Hati-hati! Inilah 3 Perkara Negatif yang Sering Terjadi Setelah Menikah

Perkara Negatif yang Terjadi Setelah Menikah

Pecihitam.org – Dalam Islam, salah satu perkara sunnah yang sangat dianjurkan adalah menikah. Karena dengan menikah seseorang akan terhindar dari zina dan dapat menyalurkan syahwatnya sesuai aturan syariat kepada pasangannya yang halal.

Meski demikian mengenai keutamaan menikah ini ternyata para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa menikah lebih baik dari pada menyendiri hanya untuk beribadah kepada Allah.

Sebagian ulama lain mengakui bahwa menikah lebih utama, namun mereka lebih mengedepankan menyendiri untuk beribadah kepada Allah selama tidak ada kemungkinan akan timbulnya keinginan untuk melakukan hal-hal maksiat.

Mengenai keutamaan nikah Allah memuji para nabi dan rasul dalam firman-Nya QS. Ar-Rad: 38:

ولقد أرسلنا رسلا من قبلك وجعلنا لهم أزواجا وذرية

“Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan” (QS. Ar-Rad: 38)

Allah juga memuji para kekasih-Nya :

والذين يقولون ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami)”. (QS. Al-Furqan: 74)

Banyak keutamaan yang dapat dipetik dari sebuah maghligai pernikahan dan kehidupan berkeluarga, namun di sisi lain banyak punya hal-hal negatif yang timbul dari kehidupan berkeluarga.

Baca Juga:  Menikahi Dua Perempuan Bersaudara Sekaligus, Bagaimanakah Hukumnya?

Akan tetapi perlu diingat, hal-hal negatif ini masih lebih ringan, jika dibandingkan pada perbuatan zina. Salah satu perbuatan yang paling keji dan paling mencelakakan. Na’udzubillah min dzalik.

Itu sebabnya Ibunda Maryam binti Imran pernah berdoa:

وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Sesungguhnya aku memohonkan perlindungan kepada Engkau (ya Allah) bagi Maryam dan keturunannya dari syetan yang terkutuk”. (QS. Ali Imran: 36)

Adapun menurut Kitab Ihya’ Ulumiddin Karya Imam Al-Ghazali berikut adalah tiga dari hal-hal negatif yang bisa timbul dari kehidupan berkeluarga setelah menikah. Itu sebabnya kita wajib berhati-hati.

1. Ketidakmampuan Mendapatkan Harta yang Halal

Mencukupi kebutuhan, memberi makan dan benda-benda yang halal untuk keluarga adalah sesuatu yang wajib bagi seorang suami. Namun, ini ternyata bukan sesuatu perkara yang mudah.

Karena bagi sebagian orang ketika tuntutan ekonomi semakin mendesak sementara penghasilan tidak cukup, hal ini menjadi alasan untuk menerjang hal-hal yang diharamkan. Materi pun diburu tanpa memandang jalan, halal atau haram tidak menjadi persoalan.

Baca Juga:  Imam Nawawi Tidak Pernah Menikah, Bagaimana dengan Maksud Hadis "An-Nikahu Sunnati?

Disebukan bahwa seorang hamba diakhirat nanti terhenti di yaumul mizan (penimbangan amal). Ia mempunyai amal kebaikan sebesar dan setinggi gunung. Namun saat diminta pertanggungjawaban akan nafkah keluarganya ia tak mampu menjawab, hingga dosa tanggung jawab tersebut menenggelamkan semua amal baiknya.

Ini adalah hal negatif yang paling besar dan paling merata dialami oleh sebagian besar manusia. Sedikit yang mampu menyelamatkan diri kecuali orang yang mampu bersabar, berjuang untuk tetap bertanggungjawab terhadap keluarga dengan mencari rezeki yang halalan toyiban.

2. Lalai dari Tanggung Jawab

Suami adalah pemimpin keluarga, sekaligus pendidik istri dan anak-anak. Baik atau tidaknya akhlak isteri dan anak-anak berada di tangan suami. Namun mendidik mereka menuju kebaikan juga bukan sesuatu yang mudah.

Ada yang mengibaratkan bahwa melakukan ceramah di depan seorang isteri lebih sulit dari pada berceramah di hadapan sejuta orang. Banyak orang yang berprofesi sebagai guru sukses dalam mendidik muridnya, namun belum tentu sukses mendidik isteri dan anak-anaknya.

Hal negatif ini hampir dialami banyak keluarga. Yang mampu menghindarinya hanyalah orang-orang yang berilmu, berakhlak yang baik, sabar akan cercaan mulut isteri dan tidak selalu menuruti kemauan buruk istri dan anak-anaknya.

Baca Juga:  Tata Cara Shalat Duduk Dalam Beberapa Hadis Nabi

3. Setelah Berkeluarga Ibadahnya Terganggu

Karena setelah berkelurga seseorang akan berusaha memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya. Biasanya setiap hari waktu yang ada hanya terpikir bagaimana cara mendapatkan materi.

Jika ada waktu istirahat, waktu itu hanya digunakan dengan bercanda dengan istri dan anak-anak. Ibadahpun terbengkalai atau hanya diberi sedikit waktu.

Untuk perkara nomor tiga ini, ada sedikit solusi. Ketika ibadah yang lain (ibadah sunnah) sedikit tergeser dengan aktivitas untuk keluarga. Maka niatkanlah segala aktivitas demi keluarga tersebut seperti kewajiban mencari rezeki, mendidik istri dan anak dan lain sebagainya sebagai ibadah. Dengan demikian semuanya akan menjadi pahala.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG