jalan untuk mengontrol otomatis mesin-mesin modern lainnya. Bahkan masih relevan digunakan dalam teknik mesin modern kontemporer”.

Perkembangan Robot Pasca Ismail Al-Jazari

Sebagaimana yang disampaikan Donald R. Hill, penemuan pompa air Jazari dikemudian hari menginspirasi dan membantu perkembangan mesin modern kontemporer, khususnya di bidang robotika.

Saat itu, kata robot sendiri sebenarnya masih terbilang baru dalam dunia Barat (bahasa Inggris). Menurut Howard Markel, ilmuwan sains Amerika, asal usul dunia robotika justru dapat ditelusuri kembali lewat tulisan Karel Capek, seorang penulis naskah terkenal asal Republik Ceko.

Baca Juga:  Biografi Syaikh Ja’far al-Barzanji, Pengarang Maulid al-Barzanji

Karyanya yang berjudul ‘Rossum’s Universal Robots’ (1921), berhasil memunculkan perspektif baru di bisang robotika. Meski demikian, Capek ternyata tidak menciptakan istilah tersebut. Asal usul kata robot diduga berasal dari bahasa Slavonic yakni Rabota, yang berarti perbudakan atau kerja paksa.

Lantas apa kaitan semua informasi ini dengan penemuan Ismail Al-Jazari?

Penemua metode katrol atau otomatisasi pada pompa air milik Jazari, serta evolusi rabota Slavonic diklaim menjadi dua elemen penting dalam perkembangan robotika modern saat ini.

Sayangnya, hingga kini, dunia tidak pernah memberikan penghargaan khusus kepada Ismail al Jazari. Hal ini karena bidang robotika dianggap sebagai ilmu modern yang hanya ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan di zaman sekarang.

Demi mengubah mindset tersebut dan mengenang jasa al Jazari, pada tahun 2019 lalu, diselenggarakan sebuah pameran khusus oleh Museum Jazari di Istanbul, Turki.

Pameran bertajuk ‘The Extraordinary Machines of Jazari Exhibition’ ini memang sengaja digelar sebagai penghormatan atas jasa para ilmuwan muslim.

Bagi Turki sebagai tuan rumah, pameran tersebut sangat penting guna menghidupkan kembali karya Ismail al-Jazari agar inspirasi kepada ilmuwan-ilmuwan muda selanjutnya.

Selama pameran berlangsung, ada beberapa karya Jazari yang ditampilkan, termasuk water clock, pengangkat empat ember air, jam gajah (elephant clock) yang sangat ikonik, dan karya-karya lainnya.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik