Inilah Bukti-Bukti Keagungan Rasulullah SAW, Mulai dari Nama Hingga Kedudukannya

Inilah Bukti-Bukti Keagungan Rasulullah SAW, Mulai dari Nama Hingga Kedudukannya

PeciHitam.org Rasulullah SAW adalah makhluk tersempurna yang diciptakan Allah SWT dan didudukkan pada kedudukan yang tinggi. Karena keagungan rasulullah, beliau diriwayatkan tidak memiliki cacat baik fisik maupun non-fisik. Akhlak beliau digambarkan seperti Akhlak Al-Qur’an, yang mana setiap gerak langkahnya menjadi standar kebenaran.

Keagungan Rasulullah SAW bisa dikupas dari berbagai segi, mulai dari dimensi sosial, dimensi individual dan dimensi ukhrawiyah. Berbagai dimensi kesempurnaan Nabi banyak diceritakan oleh Ulama yang  sering menyematkan manusia kamil mukammil.

Pujian Allah terhadap Nabi Muhammad SAW banyak terekam dalam ayat Al-Qur’an, bahkan Rasulullah SAW sering menyifati dirinya dibandingkan manusia lainnya. Berikut penjelasannya!

Nasab Rasulullah SAW, Jelas dan Suci

Nasab Rasululllah SAW dalam literasi sejarah sangat jelas dan rinci, menunjukan bahwa Nasab beliau terjaga. Dalam kitab al-Barzanji dengan jelas disebutkan bahwa nasab Rasulullah suci sejak dari Nabi Adam sampai Sayyid Abdullah, ayah Nabi.

Semua lelulur nabi menjalani pernikahan sah, dan tidak ada lelulur Nabi SAW yang melakukan zina. Mereka semua adalah orang-orang pilihan yang tidak bermaksiat kepada Allah SWT. Nasab Nabi terdekat dari adalah Nabi Ibrahim AS dari istri kedua beliau yaitu Hajar RA seorang wanita keturunan Mesir.

Keterangan tentang nasab Nabi SAW diterangkan oleh Imam Ibnu Hisyam menulis nasab/ Nenek Moyang Rasulullah Muhammad SAW sebagai berikut:

هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ) وَاسْمُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: شَيْبَةَ) بن هَاشِم (وَاسْمُ هَاشِمِ عُمَرُو) بن عَبْدِ مَنَافِ (وَاسْمُ عَبْدِ مَنَافِ المغِيْرَةُ) بن قُصَيّ بن كِلَابِ بن مُرَّةَ بن كَعْبِ بن لُؤَيِّ بن غَالِبِ بْن فِهْرِ بن مالِكِ بن  النَّضْرِ بن كِنَانَةَ بنِ خُزَيْمَةَ بن مُدْرِكَةَ (واسمُ مُدْرِكَةَ: عَامِرِ) بن إِلْيَاس بن مُضَر بن نِزَار بن مَعَدِّ بن عَدْنَانَ بن أُدَدَ بن مُقَوِّمِ بن نَاحُوْر بن تَيْرَح بن يَعْرُبَ بن يَشْجُبَ بن نَابَت بن إِسْمَاعِيْلَ بن إِبْرَاهِيْمَ عليه السلام

Baca Juga:  Sultan Hamid II, Perancang Lambang Negara Indonesia

“Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib (nama asli Abdul Muttalib adalah Syaibah) bin Hasyim (dan nama asli Hasyim adalah Umar) bin Abdu Manaf (nama asli Abdu Manaf adalah Mughirah) bin Qusayy bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadlr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama asli Mudrikah adalah ‘Amr) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘Adnan bin Uddad bin Muqawwim bin Nahur bin Tayrah bin Ya’ruba bin Yasyjuba bin Nabat bin Ismail bin Ibrahim AS”

Nasab Nabi Muhammad SAW tidak berhenti sampai Ibrahim AS. Akan tetapi terkonfirmasi berurutan dari Ibrahim AS ke atas sampai Adam AS. Dalam sebuah Hadits yang menunjukan keluhuran Nasab Nabi SAW, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Sufyan ketika ditanya oleh Kaisar Heraklius;

ثم كان أول ما سألني عنه أن قال : كيف نسبه فيكم، قلت: هو فينا ذو نسب

(Abu Sufyan bercerita ketika bertemu dengan Heraklius), bahwa Heraklius bertanya pertama kali kepada Abu Sufyan tentang beliau (Nabi Muhammad SAW). ‘Bagaimana kedudukan Nasabnya dimasyarakat (Quraish)? Dan Abu Sufyan menjawab, ‘Dia adalah orang yang sangat tinggi Nasabnya dan keturunan Bangsawan’ (HR. Bukhari)

Nasab Rasulullah SAW adalah Nasab yang sangat terjaga mulai dari Nabi Adam AS sampai Sayyid Abdullah RA. Keterjagaan Nasab ini sebagai bukti Keagungan Rasulullah SAW dan untuk menutup kemungkinan cacat manusia mulia tersebut.

Nama, Simbol Kemuliaan

Keagungan Rasulullah SAW tergambar pula dalam nama-nama beliau yang sangat banyak. Julukan nama yang banyak menunjukan bahwa sifat mulia yang diwakili juga banyak. Karena biasanya orang memiliki asma laqab atau nama panggilan sesuai dengan sifat, kebiasaaan dan kedudukannya.

Dalam hadits riwayat Imam Muslim dijelaskan banyak Nama Rasulullah SAW sebagai perwakilan dari sifat dan kedudukan beliau;

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (إِنَّ لِي أَسْمَاءً أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ

Baca Juga:  Sekilas Tentang Anregurutta Abunawas Bintang, Ulama Bugis Sulawesi Selatan

Artinya; Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku mempunyai beberapa nama (yang Mulia) antara lain;

  1. Aku bernama Muhammad yang bermakna (Yang Terpuji). Sifat yang dimiliki Muhammad SAW sangat terpuji karena keluhuran sifat dan kemuliaanya.
  2. Aku bernama Ahmad (orang Yang Lebih Terpuji)
  3. Aku bernama Al-Mahi (penumpas), yang bermakna Allah SWT menghapus kekufuran dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW
  4. Aku bernama Al-Hasyir (pengumpul) yang bermaksud Allah SWT mengumpulkan manusia mengikuti langkah Muhammad SAW. Sangat dimaklumi, pengikut beliau sangat banyak yang kemudian dikenal dengan Sahabat Rasulullah SAW.
  5. Aku bernama Al ‘Aqib (penutup) maksudnya Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir, tidak ada Nabi setelah beliau.

Mengomentari hadits di atas, Imam Nawawi RA memberikan pandangan tentang jumlah nama Nabi yang  sangat banya. Beliau berkata;

واعلم أن كثرة الأسماء تدل على عظم المسمى ، كما في أسماء الله – تعالى -، وأسماء رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، ولا نعلم بلدا أكثر أسماءً من مـكــــّـــة المكرّمـــــــة ، والمدينة المنوّرة، لكونهما أفضل الأرض، وذلك لكثرة الصفات المقتضية للتسمية

‘banyaknya nama (yang dimiliki Nabi SAW) menunjukan keagungan Rasulullah SAW dan keagungannya. Sama halnya dengan banyaknya Nama Allah SWT (ada 99 Nama) yang menunjukan Kesempurnaan DzatNya. Sama halnya dengan Nama Nabi SAW yang  sangat banyak menunjukan kesempurnaan Sifat Nabi sebagai Manusia. (Imam Nawawi) tidak mengetahui nama Negara yang banyak memiliki Julukan selain Makkah dan Madinah, karena banyaknya keutamaan berkorelasi dengan penamaan.

Kekhususan Kedudukan Rasulullah SAW

Kedudukan Nabi yang bersifat ukhrawi sangat besar bahkan dibandingkan dengan Nabi sebelum beliau. Beliau memiliki hak Syafa’at Udzma yang selalu menjadi tambatan Umat Islam seluruhnya. Hak istimewa ini tidak dimiliki oleh Nabi sekelas Ibrahim AS, Nabi Musa AS atau Nabi Ulul Azmi lainnya.

Baca Juga:  Biografi Singkat Habib Ali al Habsyi Pengarang Maulid Simthud Duror

Kekhususan kedudukan Rasul SAW yang  bersifat ukhrawi dijelaskan dalam Hadits Riwayat Imam Bukhari RA sebagai berikut;

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Riwayat ini berasal dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakan, ‘Aku diberi keistimewaan yang tidak Allah SWT berikan kepada Nabi sebelum saya. Keagungannya adalah;

  1. Keagungan Rasulullah SAW yang pertama adalah kegentaran musuh Nabi bahkan sebulan sebelum kedatangan Nabi SAW.
  2. Keagungan kedua bagi Nabi SAW adalah Bumi atau tanah yang pernah beliau injak dijadikan sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci.
  3. Harta Rampasan perang atau Ghonimah dihalalkan untuk dimakan oleh Nabi SAW. Hal ini tidak terjadi pada Nabi sebelum Muhammad SAW.
  4. Keagungan Rasulullah SAW yang keempat adalah beliau diberi hak syafa’at untuk menolong Umat Beliau oleh Allah Maka tidak ada keraguan dalam Islam untuk meminta Rasulullah SAW memberi syafaat kepada Umat Islam.
  5. Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Rahmatan Lil ‘Alamin, yakni diutus keseluruh umat manusia. Tidak seperti Nabi sebelumnya yang lingkup dakwahnya terbatas pada sebuah kaum/ Negara tertentu.

Keagungan Rasulullah SAW di atas menjadi gambaran tentang kesempurnaan dan kedudukan yang tinggi. Umat  Islam tidak salah menjadikan Nabi SAW sebagai panutan dan uswah hasanah.

Ash-shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG