Surah Al-Qashash Ayat 21-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Qashash Ayat 21-24

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Qashash Ayat 21-24 ini, dijelaskan bahwa pada akhirnya sampailah Musa ke sebuah sumber mata air di kota Madyan. Dilihatnya di sana orang-orang sedang ramai berdesak-desakan mengambil air dan memberi minum binatang ternak mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashash Ayat 21-24

Surah Al-Qashash Ayat 21
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينٌَ

Terjemahan: Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Tafsir Jalalain: فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ (Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir) apakah dirinya akan dapat dikejar oleh orang-orang yang mencarinya atau pertolongan Allah datang menyelamatkan dirinya? قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (dia berdoa, “Ya Rabbku! Selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”) yaitu, kaum Firaun.

Tafsir Ibnu Katsir: Tatkala laki-laki itu telah mengabarkan kepadanya tentang perundingan Fir’aun dan para pembesar negerinya berkenaan dengan perkaranya, maka ia keluar dari Mesir seorang diri, dan sebelumnya tidak tertarik untuk itu, bahkan ia berada dalam ia berada dalam kemenangan, kenikmatan dan sanjungan.

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ (“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu.”) yaitu menengok ke kanan dan ke kiri.
قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (“Dia berdoa: ‘Ya Rabbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang dhalim itu.”) yaitu Fir’aun dan para pembesarnya. Mereka telah menceritakan bahwa Allah telah mengutus kepadanya satu malaikat berkuda untuk menunjukkan jalannya. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Mendengar nasihat yang dikemukakan oleh orang itu dan melihat sikapnya yang menampakkan kejujuran dan keikhlasan, dengan segera Musa berangkat dalam keadaan selalu waspada, karena di belakangnya beberapa orang tentara Fir?aun telah siap-siap untuk mengepung dan menangkapnya. Alangkah beratnya tekanan yang diderita Musa.

Walaupun demikian, ia tetap berusaha menyelamatkan dirinya dan berdoa kepada Allah, ?Hai Tuhanku Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bebaskanlah aku dari cengkeraman kaum Fir?aun yang aniaya. Allah mengabulkan doanya dan menunjukkannya jalan menuju Madyan.

Menurut riwayat, Fir?aun memerintahkan kepada tentaranya supaya mengejar Musa sampai ke jalan-jalan kecil dan melarang mereka melalui jalan raya karena ia yakin bahwa Musa tidak mungkin akan menempuh jalan itu.

Tafsir Quraish Shihab: Musa meninggalkan kota itu dengan penuh ketakutan, khawatir kalau-kalau musuh menghadang dan menyakiti dirinya. Musa berlalu sambil memohon kepada Allah agar menyelamatkan dirinya dari kezaliman orang-orang kafir.

Surah Al-Qashash Ayat 22
وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ

Terjemahan: Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”.

Tafsir Jalalain: وَلَمَّا تَوَجَّهَ (Dan tatkala ia menghadap) yakni menuju تِلْقَاءَ مَدْيَنَ (ke jurusan negeri Madyan) ke arahnya. Madyan adalah nama kota tempat nabi Syuaib, yang jauhnya kira-kira delapan hari perjalanan dari kota Mesir. Kota tersebut dinamai dengan nama pendirinya yaitu Madyan ibnu Ibrahim, sedangkan Nabi Musa belum mengetahui jalan menuju ke arahnya.

قَالَ عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ (ia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”) maksudnya, jalan yang menuju ke arah negeri Madyan yang tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat, yakni pertengahan. Allah mengutus malaikat yang membawa tongkat, lalu malaikat itu memimpin Nabi Musa menuju ke negeri Madyan.

Tafsir Ibnu katsir: وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ (“Tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan”) yaitu menempuh suatu jalan yang datar dan terang, ia pun tampak gembira. قَالَ عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ (“Ia berdoa: ‘Mudah-mudahan Rabbku membimbingku ke jalan yang benar.”) yaitu jalan yang lurus. Maka Allah mengabulkannya dan membimbingnya ke jalan yang lurus di dunia dan di akhirat, sehingga Allah menjadikannya sebagai pembimbing yang mendapat bimbingan.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 44-47; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Setelah Musa mengetahui bahwa jalan yang ditempuhnya itu adalah jalan yang biasa dilalui orang menuju ke Madyan, ia yakin bahwa ia tidak akan tersesat menempuh padang pasir yang luas itu. Apalagi ia telah berdoa kepada Tuhannya agar selalu ditunjuki ke jalan yang lurus. Akan tetapi, walaupun jalan yang ditempuhnya itu adalah jalan raya yang biasa dilalui orang, namun jarak yang harus ditempuhnya sangat jauh sekali, sedangkan dia tidak membawa bekal karena ia tergesa-gesa meninggalkan kota Mesir.

Diriwayatkan bahwa Musa berjalan selama delapan hari delapan malam, tanpa makanan dan dengan kaki telanjang. Tak ada yang bisa dimakan kecuali daun-daun kayu. Namun demikian, hatinya tetap tabah dan semangatnya tetap membaja karena ia luput dari kejaran Fir’aun.

Dia telah selamat dari jebakan Fir’aun di waktu kecilnya, padahal banyak bayi laki-laki dari Bani Israil mati dibunuh, dan sekarang ia telah bebas dari kejaran Fir’aun di waktu ia sudah dewasa. Semua itu adalah karena rahmat dan lindungan Allah. Oleh karena itu, ia yakin dalam perjalanan yang jauh dan sulit itu, ia akan tetap berada dalam lindungan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Ketika Musa mengarahkan kakinya menuju Madyan, kampung halaman Nabi Syu’ayb–sebuah negeri yang aman dan damai–Musa memohon kepada Allah agar menunjukkan kepadanya jalan kebaikan dan keselamatan.

Surah Al-Qashash Ayat 23
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

Terjemahan: Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.

Tafsir Jalalain: وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ (Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan) yaitu, sebuah sumur yang ada di negeri Madyan, makna yang dimaksud ialah dia telah sampai ke negeri Madyan وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً (ia menjumpai di tempat itu sekumpulan) sekelompok مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ (orang-orang yang sedang memberi minum) ternaknya وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ (dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu) selain mereka امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ (dua orang wanita yang sedang menahan ternaknya) maksudnya mencegah ternaknya supaya jangan merebut bagian air minum ternak orang lain.

قَالَ (Musa berkata) kepada kedua wanita itu, مَا خَطْبُكُمَا (“Apakah gerangan yang terjadi pada kalian berdua?”) maksudnya, mengapa kalian berdua tidak meminumkan ternak kalian berdua? قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ (Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkannya sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternaknya).

Lafal Ar Ri’a bentuk jamak dari Ra’in artinya penggembala. Maksudnya, sebelum mereka selesai dari meminumkan ternaknya, karena keduanya takut berdesak-desakan; setelah mereka bubar, baru meminumkan ternaknya.

Menurut qiraat yang lain dibaca Yushdira yang berasal dari Fi’il Ruba’i yakni Ashdara, maknanya ialah, sebelum mereka membubarkan ternaknya dari sumur itu وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (sedangkan bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”) maksudnya, tidak mampu lagi untuk meminumkan ternaknya.

Tafsir Ibnu katsir: وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ (“dan tatkala ia sampai di sumber air negeri madyan”) yaitu ketika ia telah sampai di negeri Madyan dan mengunjungi sumber air di sana, dimana terdapat sebuah sumur yang dipadati oleh para penggembala kambing.

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 4-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ (“Ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya.”) yaitu sekumpulan orang yang sedang memberi minum binatangnya.

وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ (“dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu dua orang wanita yang sedang menghambat.”) yaitu menghambat kambing-kambing keduanya agar tidak bergabung dengan kambing-kambing gembala lain, agar keduanya tidak diganggu.

Ketika Musa melihat keduanya, ia pun merasa kasihan dan menyayangi keduanya. qaala khath-bukumaa (“Musa berkata: ‘Apakah maksudmu [dengan berbuat begitu]?’”) yaitu apa maksud kalian berdua tidak bergabung dengan mereka ?

قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ (“Kedua wanita itu menjawab: ‘Kami tidak dapat meminumkan [ternak kami], sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternaknya.”) yaitu kami tidak mampu mendapatkan minuman itu kecuali setelah mereka selesai.

وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (“Sedangkan bapak kami adalah orang tua yang sudah lanjut umurnya.”) yaitu inilah kondisi yang membawa kami pada apa yang engkau lihat. Allah Ta’ala berfirman: fasaqaa laHumaa (“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk keduanya”)

Abu Bakar Ibnu Syaibah berkata dari ‘Umar bin al-Khaththab ra. bahwa Musa ketika sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai sekelompok manusia yang sedang meminumkan ternaknya. Dia berkata:

“Ketika mereka telah selesai, mereka hendak mengembalikan batu besar (penutup sumur) itu ke sumur dan tidak ada yang mampu mengangkatnya kecuali 10 orang laki-laki. Tiba-tiba dia melihat dua orang wanita yang sedang menghambat binatang ternaknya. Musa berkata: ‘Apa maksudmu?’ lalu keduanya bercerita. Maka Musa mendatangi batu itu dan mengangkatnya, kemudian dia tidak mampu memberikan minum kecuali satu ember saja hingga kambing-kambing itu tampak kenyang.” (isnadnya shahih)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini dijelaskan bahwa pada akhirnya sampailah Musa ke sebuah sumber mata air di kota Madyan. Dilihatnya di sana orang-orang sedang ramai berdesak-desakan mengambil air dan memberi minum binatang ternak mereka. Di tempat yang agak rendah, tampak olehnya dua orang gadis memegang dan menahan tali kambingnya yang selalu hendak maju ke arah orang-orang yang mengambil air karena sudah sangat haus. Melihat hal itu, timbullah rasa kasihan dalam hati Musa, lalu ia dekati kedua gadis itu hendak menanyakan mengapa tidak ikut bersama orang banyak mengambil air dan memberi minum kambing mereka. Keduanya menjawab,

“Kami tidak dapat mengambil air kecuali orang-orang itu semuanya telah selesai mengambilnya, karena kami tidak kuat berebut dan berdesak-desakan dengan orang banyak. Bapak kami sudah sangat tua, sehingga tidak sanggup datang ke mari untuk mengambil air. Itulah sebabnya kami terpaksa menunggu orang-orang itu pergi dan kami hanya dapat mengambil air, jika ada sisa-sisa air yang ditinggalkan mereka.”.

Tafsir Quraish Shihab: Ketika sampai pada sumber mata air penduduk Madyan, Musa mendapati banyak sekali rombongan dari bermacam-macam golongan manusia tengah memberi minum ternak mereka.
Agak rendah dari tempat mereka itu, Musa melihat dua orang wanita menggiring kambing gembalaannya bergerak menjauhi sumber air.
Kepada kedua wanita itu, Musa bertanya,

“Mengapa kalian berdua malah menjauhi sumber air ini?”
Mereka menjawab, “Kami tidak bisa berdesak-desakan. Kami akan menunggu para pengembala itu selesai memberi minum piaraan mereka.
Ayah kami sudah tua renta tidak mampu lagi menggembalakan dan memberi minum ternak kami.”

Surah Al-Qashash Ayat 24
فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Baca Juga:  Lagu yang Diperbolehkan dalam Membaca Al Quran

Terjemahan: Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

Tafsir Jalalain: فَسَقَى لَهُمَاثُ (Maka Musa memberi minum ternak itu untuk menolong keduanya) dari air sumur lain yang berada di dekat sumur itu, kemudian Nabi Musa mengangkat batu besar yang menutupinya, konon batu itu hanya dapat diangkat oleh sepuluh orang yang kuat ثُمَّ تَوَلَّى (kemudian ia kembali) setelah itu Musa kembali lagi إِلَى الظِّلِّ (ke tempat yang teduh) di bawah pohon Samurah, karena pada saat itu hari sangat panas dan ia dalam keadaan lapar.ف

َقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ َ (lalu berdoa, “Ya Rabbku! Sesungguhnya aku terhadap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku) yang dimaksud adalah makanan فَقِيرٌ (sangat memerlukan.”) sangat membutuhkannya. Lalu kedua wanita itu kembali ke rumah bapak mereka, kejadian ini membuat bapaknya terkejut, karena mereka berdua kembali lebih cepat dari biasanya. Maka bapaknya menanyakan tentang hal tersebut.

Lalu diceritakan kepadanya tentang seorang lelaki yang telah menolongnya memberi minum ternaknya. Bapak mereka bertanya kepada salah seorang dari keduanya, “Coba panggillah dia untuk menghadap kepadaku”. Lalu Allah berfirman,.

Tafsir Ibnu katsir: Firman Allah: فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (“Kemudian dia kembali ke tempat yang teduh, lalu berdoa: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.’”)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Musa berjalan dari Mesir ke negeri Madyan tanpa bekal makanan, kecuali sayuran dan daun-daun pohon. Dia berjalan tanpa alas kaki karena ketika ia sampai di kota Madyan telah rusak dua sandalnya dan ia duduk di bayang-bayang keteduhan.

Dia adalah makhluk pilihan Allah, perutnya melekat ke pinggang karena lapar. Dan hijaunya sayuran tidak berguna bagi perutnya dan ia membutuhkan makanan (kurma).

Firman-Nya: إِلَى الظِّلِّ (“k tempat yang teduh”) Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud dan as-Suddi berkata: “Dia duduk di bawah pohon.” wallaaHu a’lam.
As-Suddi berkata: “Pohon itu adalah dari jenis pohon samar.” ‘Atha bin as-Sa-ib berkata: “Ketika Musa berdoa: رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.’) terdengarlah oleh wanita itu.

Tafsir Kemenag: Dengan cepat Musa mengambil air untuk kedua gadis itu agar memberi minum kambing mereka. Karena kelelahan, ia berlindung di bawah sebatang pohon sambil merasakan lapar dan haus karena sudah beberapa hari tidak makan kecuali daun-daunan. Musa berdoa kepada Allah karena ia sangat membutuhkan rahmat dan kasih sayang-Nya, untuk melenyapkan penderitaan yang dialaminya.

Tafsir Quraish Shihab: Musa dengan sukarela membantu kedua wanita untuk mengambil air. Kemudian Musa bersandar pada sebatang pohon untuk melepas lelah. Dengan penuh kerendahan hati, Musa berdoa,
“Ya Tuhan, aku sangat membutuhkan rezeki dan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Al-Qashash Ayat 21-24 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S