Jihad Melawan Religious Hate Speech (Ungkapan Kebencian dalam Beragama)

Religious Hate Speech

Pecihitam.org – Bangsa Indonesia dikenal memiliki agama yang beragam, dari itu mendapatkan tantangan luar biasa yang dikenal dengan istilah Religious Hate Speech. Konsep tersebut di sajikan pada buku Anregurutta Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hate speech berarti ungkapan kebencian. Ungkapan yang menyerang seseorang atau kelompok berdasarkan ras, agama, gender atau orientasi seksual. Sedangkan religious hate speech adalah ungkapan kebencian berlatar belakang agama, kepercayaan, aliran, mazhab, sekte dan atribut keagamaan lainnya.  

Religious hate speech merupakan ancaman serius dan tidak boleh di remehkan sebagai anak bangsa yang tinggal di negara yang sangat besar ini. Di Nusantara ini dihuni oleh beragam agama, bahasa warna kulit dan budaya.

Penganut agama yang loyal dengan ideologinya masing-masing. Tetapi dilain sisi kondisi tersebut menjadi potensi tersendiri bagi bangsa Indonesia, memungkinkan terjadi konflik jika penganut agama itu terdapat kesalahan dalam mengelola loyalitas terhadap agamanya. Seperti beredarnya pemahaman, konten-konten religious hate speech dianggap perintah agama akhirnya mengancam keutuhan NKRI.

Jika menatap sejarah masa lalu, Al-Qur’an menyampaikan pelajaran yang sangat berharga tentang bahayanya menyebar kebencian, seperti kisah Raja Fir’aun yang hancur setelah melancarkan ujaran kebencian (hate speech) terhadap Nabi Musa.

Baca Juga:  Nilai-nilai Keadilan Sosial dalam Al-Qur’an

Sebagai anak bangsa, perlu untuk berhati-hati mengucapkan kata-kata, terutama jika hal itu menyangkut tentang keberagamaan seseorang. Penganut agama khususnya Islam, selalu diingatkan di dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 8:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 

Terjemahnya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Perlu di garis bawahi, bahwa jangan karena faktor kebencian terhadap suatu kaum, mendorong seseorang untuk berlau tidak adil, saling bermusuhan, saling membenci, serta menebarkan religious hate speech.

Menjadi adil berarti memulai dari diri sendiri untuk memahami duduk persoalan yang terjadi barulah menebarkan informasi yang saling membangun produktifitas pemahaman dimanapun berada. Pada ayat lain di surah Al-Hujurat ayat 12 bahwa:

Baca Juga:  Ini Tanggapan Atas Tuduhan Syiah Terhadap Prof Quraish Shihab

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ 

Terjemahnya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Orang beriman diminta secara tegas untuk menjauhi prasangka negatif, curiga, mencari-cari keburukan orang lain, menggunjing, dan saling menyalahkan. Hal itu mengingatkan kepada seluruh umat muslim khususnya.

Bahwa sia-sia petunjuk positif di dalam Al-Qur’an jika hanya sebatas konsep sempurna, tetapi tidak di implementasikan pada kehidupan sehari-hari. Dari itu hindarilah hate speech, jauhilah religous hate speech, mari bersama-sama mendalami Al-Qur’an.

Baca Juga:  Persiapan New Normal dan Plus Minusnya Bagi Pondok Pesantren

Anregurutta Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta dalam setiap gagasan-gasaannya, seperti dalam ceramahnya dan buku-bukunya bertujuan untuk mengajak seluruh lapisan bangsa agar membumikan ajaran-ajaran agama yang ramah berprinsip rahmatan lil alamin.

Masyarakat rahmatan lil alamin-lah yang mengokohkan persatuan dan kesatuan umat multireligion, multikultural, multietnis, dan multi segalanya. Mari bersama-sama menjaga Agama dan Bangsa ini, agar kelangsungan hidup berpositif thingking dan positif speech tertuangkan pada lini kehidupan masing-masing.

Ust. Muhammad Asriady